Selamatkan Aku!

Selamatkan aku!

Aku menggila dalam deru rintik hujan yang kiranya lama baru henti. Kakiku menapak buta arah, menembus apapun yang bisa diinjak. Tanah basah. Lempung dingin. Pasir menggumpal. Genangan air keruh. Rumput yang berkeringat. Kutapaki semua tanpa tahu harus kemana aku berlari sekarang. Aku hanya ingin pergi jauh, jauh, jauh dari dinginnya tatapan mata tak kenal kasihan itu. Guratan cibir di bibirnya sungguh ingin kurobek, biar sumbing sekalian. Tapi aku tidak bisa. Dia terlalu angkuh dan aku terlalu lemah. Aku hanya bisa berlari menjauh, tenggelam dalam derasnya air mata langit.

Lebih banyak: Selamatkan Aku!

Kiamat?

Apakah hari ini adalah akhir dari semuanya? Tak ada yang tahu. Jutaan status Facebook mengusik-usik hal itu, tapi nyatanya mereka hanya bisa pasrah menunggu. Aku sendiri tidak menemukan alasan mengapa harus takut menghadapi masa akhir itu. Bukankah jika kita yakin akan perlindungan Tuhan artinya tak ada lagi yang perlu ditakutkan? Kita meminta perlindungan, tapi pada nyatanya Tuhan sudah memberikan perlindungan itu jauh sebelum kita memintanya. Ya, seperti itulah Dia.

Lebih banyak: Kiamat?

Lari Pagi

Ternyata mendung sudah muncul pagi ini. Namun, aku tetap harus melakukan rutinitasku, jogging bersama dua orang sahabat yang akhirnya terbiasa dengan kebiasaan sehat ini. Jika mengingat dulu ketika pertama kali mengajak mereka, rasanya berbeda sekali. Kali ini mereka sudah seperti memiliki gerakan otomatis di pagi hari, seperti bangun pagi, cuci muka, memakai pakaian olahraga dan sepatu, pemanasan, lalu mulai berlari. Mungkin ada motivasi yang tidak aku ketahui di balik itu semua.

Lebih banyak: Lari Pagi