Mimpi Buruk

Petir menggelegar. Aku membuka mata tiba-tiba. Keringat bercucuran. Nafas memburu. Aku melihat jam dinding dan mendapati waktu masih menunjukkan pukul satu dini hari. Langit di luar gelap karena malam dan hujan.  Aku ingat hujan ini sudah mengguyur sejak maghrib tadi. Ternyata belum berhenti sampai sekarang.

Lebih banyak: Mimpi Buruk

Iklan

Ojek Payung

“Payungnya, Bu! Payung!” suara anak-anak itu langsung terdengar begitu aku keluar dari pusat perbelanjaan. Ah, ya, tentu saja karena hari sedang hujan. Anak-anak ojek payung itu dengan sekuat tenaga mencari orang yang membutuhkan bantuan mereka, atau lebih tepatnya payung mereka. Tidak ada salahnya mereka muncul di sini. Pusat perbelanjaan ini memang hanya memiliki tempat parkir outdoor. Keberadaan mereka tentu sangat membantu.

Lebih banyak: Ojek Payung

Keluh

Apakah hujan adalah sebuah tangis? Pertanyaan itu pernah ia ajukan padaku. Saat itu. dia memang sedang sedih. Dia baru saja kehilangan seseorang yang sangat disayanginya. Keberadaanku di sisinya hanyalah sebagai penguat agar dia tetap berdiri. Lalu dia menanyakan itu, apakah hujan adalah sebuah tangis. Aku tidak menjawab, tapi tetap mendengarkan semua keluh kesahnya.

Lebih banyak: Keluh

Secangkir Coklat Panas

Hujan dan secangkir coklat panas adalah yang mengingatkanku saat pertama kali kita bertemu. Di dalam bilik kafe, ketika aku memutuskan untuk rehat sejenak sambil menunggu hujan reda. Kau sudah lebih dulu menikmati waktumu di salah satu pojok dekat jendela, sendiri. Kudengar kau memesan secangkir coklat panas dengan suaramu yang entah mengapa terasa tidak asing. Maka tak lama kemudian aku memesan menu yang sama.

Lebih banyak: Secangkir Coklat Panas