Dia Datang Lagi


Teman-temanku berkata, meskipun dengan nada bercanda, bahwa diriku yang sekarang sedikit berbeda dengan yang dulu. Katanya, aku lebih pendiam, lebih suka menyendiri, lebih suka melamun sendiri. Meskipun aku selalu mengikuti kemana pun mereka pergi, tapi bagi mereka ada sebagian diriku yang lain yang tidak berada di sini.

“Mana bisa?” tanyaku.

Andro, Denny, dan Hilman menjebakku dengan pernyataan itu. Tak kusadari sejak kapan mereka bertiga berada dalam formasi mengepungku. Andro tepat di depanku, sementara Denny dan Hilman juga tidak melepaskan perhatiannya dari samping.

“Kau belum pernah cerita, Rio,” ucap Andro lagi. “Sebelum ini kau sering menghilang. Jangan-jangan kamu diculik alien, ya?”

Kami pun tertawa bersama mendengar pernyataan Andro yang konyolnya menggelitik pikiranku. Namun, tawa kami langsung berhenti tatkala Denny menambahi, “Sungguh, di mana kamu selama ini, Rio?” Suaranya yang berat meredam keceriaan di sekitar kami.

Suasana kembali hening.

Kami berempat, entah sejak kapan begitu akrab dan sering keluar bersama. Kami tidak pernah saling menobatkan diri sebagai sahabat. Semua itu terjadi begitu saja seiring kebersamaan kami sejak masuk kuliah.

Baiklah, sedikit bercerita mengenai teman-temanku ini. Andro adalah yang paling dekat denganku. Dia sangat suka berbicara dan bercanda. Dia selalu dekat dengan siapa saja, termasuk aku. Andro itu selalu berusaha untuk nyambung dalam setiap percakapan. Oleh karenanya, tidak ada yang pernah menolaknya untuk turut dalam diskusi.

Denny, sedikit berkebalikan dengan Andro. Dia pendiam dan serius. Mungkin dia bukanlah orang yang paling pintar di sini, tapi kami pernah sepakat kalau dia adalah orang yang kami tuakan. Ya, sikap dan pemikirannya sangat dewasa. Andro pernah menanyainya, kenapa sangat senang jika berada di antara kami. Katanya, “Kalau lihat kalian, stresku hilang.”

Hilman adalah sumber ide dan inspirasi kami. Mungkin dia tidak pernah berusaha menonjol dalam setiap kelakuan tim kami, tapi setiap yang dia lakukan dan putuskan adalah yang terbaik bagi tim kami. Kami tidak tahu apa formulanya, seolah-olah dia melihat permasalahan dan tahu jawabannya dengan seketika.

Sementara aku, teman-teman memanggilku Rio, meskipun tak ada sedikit pun nama lengkapku mengandung kata “rio”. Ada yang pernah mengatakan kalau tidak ada aku, tim kami jadi sepi. Mungkin itu karena aku selalu menambahi candaan yang muncul. Aku memastikan keadaan tim kami selalu dalam situasi ceria, meskipun Andro saja sebenarnya sudah cukup melakukan hal itu.

“Ada yang ingin kau sampaikan, Rio?” tanya Hilman sambil mengintip wajahku yang tertunduk.

Aku membeku. Ada hal yang selama ini sengaja kubiarkan sebagai status rahasia. Aku adalah aku yang tetap membutuhkan ruang pribadi. Aku adalah orang yang tetap memerlukan space untuk hal-hal yang sifatnya privasi. Meskipun mereka bertiga sahabatku, tidak selamanya aku selalu memberitahukan keadaanku kepada mereka.

“Kau punya pacar!” tebak Andro tiba-tiba.

Apa?!

“Ah, benar sekali! Gelagatmu seperti orang yang takut pacarnya direbut,” Denny menambahi sambil menjitak kepalaku. Hilman tertawa. Suasana hening dalam sekejap pecah ditelan berbagai candaan tentangku yang sedang dimabuk cinta.

Aku hanya bisa tertawa dengan pasrah. Aku tidak mengiyakan, tapi juga tidak menyanggahnya. Aku hanya diam dan berpura-pura salah tingkah agar para sahabatku ini puas mengerjaiku.

“Kau ini, membuatku lapar saja! Ayo, makan!” seru Andro dengan semangatnya. Hilman langsung melompat mengikuti langkah Andro.

Ketika aku akan menuju ke arah yang sama, Denny segera menghentikanku.

“Ceritakan, Rio!” katanya. Selepas Andro dan Hilman, akhirnya tinggal aku dan Denny saja di kelas. “Kau sudah lama merahasiakan hal ini, kan? Aku tahu. Malahan, mungkin kau akan terkejut kalau aku tahu siapa pacarmu.”

Aku tertegun. Denny menekanku lagi.

“Aku juga punya pacar, Rio. Aku rahasiakan itu dari kalian semua. Jadi,” Denny mempersilahkanku untuk duduk lagi. “Ceritakanlah!”

Mungkin persahabatan yang terjalin di antara kami tidak cukup sehat. Ada banyak rahasia yang kami pendam, terutama masalah pacar. Aku, Denny, bahkan mungkin Andro dan Hilman juga menyembunyikan hal ini.

“Tidak ada,” kataku pada akhirnya. “Tidak ada yang harus kuceritakan, Denny.”

Mataku dan mata Denny beradu. Kami diam. Keseriusan khas wajah Denny pun berbicara, seolah-olah dia berusaha melihat diriku yang begitu dalam tersembunyi.

“Tidak, Denny!” batinku. “Hal ini tidak pantas untuk kuceritakan, termasuk kepadamu. Ini bukan pengalaman yang menyenangkan yang mungkin kau bayangkan. Biar hanya aku dan Tuhan yang tahu akan hal ini.”

Tanpa banyak bicara, Denny pun pergi. Meninggalkanku.

Bayanganku melompat pada sore hari yang begitu basah kemarin. Hujan lebat. Kegiatan kampus sudah selesai beberapa jam yang lalu. Andro, Denny, dan Hilman sudah pulang sejak siang karena aku ada keperluan sendiri dengan dosen pembimbingku.

Aku memandangi langit kelabu yang merata ke seluruh penjuru dan jarum-jarum air yang berjatuhan menghantam bumi. Pikiranku sedang  kosong. Kalau suasananya seperti ini, perasaanku selalu kembali tenggelam dalam perenungan-perenungan masa lalu. Rasa sedihku, penyesalanku, pertanyaanku yang tak terjawab, sejuta rasa penasaran, kebimbangan, hingga berbagai pertimbangan atas sebuah pilihan. Lalu sebuah wajah…

“Rio,” sebuah suara mengetuk pendengaranku, menembus bunyi hujan yang menderu-deru. Selagi wajah masa lalu itu hinggap di kepalaku, aku berbalik. Ternyata memang benar, dia yang memanggilku adalah wajah masa lalu itu.

Tiara, sebuah nama yang cantik untuk wajah masa lalu yang kelam. Begitu kelamnya hingga aku mengubur dalam-dalam semua kenangan yang pernah kulalui bersamanya. Waktu-waktu yang kucuri dari para sahabat hanya untuk bertemu dengannya, rasanya aku menyesal sudah melakukan hal itu.

“Rio, aku minta maaf,” katanya.

Aku diam dan hanya bisa melihat wajah Tiara yang penuh penyesalan.

“Semua kebodohanku… tidak melihat dirimu… semua yang kau lakukan…” Tiara sedang berusaha untuk menjelaskan sesuatu. Mungkin dia ingin menggambarkan betapa dirinya menyesal telah meninggalkanku.

Namun, aku masih diam. Aku berusaha mengubur kenangan itu. Aku sudah menggali lubang yang sangat besar dan dalam. Semua kenangan beraroma manis dan berwarna-warni itu sudah kuhempaskan ke dalamnya. Aku tinggal menutupinya dengan tanah. Sekop di tanganku. Aku tinggal mengubur semuanya, sedikit lagi.

“Aku masih mencintaimu, Rio!” tiba-tiba tangan Tiara menggenggam tanganku. Paru-paruku membeku. Dingin hujan menembus tiap pori di kulitku dan merasuk hingga berusaha menghentikan detak jantungku.

Gerakan menguburku terhenti. Aku melihat diriku yang lain menghentikan aksiku memendam memori-memori beraroma manis dan berwarna-warni. Dia melempar sekop yang sedang kugenggam.

“Apa benar ini yang kau inginkan?” tanyanya, yang tak lain adalah diriku sendiri. “Kau menyerah dengan semua ini? Kau pasrahkan semua setelah sekian banyak kenangan indah yang kalian rajut bersama?”

Aku diam.

“Kau tidak percaya dengan kesempatan kedua?”

Apakah aku harus menerimanya lagi? Apakah aku harus mengulangi semua dari awal, seolah tak pernah terjadi apa-apa? Apakah aku bisa memaafkannya?


Apa yang sebenarnya ada di benak Rio? Kejadian apa yang telah terjadi sehingga membuat hubungannya dan Tiara menjadi seperti ini? Mari kita baca bagian kedua di RAHASIA OTAK dengan judul SIMFONI 2 HATI.

NB: bagi yang mau langsung baca bagian ketiganya, ada di Erwinaziz’s Blog dengan judul Hujan Kemarin (tapi lebih disarankan untuk baca bagian keduanya dulu ya!)

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.

Iklan

Kenangan 16 Agustus


Cerpen yang kubuat SMP dulu, tanggal 19 September 2003


Dari jendela kupandangi adik-adik kecil sedang berlomba. Tidak hanya mereka, teman-temanku, dan kakak-kakak lainnya sedang mengikuti perlombaan juga untuk memperingati HUT Republik Indonesia. Aku teringat kembali pada sesuatu yang mengharukan. Perpisahan dengan seorang sahabat.

Agustus tanggal 16. Pagi yang cerah. Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu karena di RT-ku ada lomba tarik tambang untuk hari ini. aku bermaksud mengajak Didin, tetangga sekaligus teman sekolah. Seperti biasa, aku menjemput Didin di rumahnya. “Didin!” panggilku. Lalu kulihat ibu Didin keluar rumah dan menghampiriku. “Wah, Didin sudah berangkat, Nak Narno!” kata ibu Didin. “Oh, kalau begitu permisi, Bu!” kataku. Aneh. Tidak seperti biasanya Didin berangkat lebih dulu. Kalau pun begitu, biasanya dia memberi tahuku. Ada apa, ya?

Akhirnya aku sampai di sekolah. Kuparkir sepedaku dan berjalan menuju kelas yang sudah akrab denganku. Dari kejauhan, kulihat Didin termenung di balik jendela kelas. Sepertinya dia tidak mengerti kedatanganku. Perlahan-lahan kutaruh tas, lalu berjalan di belakangnya. Dengan semangat, aku pegang pundaknya. “Ahhh…!” Didin kaget dan berbalik. “Nakal!” serunya sambil mendorongku. Kami tertawa. “Din, aku mau tanya,” kataku. Tiba-tiba tawa Didin berhenti. Seketika ada perasaan aneh di dalam hatiku. Aku merasa tidak enak menanyakannya. Oh, iya! Ganti topik! “Din, kamu tahu lomba di RT kita, kan?” Lomba tarik tambang. Kamu ikut, ya!” pintaku. “Kapan?” tanyanya dengan wajah yang biasa saja. “Nanti sore,” jawabku. Didin diam dan memandang mataku dalam-dalam. Aku merasa menanyakan hal yang salah. Dan aku belum siap ketika Didin menjawab, “Tidak bisa.” Bel tanda masuk berbunyi.

Langit menjadi mendung. Aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Kata “tidak bisa” selalu menggema di dalam kepalaku. Tapi kulihat Didin lebih menderita. Dia menghabiskan jam pelajaran dengan melamun. Ada apa? Mengapa Didin tidak seperti biasanya?

Bel istirahat berbunyi. Inilah saatnya yang paling tepat untuk menanyakan semuanya kepada Didin. Tapi… bangkunya sudah kosong. “Bi, Abi!” panggilku kepada tema sebangku Didin. “Apa?” sahutnya. “Kamu tahu Didin kemana?” tanyaku. “Tidak. Tapi tadi dia terburu-buru,” jawab Abi. Aku mulai berlari mencari Didin. Di kantin, di perpustakaan, di kelas-kelas yang lain, bahkan di toilet. Tapi tidak ada. Kemana lagi? Hari ini sitirahat hanya sekali. Aku tidak mau menjadi sia-sia.

Bel tanda masuk berbunyi lagi. Tapi sampai guru datang pun Didin belum kembali. Tak lama kemudian, aku melihat guru BK dan lho, ayah Didin! Dan Didin berdiri di belakangnya. Aku sangat terkejut pada apa yang dikatakan guru BK. Didin akan pindah sekolah untuk mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan ke luar kota. Wajah Didin memang sangat sedih. Dari pandangan matanya aku tahu dia mau mengatakan, “Maafkan aku!”

Di rumah, aku melampiaskan semua kesedihanku di dalam kamar. Kukunci pintu dan mulai jatuh di atas tempat tidur. Kenyataan ini terlalu pahit bagiku. Aku tidak berani melirik rumah Didin karena aku takut menangis, tapi sepertinya tidak bisa. Saat itu aku teringat kembali kenangan-kenangan bersama Didin. Entah berapa lama aku dalam keadaan melamun. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. “Ya, dibuka saja!” kataku. “Dibuka apanya? Memangnya aku orang kuat bisa membuka pintu yang dikunci?” seru kakakku. Aku melompat dari tempat tidur dan membuka pintu. Aku disambut dengan wajah lucu kakakku. “Kamu lagi ditunggu, tuh!” katanya. “Siapa?” tanyaku. “Lihat saja sendiri! Ramai-ramai, kok!” jawab kakak.

Aku berlari menuju teras depan. Aku sangat terkejut melihat Didin dan teman-teman lainnya. “Kamu belum pindah, Din?” tanyaku. “Nanti. Aku ikut sama kalian karena aku tidak mau kalian kalah,” jawab Didin sambil tersenyum. Senangnya aku. Langit kembali cerah. Dan sepertinya tidak semua perpisahan itu menyedihkan. Kami berlomba dengan semangat. Dan kesedihanku berangsur-angsur mulai berkurang dengan melihat tawa Didin.

Aku terlepas dari lamunanku ketika mendengar suara pintu rumah diketuk. Aku berlari dan membukakan pintu. Aku gembira sekali. Didin dan keluarganya berkunjung kemari. “Ibu, Ayah, Kak! Keluarga Pak Hasan berkunjung!” teriakku. Ayah, ibu, dan kakak pun berlari dan menyambut mereka. Memang, kami sangat akrab dalam bertetangga. Aku, Didin, dan kakak mengobrol di teras. Sedangkan orang tua di ruang tamu. Kadang kami berbicara diselingi dengan tawa terbahak-bahak. Dan selalu diakhiri kata “Hush, jangan ramai!” dari ayah. Bagiku, kedatangan Didin adalah hadiah yang sangat istimewa karena kami memang jarang bertemu. Dan aku sangat mensyukuri anugerah-Nya ini.


  • Review cerpen ini. (coming soon)
  • Versi sekarang cerpen ini. (coming soon)

Gembok Bapak

Cerpen Gembok Bapak

Ini sudah kesekian kalinya aku mendapati bapak pulang hingga larut malam. Saat semua lampu rumah tetangga sudah padam, hanya lampu rumah kami yang masih menyala. Dua adikku sudah tidur di kamarnya, atau lebih tepatnya kamar kami untuk tidur bersama. Sementara sambil menunggu membukakan pintu pagar untuk bapak, aku duduk di ruang tamu sambil membungkusi kerupuk-kerupuk.

Dan hari ini sepertinya akan menjadi hari dimana bapak pulang paling larut! Bapak memecahkan record! Jam dinding sudah menunjukkan waktu lebih dari setengah satu. Pekerjaanku sudah selesai beberapa menit yang lalu dan aku mulai tidak kuat mengangkat kelopak mataku.

Ada kalanya aku ingin membiarkan rasa kantuk menang atas kesadaranku. Aku ingin tidur dengan nyaman dan tidak mudah terbangun hanya karena bunyi gembok yang dipukul-pukulkan ke pagar. Aku ingin membiarkan bapak terkunci di luar. Aku ingin membiarkan bapak kedinginan dan tidur di luar. Aku ingin menghukum bapak. Aku ingin membuat bapak jera pulang larut malam.

Setiap pagi setelah bangun tidur, aku sering melihat bapak tidur di kursi. Memakai selimut garis-garis hijau yang biasanya ada di lemari. Di pipi dan tangannya ada darah dari nyamuk yang menemui ajal tadi malam. Pastinya bunyi plak-plok terus berkecamuk di ruang tamu malam tadi. Dan karena sinar matahari menyingkirkan nyamuk-nyamuk yang selalu berdenging di telinga, tidur bapak begitu nyaman. Bapak ngorok!

Kadang aku sengaja tidak membangunkan bapak karena kasihan. Yang jelas sudah kusiapkan secangkir kopi pahit kesukaan bapak di atas meja, dan aku pun siap mengantarkan adik-adikku bersekolah. Untuk sarapan, biasanya aku hanya menyiapkan untuk adik-adikku saja. Bapak tidak pernah meminta karena biasanya bapak lebih suka makan di warung pinggir jalan bersama teman-temannya. Sementara aku baru makan nanti kalau semua urusan rumah sudah selesai.

Akan tetapi sering bapak malah marah karena tidak kubangunkan. Kata bapak, “Bapak mau kerja! Kalau kesiangan begini, mana bisa dapat uang banyak?” Dan bapak pun pergi dengan tergopoh-gopoh setelah cuci muka dan minum kopi yang masih kebul-kebul asapnya.

Bapak pergi kerja setiap hari. Namun aku tidak pernah tahu apa pekerjaannya. Kalau kutanya, bapak hanya menjawab dengan kata-kata yang sama, “Yang penting kamu dapat uangnya. Adik-adikmu bisa sekolah. Kita semua bisa makan.” Aku pun terdiam dan tidak bisa ngotot lagi sama bapak. Kalau sampai bapak marah, entah apa yang akan terjadi pada kehidupan kami sehari-hari. Karena bagaimana pun juga, bapak adalah tulang punggung keluarga dan aku hanya mencari pemasukan sampingan.

Di perumahan pinggir kota yang rapat dan bau keringat ini, kami sekeluarga tinggal berempat. Ada bapak, aku, dan dua adikku. Adik-adikku ini kembar laki-laki dan perempuan. Kata teman-temanku, kalau rambut mereka dipotong sama barulah kelihatan kembarnya. Saat ini adik-adikku sudah masuk kelas 3 SD, di sekolahku dulu. Wali kelasnya juga masih wali kelasku dulu, Bu Dian.

Sementara aku, laki-laki tamatan SMA yang lebih memilih jadi pengganti ibu daripada harus jauh-jauh kuliah dan meninggalkan adik-adik kesayanganku. Sambil menghabiskan waktu, aku bekerja pada Bu Is, tetanggaku yang selalu disibukkan dengan pesanan kerupuk khas kota kami. Aku bekerja di bagian pembungkusannya, sama seperti beberapa tetangga yang lain yang mayoritas ibu-ibu. Selain itu, aku juga membantu Bu Is mengantarkan kerupuk-kerupuk itu ke kios-kios kecil di seluruh penjuru kota.

Dan bapak, sosok yang kukenal ini adalah seorang bapak yang selalu saja ngeles kalau ditanya soal pekerjaan. Dulu saat ibu masih di rumah, bapak adalah seorang supir ojek yang berangkat pagi pulang malam. Tapi setelah bapak berpisah dengan ibu, bapak sudah tidak lagi mengojek. Sepeda motornya sudah dijual. Namun yang masih menjadi pikiranku hingga saat ini, mengapa bapak masih berangkat pagi pulang malam?

Di tengah penantianku sering kali aku berpikir, apakah nanti kalau aku sudah berkeluarga aku juga akan seperti bapak? Aku jadi takut sendiri. Aku takut salah mendapatkan jodoh. Saat pembicaraan mengenai pacar sudah menjadi hal yang biasa di antara anak muda seusiaku, aku malah berkeringat dingin jika memikirkannya. Aku tidak pernah berpikir untuk pacaran yang sementara. Bagiku cinta itu bukan sesuatu yang sederhana dan biasa. Cinta itu hanya ada satu dan untuk selamanya. Tapi…

Walaupun aku tahu kalau perpisahan antara ibu dan bapak ini bukanlah suatu keinginan. Walaupun aku tahu kalau keterpaksaan ini lebih disebabkan oleh keinginan keluarga ibu yang begitu ‘tinggi’ itu. Walaupun aku tahu kalau keadaan yang menimpa kami ini adalah efek dari perpisahan itu, apa yang bisa kulakukan selain menerimanya?

Sikap bapak yang begitu tertutup walaupun kepada anaknya sendiri, kepadaku, membuat hidup ini terasa semakin dingin dan sendiri. Aku tidak ada teman selain adik-adikku. Bapak hanya menjanjikanku uang untuk hidup sehari-hari. Uh, mungkin inilah yang dirasakan para istri yang sering ditinggal suaminya yang workaholic. Tapi, Pak, aku ini anakmu! Aku juga punya dunia sendiri! Dan lagi, aku tidak tahu bapak bekerja dimana dan sebagai apa. Apa yang terjadi kalau ternyata uang yang kuterima setiap hari ini adalah uang haram? Aduh, Pak, anak laki-lakimu ini bertanya-tanya!

Antara Aku dan Dia

Antara aku dan dia

Antara aku dan dia

Mungkin aku sudah berpikiran terlalu jauh. Mungkin aku sudah beranggapan terlalu muluk. Mungkin aku sudah terlalu bermimpi dan sibuk dengan urusan pribadi ini. Mungkin tidak hanya aku, tapi juga dia.

Mungkin aku terlalu akrab dengannya, sehingga aku bingung ada atmosfer apa yang tidak kelihatan dan berputar-putar pada beberapa meter yang memisahkan aku dengan dirinya. Dia tarik ulur, begitu juga aku. Kami terlalu asyik dengan keakraban kami hingga lupa sudah sepekat apa kadar keakraban kami.

Mmm… mungkin aku sudah berangan terlalu dalam. Mungkin aku sudah terlalu sibuk dengan pemikiranku sendiri, sehingga aku lupa bahwa masih ada kemungkinan kalau dia tidak terlalu memikirkan hal ini. Aku lupa kalau mungkin dia tidak terlalu mempedulikan hal ini.

Tapi aku peduli! Aku ingin dia juga peduli akan hal ini, sama sepertiku. Aku ingin dia juga sedang sibuk memutar kepalanya, berkecamuk suara hatinya, karena memikirkan hal ini, sama sepertiku. Aku ingin inginnya sama seperti inginku. Aku terlalu takut akan keberadaan kemungkinan yang sejenak terlupa dari pemikiranku itu.

Ingat dia, ingat tumpukan buku-buku yang berjajar rapi di rak toko buku beberapa hari yang lalu. Hahaha, toko buku… tempat nongkrong yang aneh untuk manusia seusia kami. Saat muda mudi lainnya memilih cafe atau taman atau bioskop untuk menghabiskan waktu, kami lebih merasa nyaman kalau ada di toko buku ini. Entah kenapa.

Dan kali ini hanya kami berdua, tidak ada teman lain. Hanya aku dan dia. Hanya dia dan aku. Ya, tumpukan buku-buku di sana menjadi saksi percakapan biasa yang tak biasa antara kami berdua. Percakapan singkat yang bagiku terasa dingin. Membuatku geram dan sendiri. Membuatku diam dan berpikir.

“Jadinya beli apaan nih?” tanyanya, setelah sekian lama aku berulang kali berpindah tempat untuk sekadar membaca sinopsis di belakang buku yang masih terbungkus rapi.

Mungkin dia sudah lelah karena aku terlalu sibuk memandangi cover buku, melihat bagian belakangnya, merenungi harga, dan mengira-ngira isi bukunya, lalu membanding-bandingkan dengan harganya.

“Pengennya sih semuanya,” jawabku sambil menunjuk semua deretan novel keluaran terbaru.

“Kalau gue mampu, gue beliin semua dah buat lo,” ujarnya yang serta merta membuatku nyaris terlonjak.

“Serius?”

“Ah, tapi lo bukan cewek gue sih. Ngapain juga?” tukasnya. Aku terhenyak dan tenggelam di dalam kalimat yang baru saja diucapkannya.

“Harus pacar ya?” Mungkin ekspresi wajahku langsung berubah saat itu. Satu hal yang sebelumnya tidak ada di dalam daftar hal yang harus kupikirkan, akhirnya berhasil menyelinap dan membuatku termenung.

Namun memang tak ada yang salah dari apa yang diutarakannya. Siapa aku? Aku tidak punya hak. Dia tidak punya kewajiban. Karena uang adalah perkara yang tidak sederhana, jadi untuk apa dia berkorban untuk aku yang bukan apa-apanya ini?

“Pegel nih! Gue nunggu di luar, ya?” ucapnya saat aku masih tenggelam di dalam batinku. Saat aku menutupi kegalauanku dengan kedok masih bingung mencari buku yang tepat untuk kubeli.

“Yaaah, tungguin di sini dong!”

Mungkin aku sudah keterlaluan karena membuatnya menunggu selama satu jam tanpa satu pun kepastian akan membeli buku. Maaf, tapi inilah aku. Membeli buku itu memerlukan banyak pertimbangan, karena sangat penting bagiku mendapatkan buku yang nilai rupiahnya setara dengan nilai kepuasan yang kudapatkan saat membaca nanti.

“Ogah, ah! Lo bukan cewek gue sih!”

Kalimat itu lagi!

“Itu lagi!”

“Kalau lo pacar gue, gue bakal temenin lo selama apapun sampai lo kelar,” jelasnya setelah melihat raut mukaku yang kelihatan sinis saat mendengar perkataannya.

Seketika aku kembali tenggelam di dalam perkataannya. Pacar? Sepenting itukah? Selama ini aku tak pernah memikirkannya karena memang tak ada suatu yang membuatku begitu tertarik karenanya. Aku terlalu menikmati hubungan persahabatanku dengannya hingga tak tahu lagi…

Perasaan apa ini? Ada sesuatu yang begitu sakit di dalam batinku. Ada yang menggigit, atau mencabik-cabik, atau menikam. Ada sesuatu yang membuat seluruh udara di dalam tubuhku mendingin dan membuatku menggigil. Sesuatu yang membuatku bingung dan bertanya-tanya. Mengapa aku di sini hanya bersamanya? Mengapa aku selalu dengannya? Mengapa dia?

“Harus sama pacar ya?”

Dia mengangguk.

“Kalau gitu, anggap aja gue pacar lo!” Tersentak aku oleh kalimat yang serta merta meloncat dari mulutku. Rasanya seperti menampar pipiku sendiri. Batinku mulai bersuara tak terkendali. Semenjak aku tenggelam dengan kalimat itu, batinku seperti memiliki kekuatan tambahan yang akan menguasai alam sadarku.

Dan dia geleng-geleng kepala. “Mana bisa?” katanya sambil tertawa.

Wajahku memanas. Aku gugup. Kupalingkan wajahku ke tumpukan novel yang sedari tadi kutimbang-timbang. Kuambil salah satu dan kubawa lari ke kasir. Sementara dia mengikuti langkah kikukku sambil tertawa-tawa sendiri.

Buku ini, ya buku ini. Buku yang sedang kupandangi ini adalah saksi bisu perubahan perasaanku padanya. Buku inilah yang menjadi saksi betapa lemahnya diriku dalam menghadapi permasalahan hati seperti ini. Buku ini pula yang menjadi saksi betapa aku begitu bingung dengan posisiku saat ini baginya, pun posisinya saat ini bagiku.

“Hei,” sapanya tiba-tiba sudah berada di depanku. Aku menahan nafas. “Sendirian aja,” katanya sambil duduk di sebelahku.

“Dosennya belum dateng kok,” jawabku berdasarkan fakta apa adanya. Ya, aku lebih suka menghabiskan waktuku di tempat duduk yang agak sepi ini kalau kelas belum dimulai.

“Gue pengen tahu, kenapa lo suka pakai rok? Alasannya apa?” tanyanya tiba-tiba. Dia sedang memandangi rok yang sedang kupakai hari ini. Sebuah rok panjang yang warnanya kukira cukup pantas untuk baju dan jilbab yang kukenakan.

“Tumben lo tanya beginian? Ada apa nih?”

“Ga ada alasan apa-apa, jadi kenapa?”

“Kenapa ya?” Aku memikirkan alasan yang tepat. “Karena gue lebih suka aja pakai rok, daripada pakai celana panjang. Menurut gue, cewek udah kodratnya make rok. Celana panjang biar cowok yang make,” jawabku.

“Lah terus, kenapa lo pernah pakai celana panjang?” tanyanya. Nadanya terdengar polos.

“Kalau koleksi rok gue banyak, bakal gue pakai setiap hari dah,” jawabku sambil sedikit tertawa.

Yah, beginilah hubungan kami saat ini. Mungkin memang seperti inilah hubungan yang ditakdirkan kepada kami. Mungkin Tuhan memiliki tujuan dan jalan yang lebih baik atas hubungan kami ini. Saat-saat dimana aku selalu merasa nyaman dengannya dan saat-saat dimana dia selalu merasa nyaman denganku. Mungkin beginilah yang terbaik bagi kami berdua. Mungkin beginilah seharusnya.

“Hmmm… gitu ya…?” katanya. “O ya, tadi lo tanya kan, kenapa gue tanya ini? Jawabnya, karena gue suka kalau lo pake rok.”

Dia pergi. Aku tertegun. Dan sebelum wajahnya berpaling, kulihat ada raut tak biasa di wajahnya. Raut yang mungkin kutunjukkan di toko buku waktu itu.

Beuh, sial banget saya bikin cerpen yang terinspirasi dari orang ini. Saya merasa iri, teman-teman! Inspirasi ini saya dapatkan dari postingnya yang ini dan ini.

Bagaimana menurut teman-teman dengan cerpen saya yang satu ini?

Sumber gambar: Antara aku dan dia

Malam Ini

Ini cerpen yang saya kirimkan untuk LMCR tahun lalu (LMCR 4). Walaupun tidak berhasil, tapi beginilah cerpen saya. Selamat membaca.

Membaca Surat

Membaca Surat

“Aku kecewa! Percuma persahabatan kita selama ini!”

Suaranya jelas lantang terdengar. Detik jam dinding yang sedari tadi merajai ketenangan di ruang tamu, tiba-tiba lenyap tenggelam oleh pekikan amarah yang datang tak diundang. Nada tinggi bercampur dengan suara serak-serak basahnya meyakinkanku akan seseorang yang bisa-bisanya membuat malam ini menjadi bangun dari kesunyiannya.

Tanpa beralih dari ruangan ini, tanpa beranjak dari sofa yang sudah cukup panas karena kududuki ini, aku hanya memalingkan kepalaku dari surat ke anak tangga yang menghubungkan ruang santai di sebelah dengan lantai dua yang berisi dua kamar. Bunyi tapak kaki yang sedikit berdecit saat bersinggungan dengan lantai keramik, terdengar semakin dekat dengan terburu-burunya. Tak hanya itu, tiap langkahnya kurasakan begitu kuat menghentak bumi. Sebuah visualisasi suasana hati yang tak begitu mendapatkan kepuasan akan kenyataan begitu jelas teraba pada atmosfer di sekitar anak tangga itu.

“Tunggu! Janganlah…!”

Kali ini suara yang lain muncul menanggapi suasana itu. Suaranya bergetar seperti seseorang yang sedang bertahan bergelantungan di atap gedung agar tidak jatuh. Dia seperti terancam akan sesuatu. Dan oleh karenanya, dia mengiba.

Tak lama kemudian kudengar dua langkah kaki yang bersahut-sahutan, tanpa tempo yang jelas dan membuat malam ini tidak memiliki ketenangan seperti malam-malam yang kulalui sebelumnya. Tidak habis pikir, apa yang membuat mereka berdua menciptakan fenomena tak biasa yang berhasil membuat konsentrasiku ini pecah. Suratku masih terbuka. Aku memegangnya, tapi aku mengacuhkannya.

Dua sosok pria yang tadi bersuara itu pun akhirnya memasuki area pandangku. Mereka turun dengan gusar. Yang depan ingin segera pergi, sementara yang belakang berusaha menahannya dan meminta untuk mempertimbangkan sesuatu. Yang depan berekspresi seperti ingin menyulut kekacauan, sedangkan yang belakang justru ingin meredamnya.

Jujur, aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan dan apa yang mereka inginkan. Masalah apa yang kiranya begitu mengganggu mereka sehingga harus diperdebatkan di malam-malam seperti ini. Bahkan, segawat apakah hal yang menjadi pembicaraan mereka saat ini sehingga mereka lupa bahwa ini sudah MALAM!

“Muak aku! Dan aku benar-benar tidak suka pada seorang PENGKHIANAT!”

Pria ini bernama Alvin. Dari segi fisik, siapa saja akan mengatakan kalau dia adalah pria yang ideal. Tinggi badannya sekitar 180 cm, membuatnya pantas masuk tim basket di kampus kami. Berat badannya pun proporsional jika berdasarkan tinggi badannya yang seperti itu. Dia termasuk orang yang disiplin terhadap segala hal, terlebih lagi dalam menjaga kesehatan. Gaya bicaranya tegas dan lebih mengutamakan logika dalam alur berpikirnya. Sejauh yang kuketahui tentang dirinya, di kampus dia termasuk orang yang cukup berkontribusi dalam hal organisasi. Wataknya yang keras dan kuat dalam berprinsip membuatnya menjadi orang yang begitu disegani, bahkan dihormati.

“Maaf, siapa yang kamu maksud pengkhianat itu?”

Sementara pria yang satu ini bernama Iman. Dibandingkan dengan pria yang pertama, bisa dibilang keadaan fisik seseorang yang satu ini tidak terlalu menarik perhatian. Tinggi badan standar dan beratnya… kurang. Dia pernah tertawa setelah menimbang berat badannya minggu lalu. Sambil tersipu dia mengatakan, “Empat tiga.” Tak ada yang istimewa jika menelusuri kepribadiannya melalui keadaan yang tampak mata. Namun siapa sangka kalau dia adalah seseorang yang memiliki hak cipta akan sebuah novel best seller tahun ini? Siapa sangka kalau novel itu adalah novel kelimanya yang mencapai predikat paling membanggakan sebagai seorang penulis? Siapa sangka kalau dia memiliki website dengan traffic paling ramai? Siapa sangka kalau dia memiliki banyak teman yang tersebar di berbagai penjuru dunia dalam hubungan bisnis? Dan apa aku perlu mengatakan berapa dolar yang masuk rekeningnya tiap hari?

Secara tidak sengaja aku menemukan kedua sosok ajaib ini pada hari pertamaku menjalani kehidupan kampus. Ketika itu kami sedang melakukan daftar ulang mahasiswa baru di Biro Administrasi Kemahasiswaan. Sambil menunggu giliran, kami pun duduk sambil mengisi formulir yang diberikan oleh pihak kampus. Kami bersebelahan dan kami belum saling mengenal.

Namun aku masih bisa mengingat seperti apakah keadaan kami waktu itu. Alvin dengan gaya anak kotanya, memakai kemeja bergaris warna cerah dan celana jeans. Rambutnya disisir rapi dan sedikit ada sisa pewarnaan di ujung rambut jambulnya. Aku melihat gambaran seorang anak SMA yang merasa bebas. Lepas dari orang tua, lepas dari rutinitas dan peraturan sekolah, terlebih lagi lepas dari SERAGAM SEKOLAH.

Sementara Iman, berbeda seratus delapan puluh derajat. Aku mengatakan keadaannya ‘berbeda seratus delapan puluh derajat’ tidak hanya berdasarkan sosok Alvin waktu itu, tapi juga terhadap sosok Iman yang saat ini. Dulu siapa saja yang melihatnya pasti ingin tertawa. Tapi demi ketenangan, mereka menahannya (termasuk aku). Suasana pedesaan benar-benar terasa begitu berada di dekat Iman. Dia memakai baju dan celana berbahan kain yang sama, warnanya pun coklat sama. Memakai sandal sebagai alas kaki dan bawaan yang penuh, bahkan sampai ada yang berada di luar tasnya seperti beberapa batang petai dan tas kecil khusus ayam (jelas aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, di dalamnya benar-benar ada ayam dan hidup). Aku sampai tidak bisa berkonsentrasi mengisi formulir waktu itu.

Namun kami tidak bisa begitu saja akrab jika tidak ada trigger yang membuat kami berinteraksi satu sama lain. Siapa saja pasti tahu harus seperti apa dan bagaimana jika berada di lingkungan kampus, terutama di tempat yang resmi seperti ini. Derap langkah seseorang bersepatu vantofel tiba-tiba mengusik ketenangan kami dan berhenti… tepat di depan Iman. Semua mata pun tertuju padanya. Inilah trigger itu. Satuan Keamanan Kampus (SKK) mendapati kostum Iman yang memang tak sepantasnya dikenakan di tempat seperti ini.

“Maaf! Dilarang memakai kaos dan sandal di sini,” ucap SKK itu dengan tegasnya. Tubuhnya yang tegap dan cara bicaranya yang tegas membuat Iman langsung menciut.

Iman hanya bisa menghentikan aktivitas menulisnya dan mengalihkan fokus pada apa yang ia kenakan saat itu. Mungkin pikirnya, aku ini kan cuma orang desa dan tidak tahu apa-apa. Seketika kecemasan muncul di wajahnya disertai keringat dingin yang menjadi bulir-bulir di dahinya.

“T-tapi, Pak… Saya baru sampai di kota ini dan langsung ke kampus ini. Lha, j-jadi belum sempat ganti baju dan… b-belum punya kos-kosan toh.”

Nah, logat medhok yang kental semakin meyakinkanku bahwa dia dari wilayah Jawa Tengah atau Jawa Timur, aku tak yakin. Dan sebagai seorang pendatang yang benar-benar baru pertama kali menginjakkan kaki di ibukota, pengalaman seperti ini pasti seperti sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Aku sendiri tidak bisa mengacuhkannya begitu saja, terlebih lagi aku bersebelahan dengannya. Sambil berlagak sebagai seorang pahlawan, aku pun menghadapi SKK itu, tapi masih di tempat dudukku. Ya, aku membantu Iman mendapatkan haknya untuk mendaftar di kampus ini.

“Maaf, Pak. Kalau dia ganti baju yang pantas sekarang, boleh kan?”

“Tentu saja!” jawab SKK itu mantap.

Sekarang aku ganti menatap Iman. Tentu dia mengerti maksud tatapanku. Hanya saja aku masih belum mengerti mengapa ia enggan mengobrak-abrik tasnya dan mencari baju yang sesuai di sini. Baju berkerah dan sepatu. Dengan ragu Iman bangkit dari kursinya dan berjongkok di depan tasnya yang masih tertutup rapat. Sejenak aku yakin kalau masalah sudah selesai. Tas bawaan Iman waktu itu tidak bisa dikatakan kecil. Aku yakin waktu itu isinya penuh akan kebutuhan sehari-hari Iman selama merantau di negeri orang ini, termasuk pakaian dan sepatu.

Namun aku benar-benar tertipu. Aku terperanjat tatkala Iman membuka risleting tasnya dan menunjukkan isinya padaku, tentunya sambil menyembunyikannnya dari mata SKK. Aku memelototinya, meminta penjelasan. Untuk apa dia jauh-jauh ke sini jika isinya hanya beberapa pakaian yang tidak ada bedanya dengan yang dikenakannya sekarang? Dan apa yang membuat tasnya terlihat penuh (dan sangat menipuku mentah-mentah) adalah panci dan sayur-mayur. Iman tak bisa membalas tatapan mataku dengan jawaban yang kuharapkan. Dia hanya menaikkan pundak.

“Ada apa?” tanya SKK saat kami berdua terdiam seribu bahasa.

Pandangan mataku pun berubah seolah mengatakan, “Maaf, aku angkat tangan.”

“Aku pinjamkan kamu baju dan sepatuku. Aku bawa banyak kok!” sebuah bantuan muncul dari suara yang membawakan sebuah pencerahan untuk Iman. Kami berdua menoleh ke arahnya. Ya, dia adalah Alvin. Semula aku kira dia adalah orang yang cuek dengan keadaan di sekitarnya. Namun ternyata aku memang terlalu mudah menilai seseorang dari penampilannya saja. Sejak saat itu aku berusaha untuk bersikap bijak dalam menilai seseorang.

Dengan kostumnya yang baru, ternyata Iman tidak terlalu kelihatan kalau berasal dari keluarga yang bergolongan ekonomi lemah. Dia tersenyum ke arahku dan Alvin, dan bersyukur sudah bertemu dengan kami saat itu. Seketika itu juga suasana pendaftaran ulang yang kaku di antara kami bertiga pun pecah, berganti dengan percakapan hangat dan menyenangkan.

“Sebentar ya,” ijinku saat ponsel tiba-tiba bergetar di saku celanaku. Percakapan kami tentang kota asal Iman pun terpaksa kutinggalkan. Saat itu yang aku tahu adalah Iman berasal dari Madiun, salah satu kota di Jawa Timur. “Ada apa, Mbak?”

Selagi Alvin dan Iman menghabiskan waktu, aku memfokuskan diri pada seseorang yang menghubungiku via telepon. Dia kakakku dan sedang membantuku mencari tempat kos. Seingatku, kakakku berencana berputar-putar ke seluruh wilayah sekitar kampus untuk mencari harga termurah bersama ‘sopir ojek’ pribadinya.

“Terus yang mana, Mbak?”

Yaaa kalau mau sih yang tiga ratus lima puluh ribu perbulan itu,” kakakku terdengar sedikit menyesal karena kos mahasiswa sekarang lebih mahal dan di luar dugaannya.

“Yang lain lah, Mbak,” jelas aku menolak. Kakakku pun mengerti. Ibu dan bapak sudah berpesan kepada kami untuk mencari tempat kos yang tidak lebih mahal dari dua ratus ribu perbulan. Selain itu, orang tua kami hanya menghendaki pembayaran perbulan atau persemester, tidak untuk pertahun. Ya, aku masih ingat akan hal itu. Maklum, kekuatan ekonomi keluarga kami pun pas-pasan.

Sebenarnya ada sih kontrakan yang murah. Seandainya dibagi orang tiga pun perbulannya kira-kira cuma dua ratus ribu. Tapi mana kamu punya teman di sini?

“Ada, Mbak! Ada!” tiba-tiba aku berteriak. Aku tidak sadar sudah melakukannya dan membuat semua yang ada di sekitar kami terdiam, termasuk Iman dan Alvin yang tadi sedang tertawa cekikikan. Sepertinya kakakku pun terkejut bukan kepalang. Mungkin sedikit menjauhkan speaker dari telinganya.

Namun tak lama kemudian dia mengakhiri teleponnya, “Kalau begitu biar Mbak yang ngomong ke bapak ibu. Moga-moga nanti bisa ambil kontrakan itu. OK!

Dan akhirnya, kontrakan ini sudah menjadi saksi persahabatan kami selama tiga tahun. Untuk ukuran bangunan di ibukota yang bertingkat dua dan berlantai keramik, sudah pasti kontrakan ini sangat murah. Bahkan oleh pemilik kontrakan itu, kami bisa terus bertahan hingga tiga tahun ini. Meskipun kami tahu kalau biaya sewa harus dinaikkan tiap tahunnya, kami tetap berdiam di bawah atapnya. Lingkungan di sekitar kontrakan ini cukup baik dan tenang. Meskipun sedikit pinggiran, tapi dengan adanya kendaraan berupa motor 4 tak yang siap membawa kami kemana saja, tak ada yang perlu kami khawatirkan.

Hmm, saksi persahabatan kami selama tiga tahun… Lamunanku buyar tatkala Alvin dan Iman mulai mengarahkan pandangannya ke arahku. Apa lagi mau mereka sekarang? Sorot mata yang muncul dari keduanya jelas menyiratkan harapan kepadaku yang sedang tak tenggelam dalam konflik. Aku sebagai seorang yang netral. Aku sebagai seorang yang bisa dimintai pendapat tanpa memihak. Aku sebagai seorang yang selalu dituakan dan dianggap mampu memecahkan permasalahan yang melanda hati mereka.

Akhirnya aku harus rela melipat surat yang tadi sempat mencuri perhatianku. Alvin dan Iman melangkah mantap dan duduk di ruangan ini tanpa banyak berucap. Agaknya keduanya sudah cukup lelah menghabiskan waktu yang tengah mengantuk, semengantuk mataku.

Sempat kurenungi beberapa saat yang lalu, sesungguhnya Alvin dan Iman, kedua sahabatku ini adalah dua sosok yang mirip namun terbungkus dalam pribadi yang berbeda. Secara kasat mata keduanya sangat bertolak belakang, langit dan bumi, air dan api, pagi dan malam. Akan tetapi, keduanya jelas memiliki satu hal yang sama yang mungkin belum pernah mereka sadari hingga saat ini. Keduanya memiliki pendirian yang kuat yang tak seorang pun mampu menggoyahkannya. Dan karena suasana hatiku sedang tidak cukup baik, aku akan menyebut hal itu sebagai ‘keras kepala’.

Ini adalah untuk yang kesekian kalinya Alvin dan Iman menghadapku. Inilah yang selalu dilakukan ketika keduanya sudah menyerah pada masalah yang mereka buat sendiri. Pernah mereka mengadukan kepadaku perselisihan mereka dalam hal pemikiran orang desa dan kota. Iman merasa tersinggung ketika Alvin memukulnya dengan pernyataan orang desa terlalu tradisional dan tidak melihat perkembangan jaman. Sementara Iman menjegal Alvin dengan pendapat bahwa orang kota terlalu cuek dengan keadaan di sekelilingnya.

“Itu tidak benar,” kataku. Sebenarnya aku enggan ikut campur tentang hal saling membandingkan ini. Pikirku, apa tujuan sebenarnya melakukan hal yang justru bisa membuat perselisihan di antara mereka berdua. Aku sedikit perlu berhati-hati ketika semua pendapatku ini berkaitan dengan masing-masing pribadi mereka.

Mungkin masalah ini tersulut oleh sedikit salah kata di antara mereka berdua. Dan rupanya begitulah kenyataannya. Aku cukup meyakinkan keduanya agar lebih terbuka dan mau introspeksi diri. Aku cukup mengatakan bahwa siapa saja bisa salah, termasuk aku sendiri. Dan masalah pun selesai untuk saat itu.

“Aku masih belum mengerti dengan kelakuan kalian berdua,” ucapku cukup lantang akhirnya, setelah Alvin maupun Iman berdiam-diaman menghabiskan waktu dan membuatku salah tingkah. Emosiku meluap. Pikiranku sedang kacau, tidak tenang seperti biasa. Aku sadar, sesungguhnya akulah yang paling berbeda di antara kami bertiga. Dibandingkan Alvin dan Iman yang sangat mudah menyampaikan suka dan tidak, dibandingkan mereka yang sangat terbuka dalam hal penyampaian perasaan, aku lebih memilih untuk memendamnya sebelum mendapatkan momen yang tepat untuk mengungkapkan. Dan sepertinya pertengkaran malam ini menjadi momen tepat untuk kekesalanku.

Alvin menyandarkan punggungnya sambil berlipat siku. Pandangannya mengarah ke atas meja. Sementara Iman tampak cemberut sambil bergantian memandangi Alvin dan aku. Mungkin perasaanku sedang tidak sesuai untuk menengahi mereka berdua kali ini.

“Aku mau minta maaf,” kata Iman lirih.

“Aku mau keluar dari kontrakan ini,” serta merta Alvin berdiri dan meninggalkan kami berdua.

“Alvin!” aku dan Iman nyaris bersamaan menyahutinya.

Ya, Tuhan! Mengapa perasaanku begitu tidak nyaman kali ini? Belum-belum bulu kudukku berdiri. Aku belum mengetahui masalah apa yang membuat keduanya seperti ini. Berbeda dari yang sudah-sudah, sepertinya kali ini lebih parah dan mengancam persahabatan. Aku merasa permasalahan kali ini harus ditanggapi dengan menggunakan kepala dan hati yang lebih dingin. Mengapa harus muncul permasalahan saat aku sedang tidak seperti biasanya?

Alvin kembali ke kamarnya tanpa banyak kata. Hanya ada debaman pintu yang cukup keras dan mengawali kesunyian di rumah ini kembali. Iman semakin beringsut di tempat duduknya. Dia bersikap seperti sudah melakukan kesalahan besar.

Aku sedang tidak bisa berpikir. Aku butuh penjelasan dari Iman yang seolah mengetahui seluk beluk permasalahan kali ini. Sekarang ganti aku yang menyandarkan punggung dan berlipat siku. Kunantikan kata-kata apa yang akan diutarakannya kepadaku. Kenyataan apa yang akan diakuinya untuk menyibak kabut yang menyelimuti malam ini.

“Seperti kataku tadi, aku mau minta maaf,” ucap Iman akhirnya.

Tunggu dulu! Jadi masalah kali ini tidak hanya antara Iman dan Alvin? Untuk apa dia minta maaf padaku?

“Aku masih belum mengerti, Iman. Mengapa Alvin bisa semarah itu? Bukankah biasanya dia lebih banyak mengeluarkan uneg-unegnya untuk mengungkapkan kekesalan?”

Aku pun teringat akan kejadian setahun yang lalu ketika Alvin menyita satu jam berhargaku untuk mengadu akan kekesalannya pada dosen pengajarnya. Yang pilih kasih lah, yang tidak profesional lah, yang berpikiran sempit lah, hingga ungkapan-ungkapan lain yang tak cukup nyaman untuk didengarkan. Dengan semua yang dilakukannya itu, Alvin bisa merasa lebih ringan karena telah menumpahkan semua emosinya.

“Aku merasa berdosa. Aku keceplosan. Aku…”

“Keceplosan?!” sontak kuteriakkan kata itu begitu kusadari ke arah mana pembicaraan Iman ini. Iman langsung terdiam begitu aku berteriak. Dia melihat ekspresi wajahku yang campur aduk antara terkejut, kecewa, dan bingung. Akhirnya sampai juga posisiku menjadi seorang yang bersalah kali ini. Ya, titik permasalahan ini bukan pada Alvin dan Iman, melainkan aku sendiri.

“Maafkan aku!” Iman tampak sangat menyesal. Aku hanya bisa diam dan berusaha berpikir apa yang harus kulakukan selanjutnya. Mataku berpaling ke surat terlipat yang kuletakkan tepat di hadapanku. Rasanya aku benar-benar jatuh kali ini.

“Kamu tidur saja, Man. Sudah malam. Besok kamu kuliah pagi, kan?” kataku, masih dengan mata yang tak lepas dari surat terlipat itu.

“Sungguh, maafkan aku!” katanya. Aku tak menyahut. Iman pun meninggalkanku sendiri dengan enggan. Mungkin aku terlihat seperti seseorang yang kalah, seseorang yang jatuh. Sangat jatuh!

Tubuhku terasa makin lemas. Untuk beberapa saat, aku menghabiskan kediaman dalam lamunan kosong. Entah berapa lama aku mematung dengan posisi seperti ini. Seketika sekujur tubuhku mati rasa. Yang kurasakan hanya rasa sakit yang jauh dan dalam. Aku ingin menangis. Namun agaknya aku lupa caranya menangis gara-gara terbongkarnya semua rahasia yang selama ini kupendam dengan rapi.

Sambil membawa surat terlipat itu, aku bangkit dan melangkah perlahan ke lantai dua, tempat dimana kamar Alvin dan Iman bersebelahan. Kamarku sendiri berada di bawah, menjauhi keakraban yang terjalin di antara mereka berdua.

“Maaf merepotkanmu. Kami jadi ikut menumpang di sini,” ucap Alvin penuh dengan semangat. Saat itu kami baru saja memasuki rumah ini dan berniat untuk bermalam kali pertama. Kakakku dan pacarnya membantu proses pindahan kami bertiga ke rumah tempat kami tumbuh untuk beberapa tahun ke depan.

Iman berputar-putar dengan mata berbinar. Mungkin ini terasa seperti mimpi baginya. Aku tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang Iman jalani dulu.

Matur suwun sanget! Simbok pasti senang,” ucap Iman sambil berlari ke lantai dua. “Aku tidur di sini ya!” Iman menemukan kamarnya. Alvin pun mengikuti langkah Iman dan mengambil kamar di sebelahnya.

“OK. Kalau begitu aku ambil kamar yang bawah ya!” seruku.

Akhirnya sampai juga aku di depan pintu kamar Alvin. Di sana terpasang poster bergambar Presiden pertama Indonesia, seorang yang dikagumi Alvin. Lampu tidak menyala di dalam. Mungkin Alvin sedang berusaha untuk tidur dan melupakan sakit hatinya.

“Alvin, aku tahu kamu marah. Yang seharusnya minta maaf bukan Iman, tapi aku,” aku menarik nafas sebelum melanjutkan permohonan maafku. Tak kudengar suara apa pun dari dalam. “Maaf kalau ternyata orang yang selalu kau curigai itu adalah aku. Mungkin aku sudah lancang menyayangi apa yang sudah menjadi milikmu. Tapi tenang saja…” Aku meremas surat terlipat di tanganku. “Aku tidak akan mengganggumu lagi. Kau tidak perlu pergi dari rumah ini karena… akulah yang harus pergi dari sini.”

Tidak ada jawaban dari dalam. Mungkin Alvin memang sudah tidur, meskipun aku berharap dia masih mendengarkan pengakuanku. Aku berharap dia mengijinkanku masuk, meskipun rasanya hal itu mustahil.

Sambil menahan rasa sakit ini, aku mengeluarkan ponsel dan menekan beberapa tombol sebelum menghubungi seseorang yang pasti sangat mengharapkan kabar dariku.

“Halo, Budhe. Maaf malam teleponnya,” kataku.

Bagaimana suratnya? Sudah sampai?

“Sudah, Budhe. Tapi…” Bibirku bergetar. Seketika mataku penuh dengan air yang entah muncul dari mana. “Apa benar semuanya habis, Budhe? Budhe yakin bapak ibu sama mbak… juga di situ?”

Makanya Budhe kirim surat. Budhe kan juga nggak bisa cerita kalau…” rasanya Budhe juga menangis di sana.

“Ya, sudah. Budhe, besok saya langsung ke sana. Hari ini saya baru dapat pinjaman uang untuk pulang. Tapi saya juga tidak bisa lama-lama soalnya harus mengurus surat perguruan tinggi dulu.”

Apa harus berhenti kuliah?

“Lalu uangnya dari mana, Budhe?” hatiku semakin sakit.

Maaf, Budhe nggak bisa bantu banyak.

“Ini salah dari dulunya, Budhe. Harusnya saya bisa lebih mandiri dan tidak menggantungkan diri pada bapak.”

Budhe tak bisa menyahuti lagi. Aku hanya mendengar beberapa isakan di sana. Tanganku semakin kuat meremas surat itu. Aku juga tak bisa berkata apa-apa lagi.

* * *

Sebuah kebakaran menghabiskan satu kampung di pinggiran kota. Kampung yang terdiri dari 5 RW dan 14 RT itu ludes dilalap si jago merah mulai sekitar pukul 23.15 WIB dan baru bisa dipadamkan oleh tim pemadam kebakaran pada pukul 02.00 WIB. Diperkirakan kebakaran disebabkan oleh arus pendek listrik salah satu rumah warga. Kebakaran membesar karena angin dan adanya ledakan susulan dari pusat tabung elpiji 3 kg yang juga terbakar. Kebakaran tersebut memakan korban jiwa sebanyak 23 orang, puluhan lainnya korban luka, dan diperkirakan kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Bagaimana menurut teman-teman akan cerpen saya ini?

 

Sumber gambar: Membaca Surat

Sebuah Pertanda

Sobat Blog, ini cerpen baru yang saya buat setelah blog ini. Kalau cerpen yang sebelum-sebelumnya saya buat sebelum blog ini. Semua cerpen saya bisa dilihat di kategori Fiction. Setelah membaca ini, tolong ditanggapi ya. Terima kasih.

Sebuah Pertanda

Sebuah Pertanda

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Saya memang bukan orang yang pandai bicara. Pun untuk bercanda, saya bukanlah seorang yang ahli. Namun bersama itu saya menjadi seorang yang tak pandai untuk berbohong. Saya tak bisa berkata sesuatu yang bukan kenyataan. Lidah saya sudah diciptakan untuk mengatakan kenyataan-kenyataan yang nyata. Bukan untuk berdusta, bukan untuk bersaksi palsu.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Bahasa tubuh saya lebih menguasai keadaan daripada mulut saya yang sangat kaku. Jika si mulut terkunci, tentunya kau akan dengan mudah melihat apa keinginan hati saya lewat sikap tubuh saya. Bisa dari kaki, pundak, tangan, atau seluruh tubuh saya. Kawan, mungkin telingamu tidak mendengar, tapi matamu pasti jelas melihatnya. Karena seluruh tubuh saya pun tak bisa berbohong. Mereka semua tercipta sama seperti mulut saya, hanya saja mereka lebih pandai mengekspresikan diri.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Di atas mereka semua, mata dan wajah saya ini jelas lebih jujur dalam segala hal. Perhatianmu lebih kepada mereka. Oleh karenanya mereka berdua berperan lebih banyak dalam kejujuran. Ini adalah cara mereka bersaksi untuk sesuatu yang nyata di hidup ini. Pernah suatu hari saya menyesal memiliki mata dan wajah yang jujur. Namun sikap mereka lebih membawa saya ke dalam kebaikan. Salah satunya untuk menghadapimu. Baca lebih lanjut

Tornado Berpendar

Tornado

Tornado

Langit yang berwarna keemasan, awan yang mulai berpendar, dan angin yang nyaring bersiul. Ini adalah tanda awal bahwa bencana akan tiba, kurang lebih lima hari lagi. Seluruh penduduk desa berbondong-bondong mencari persediaan makanan. Mereka semua berusaha mengumpulkan bahan-bahan yang bisa diolah maupun yang dimakan langsung, baik itu yang berasal dari hutan, ladang, sungai, maupun lautan. Penduduk desa pun berubah menjadi pemburu dadakan.

Bencana yang sudah diperkirakan oleh nenek moyang mereka dua ratus tahun yang lalu sepertinya benar-benar akan terjadi. Pertanda yang bermunculan satu demi satu, menggetarkan hati mereka yang semula menganggapnya hanya takhayul. Sesuatu yang mereka anggap sebagai legenda bodoh itu serta merta menjadi kepercayaan yang begitu kuat dalam hati mereka.

Tan Hanamu adalah salah seorang muda yang ada di desa itu. Dia masih kecil. Umurnya delapan tahun. Ayahnya seorang nelayan spesialis Kraos, salah satu dari lima orang yang ada di dunia ini. Karena alasan itulah Tan Hanamu belum pernah menjumpai wajah ayahnya barang satu kali pun. Untungnya, Tan Hanamu masih memiliki ibu yang sangat menyayanginya. Wanita yang bekerja merawat kebun bunga Latios itu sangat sederhana dan berpikiran terbuka. Dia juga ramah dan mudah bergaul dengan berbagai macam orang.

Kehidupan Tan Hanamu bersama ibunya layaknya daun yang terapung di sungai tenang. Semuanya berjalan dengan lancar. Mereka hidup bahagia, walaupun sang Ayah hanya bisa berkirim kabar lewat sepucuk surat yang dikirimkan oleh kurir kapal.

Tan Hanamu, pasti kau sekarang sudah semakin besar, Nak. Berapa tinggi badanmu sekarang? Apakah sudah sebahu ibumu? Delapan tahun sudah ayah berada di permukaan laut. Itu artinya delapan tahun pulalah usiamu sekarang. Kau pasti mempunyai banyak teman kan, Anakku? Dulu ayah sudah mulai berusaha untuk mengumpulkan banyak teman ketika seusiamu. Ayah tidak pilih-pilih. Namun ayah tetap waspada dengan apa yang baik dan yang buruk bagi ayah. Dengarkan selalu apa yang ibumu katakan, Anakku. Dia tahu apa yang terbaik untukmu. Oh ya, sebelum ayah mengakhiri surat ini, ayah dengar kalau desa kita akan mendapatkan giliran bencana untuk yang pertama kali. Lindungi ibumu, Anakku. Kau tidak perlu mengumpulkan banyak makanan. Ambil secukupnya saja. Ibumu akan mengerti dengan apa yang kau lakukan nanti. Salam sayang, Ayah.

Tan Hanamu mendapatkan suratnya sebelum ibunya tahu. Kurir kapal yang berkumis garang namun ramah itu sudah menjadi paman bagi Tan Hanamu. Biasanya laki-laki itu mampir sejenak untuk minum air embun olahan ibu Tan Hanamu. Namun tidak untuk kali ini, dia harus segera berjaga lagi di kantornya mengingat dia belum tahu gejolak apa yang akan muncul ketika bencana itu tiba.

“Oh, tidak!” Tan Hanamu mendengar ibunya terpekik dari dalam rumah. Pria kecil itu segera menghampiri, siap membantu kalau ada yang tidak beres.

Sesampainya di dalam, Tan Hanamu mendapati ibunya sedang serius melihat televisi. Rupanya ada sesuatu yang mengejutkan terjadi kembali di luar sana. Tan Hanamu berdiri lebih dekat di layar televisi daripada ibunya.

“Sini, Anakku! Nanti matamu perih jika terlalu dekat dengan televisi,” ucap ibu Tan Hanamu sambil menepuk kursi di sebelahnya.

Sebuah pemandangan yang asing tertangkap mata Tan Hanamu. Awan berpendar yang bergulung-gulung mulai mencapai permukaan laut, serupa tiang penyangga langit. Angin tornado telah menghisap awan-awan itu dan mengajaknya meraba bumi. Menurut para ahli dan ilmuwan, awan berpendar itu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Terdapat gas beracun di dalamnya yang apabila terhirup ke dalam pernapasan akan menguapkan semua cairan di dalam tubuh. Manusia akan mati kering seperti mumi.

Tornado Berpendar,” begitu reporter menyebutkan, “diperkirakan sampai di daratan pertama, yaitu Desa Haiku, empat hari lagi. Pemerintah menghimbau seluruh warga agar mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tidak hanya berdiam diri di dalam ruangan bawah tanah, tetapi benar-benar mengungsi ke tempat yang tidak terjamah Tornado Berpendar. Karena menurut para ahli dan ilmuwan, awan ini dapat memasuki celah kayu hingga yang terkecil sekali pun.

Tan Hanamu berpaling pada ibunya yang tampak begitu cemas. Wanita itu begitu mengkhawatirkan keselamatan suaminya. Dia sendiri tidak tahu dimanakah suaminya itu berlayar. Yang ia ketahui adalah mereka berdua saling mencintai dan masih hidup hingga saat ini.

“Ibu,” panggil Tan Hanamu.

“Iya, Anakku?”

“Apa kita tidak melakukan hal yang dikatakan di televisi itu? Mengungsi.”

Ibu Tan Hanamu menggeleng mantap. Ia seperti sangat mengenal situasi ini. Dan bersamaan dengan itu, rasa cintanya kepada suaminya semakin kuat. Delapan tahun yang lalu, sebelum berlayar, ayah Tan Hanamu seperti sudah lebih dulu mengetahui akan datangnya situasi seperti ini. Dia sudah menyiapkan semuanya.

“Tinggal dirimu dan anak kita. Mungkin saat itu aku tak bisa menemui kalian. Namun yakinlah, bahwa setelah bencana itu lewat, aku akan selalu ada bersama kalian,” begitu kata ayah Tan Hanamu sambil memeluk istrinya yang sedang hamil delapan bulan. “Setiap ada kejadian yang menarik, aku akan selalu memberi kabar. Temanku akan mengirimkan surat kemari. Jamulah dia dengan baik karena kalian akan menjadi akrab dan sering bertemu.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Ibu?” pertanyaan Tan Hanamu membuyarkan lamunan ibunya. Pria kecil itu sangat penasaran dengan apa yang dipikirkan ibunya hingga ada sedikit senyum di bibirnya yang merah. “Apa kita tidak mengumpulkan bahan makanan sama seperti yang lain?”

Ibu Tan Hanamu mengangguk. “Kita juga mencari. Namun ingat, Anakku, jangan mencari makanan di tempat yang ramai diperebutkan banyak orang. Jangan pernah berselisih dengan orang yang kau temui, meskipun kau sudah mengenalnya dengan baik.”

Aku?

Apel untukku

Apel untukku

Entah mengapa aku tidak bisa berpikir. Aku tidak bisa mengingat kejadian apa saja yang telah aku alami. Aku tidak bisa mengingat namaku, rumahku, orang tuaku, teman-temanku, pacarku… Eh, aku sudah punya pacar atau belum ya? Kalau sudah, pasti dia begitu tersiksa dan menyesal pernah mengenalku. Mungkin dia akan menangis sejadi-jadinya dan menjadi gila. Ah, tidak! Itu terlalu sadis. Mungkin dia akan menghapusku dari ingatannya dan mencari idaman lain lagi. Sama seperti ingatan-ingatanku yang tercecer entah dimana. Aku melupakannya dan menganggapnya tak pernah ada.

Hh, aku menghela nafas keras-keras. Biar semua yang ada di ruangan putih ini mendengarnya. Aku tidak peduli pada bapak-bapak berambut putih yang terbangun gara-gara desahanku. Aku tidak peduli pada makian laki-laki bermuka preman yang berbaring di sebelahku. Dan aku lebih tidak peduli lagi pada ocehan suster perawat yang sedang mengganti kantung infusku. Dia terkejut karena aku tiba-tiba berulah setelah berjam-jam memandang kosong seperti patung.

Dengan berlalunya suster itu, maka berlanjut pula lamunanku. Ah, tidak! Aku tidak mau melamun lagi. Kalau hal ini kulanjutkan, bisa-bisa menjadi kebiasaan dan siapa pun yang melihatku akan menganggap aku sudah tidak waras. Padahal aku masih normal. Aku tidak berteriak-teriak atau menyanyi-nyanyi sendiri. Aku tidak menggoda orang lewat dan tidak tertawa sendiri saat melihat jarum jam yang berputar. Pokoknya aku masih sadar akan keberadaan diriku, walaupun sebagian besar memori yang memenuhi otakku telah tumpah dan terbawa aliran air got.

Mm, apa ini? Tanganku mendapati perban terbelit mengelilingi kepalaku. Seperti mau berangkat perang saja pakai beginian. Aku tidak mau kemana-mana kok! Aku tidak akan melarikan diri dari rumah sakit ini. Untuk apa aku memakai perban ini? Kalau seandainya kubuka saja, apa ada yang akan melarangku dan memarahiku?

“Ton, jangan!” sergah seorang laki-laki yang sedikit lebih tua dariku. Dia mendekat ke arahku dan menurunkan tanganku yang sedang bergerilya di sekitar belitan perban. “Kamu mau dimarahi suster lagi ya?” Walaupun kata-katanya tidak mengenakkan hatiku, tapi matanya menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira. Kok bisa begitu ya? Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang hebat?

“Kamu tidak mengantuk? Kamu tidak lapar? Kamu tidak haus?” Dia memandangku begitu dalam sambil memegang erat kedua lenganku. Semua yang ditanyakannya kujawab dengan gelengan karena aku memang tidak merasakan semua itu. Dia tersenyum dan mendudukkan dirinya sendiri di atas matras tempatku berbaring saat ini.

“Kamu mungkin lupa denganku. Kamu ingat siapa aku?” tanyanya. Aku menggeleng lagi. Aku berusaha mencari-cari file nama yang tersimpan dalam folder di otakku. Tapi yang kutemukan di sana hanyalah sarang laba-laba yang lengket. Sekali lagi, aku menggeleng. Dia tersenyum dan seperti sudah mengira gerakan apa yang akan dilakukan oleh kepalaku. Menggeleng.

“Aku kakakmu. Namaku Irwan. Dan kamu adalah adikku. Namamu adalah Anton. Mengerti?” laki-laki yang ternyata terikat darah denganku itu berkata perlahan, seperti menuntunku untuk mengeja kata-kata. Aku mendengarkannya dengan seksama. Ini adalah informasi penting yang harus selalu kuingat. Aku mulai mengisi pundi-pundi di dalam kepalaku dengan hal-hal yang harus kuketahui. Dan aku senang. Ternyata aku tidak sendiri dalam kekosongan ini. Namaku Anton. Dan Irwan, kakakku, akan membantuku untuk mengingat semua yang kulupakan. Akhirnya aku menemukan cahaya!

“Kamu ini dulunya nakal. Dan aku harap, di hidupmu yang baru ini, kamu menjadi orang baik-baik,” katanya sambil berjalan ke dekat meja. Dia meraih pisau?! Tidak! Apa yang akan kakakku lakukan? Atau jangan-jangan dia hanya orang lain yang mengaku sebagai kakakku?