Fine! Begini Saja

Sosok itu, gadis dengan wajah paling menyiksa, mengunciku di sini. Tak bisa lagi berkelit, aku menerima pertemuan ini dengan rasa campur aduk. Taman indah, bangku kosong, sepi. Pas sekali dia menyeretku ke sini. Kami duduk berhadapan bersama perasaan yang bertabrakan tak karuan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Diary Daisy

Daisy(sumber gambar: di sini)

Gardenesia adalah sebuah dunia yang penuh dengan tanaman dan serangga. Begitu banyak jenis tanaman dan serangga yang hidup berdampingan dengan damai, penuh rasa persaudaraan, dan tolong menolong. Ada Bu Mawar yang suka berdandan dan membuat kue dengan ibu-ibu mawar tetangganya yang lain. Ada Pak Singkong yang suka menggali tanah untuk mencari makan. Ada juga Pak Kaktus yang selalu berdiri tegak dan waspada kalau ada penduduk yang kekurangan air. Ada Anak Lebah suka beterbangan dan bermain-main. Ada juga pemuda Kupu-Kupu yang suka membantu membawakan barang.

Baca lebih lanjut

Tania dan Hujan

“Kalau cerpen seperti ini, menurut teman-teman sudah pantas nggak sih untuk dibaca anak-anak? Terlalu biasa, atau terlalu membingungkan? Minta pendapatnya. Terima kasih” – Lambertus


Sudah beberapa hari ini hujan terus membasahi kota tempat Tania tinggal. Kadang pagi, saat Tania akan berangkat sekolah. Kadang siang, saat Tania mau pulang. Kadang sore, saat Tania mau main ke rumah teman. Kadang malam, waktu Tania mau tidur.

Untungnya got-got di kawasan perumahan Tania bersih dan lancar, sehingga hujan sederas dan selama apapun tidak menyebabkan banjir. Ini karena warga kompleks perumahan itu selalu membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan got saat ada kerja bakti.

Pagi ini, hujan turun lagi. Tania berdiri di teras depan sambil memandangi pekarangan rumahnya yang basah karena titik-titik hujan. Dia sudah mengenakan seragam sekolah lengkap, tas sudah di punggung, bekal makanan juga sudah siap. Tania hanya perlu berjalan untuk sampai ke sekolahnya.

Tania merengut. Dia tidak suka hujan. Hujan membuat suasana hati Tania menjadi tidak semangat. Pikir Tania, “Mama sudah repot-repot mencuci dan menggosok seragam Tania. Mengapa harus basah dan kotor gara-gara hujan?” Selain itu, ada hal lain lagi yang menjadi pikiran Tania, “Kalau nanti Tania sakit, bagaimana?”

“Tania,” panggil Mama Tania dari dalam rumah, “jas hujannya, Sayang!”

Mama Tania keluar sambil membawa jas hujan berwarna merah muda. Jas hujan itu dibelikan Papa Tania seminggu yang lalu, setelah seragam Tania kotor karena terciprat genangan air. Sebelumnya, Tania menggunakan payung.

“Ma, Tania tidak jadi berangkat sekolah ya,” ucap Tania tiba-tiba.

“Kenapa, Sayang?” Mama Tania tentu saja terkejut mendengarnya. Tidak seperti biasanya Tania seperti ini. Biasanya walaupun hujan, Tania tetap semangat berangkat sekolah. Meskipun wajahnya cemberut, Tania tetap ingin cepat-cepat sampai sekolah.

“Kenapa ada hujan sih, Ma?” Tania bertanya, seolah-olah hujan sudah mengubah dunianya menjadi sangat tidak menyenangkan. “Satu-satu teman Tania tidak masuk karena sakit. Leli, Chika, Anton. Mungkin hari ini mereka juga belum bisa masuk. Ada yang batuk, pilek, sakit panas.”

Sambil melihat hujan yang tak kunjung reda, Tania merasa kesepian jika harus berangkat sekolah hari ini. Sahabat-sahabatnya masih sakit, belum bisa menemani belajar bersama di kelas. Jadi, daripada kesepian di kelas, lebih baik di rumah saja.

“Lho, tapi Tania, kan tidak sakit. Tania juga mau sakit seperti teman-teman yang lain? Tidak, kan?”

Tania menggeleng. Dia pun menerima jas hujan di tangan mamanya. Papa Tania bilang jas hujan ini namanya jas hujan kelelawar karena lebar seperti sayap kelelawar.

“Beruntung Tania tidak gampang sakit. Jadi bisa terus sekolah dan menerima ilmu dari Bu Guru. Nanti Tania bisa bantu teman-teman yang sakit agar tidak ketinggalan pelajaran,” kata Mama Tania sambil membantu memakainkan jas hujan.

“Ma,” sahut Tania.

“Iya, Sayang?”

“Apa karena Tania tidak jajan sembarangan makanya masih sehat sampai sekarang?” tanya Tania sambil memandang mamanya tercinta. “Kan, Mama yang membuatkan bekal buat makan Tania di sekolah.”

Mama Tania tersenyum.

“Itu juga karena Tania selalu cuci tangan sebelum makan. Kalau di sekolah, Tania cuci tangan dulu, kan?”

“Iya!” jawab Tania riang sambil mengangguk mantap.

Tak lama kemudian Papa Tania juga keluar dari dalam, lengkap dengan jas hujan kelelawar seperti yang dipakai Tania. Hanya saja warnanya biru tua dan lebih besar.

“Mau diantar Papa atau berangkat sendiri hari ini?” tanya Papa Tania sambil memberikan senyum paling indah untuk Tania.

Tiba-tiba Tania mendengar suara yang tidak asing memanggilnya di depan. “Tania! Tania!”

“Chika!” seru Tania.

Di depan rumah Tania, tampak Chika juga memakai jas hujan. Warnanya hijau. Dan sepertinya, Chika sudah sembuh sekarang. Syukurlah!

“Pa, Ma, Tania berangkat dulu,” Tania pun berpamitan dengan kedua orang tuanya. “Ma, terima kasih bekalnya, ya. Pa, terima kasih jas hujannya, ya.”

Kedua orang tua Tania tersenyum senang melihat kebahagiaan yang kembali terpancar di wajah putrinya. Tania juga berpikir kalau tidak ada gunanya menyalahkan hujan. Jika tubuh sehat, semua akan baik-baik saja. Dan lagi, sahabat Tania sudah sembuh. Tania tidak lagi sendirian untuk berangkat sekolah hari ini.

Sarapan

Rio hari ini tidak sekolah karena memang sedang libur. Dia sedang menemani ibunya menyiapkan sarapan pagi. Saat itu hanya mereka berdua di meja makan, sementara ayah dan kakak Rio ada di kamarnya masing-masing.

Rio:
“Hari ini kita makan apa, Bu?”

Ibu:
“Buat Rio yang selalu kelaparan di pagi hari, ibu sudah menyiapkan sereal spesial dengan susu yang sehat.”

Rio:
“Yah, ibu. Sereal… kan sekarang Rio sedang libur. Jadi ibu tidak perlu buru-buru membuat sarapan. Apa saja boleh, asal jangan sereal ya, Bu.”

Ibu:
“Ibu memang berniat masak kok. Tapi karena setiap pagi Rio selalu yang pertama siap sedia di meja makan dan ibu tidak tega melihat anak ibu diam kelaparan, makanya sekarang ibu siapkan dulu serealnya.”

Rio:
“Jadi ibu mau masak apa?”

Ibu:
“Rio suka tempe goreng?”

Rio:
“Suka. Yang garing dan asin.”

Ibu:
“Suka telur dadar?”

Rio:
“Mau. Pinggirannya dibuat gosong ya, Bu.”

Ibu:
“Kalau sayur bayam sama jagung rebus, mau juga?”

Rio:
“Apa saja. Asal buatan ibu, Rio mau.”

Ibu:
<menggosok rambut Rio> “Kamu ini apa yang tidak suka, Rio? Semua dilahap.”

Silent Conversation

love2

Exl (cowok) dan Po (cewek) sedang tenggelam di dalam hatinya masing-masing. Mereka sedang terdiam merenungi apa yang sedang terjadi di antara mereka. Hanya dinding yang mengetahui percakapan mereka.

Po:
Aku tidak pernah dimengerti…

Exl:
Aku selalu salah…

Po:
Dia begitu tidak peka…

Exl:
Dia begitu rahasia…

Po:
Apalah artinya perhatian…

Exl:
Apalah artinya berterus terang…

P0:
<tiba-tiba berbicara> Mungkin sebaiknya kita tidak ketemuan dulu…

Exl:
Fine

sumber gambar: gambar

Stuck

termenungSeorang gadis duduk termenung di atas tasnya. Dia sedang berada di tengah perjalanan yang tak diinginkannya. Dia memandang ke arah laut.

Gadis:
Jadi begini akhirnya diriku… <menopang dagu> Aku tidak mau pergi dan aku malu untuk kembali.

Bunyi ombak berdebur dan angin laut mengisi ruang di sekitar gadis itu. Dia tertahan di sana bersama tasnya yang penuh dengan pakaian dan keperluan hidup.

Gadis:
Aku terjebak. Ya, Tuhan… apa yang harus aku lakukan?

Ceria Barak Pengungsian

Angga (jaket merah kanan) dan Ridwan (jekat merah kiri) adalah dua dari sekian banyak relawan bencana gunung Merapi. Mereka sedang bermain bersama anak-anak korban bencana ini. Ega (menendang bola) dan Danu (dijaga Ridwan) adalah dua anak di antaranya.

Danu:
“Ayo, Ega!”

Angga:
“Eit, anak kecil!”

Ega:
“Seruduk!” [menggiring bola ke arah Angga]

Ridwan:
[menahan bahu Danu]

Danu:
“Duh, Mas ini!”

Ridwan:
“Memangnya kita mau kalah? Jangan sampai lolos, Ngga!”

Danu:
“Jangan mau kalah, Ga!” [mendorong perut Ridwan]

Angga:
“Hahaha… aku kasih lewat, deh!”

Ega:
[melewati Angga]

Ridwan:
“Yah, ini orang!”

Ega:
[menendang bola]

Danu+Ega:
“Goooool!”