Review: Sang Penyihir Badai (Storm Glass)

Sang Penyihir Badai (Storm Glass)
Sang Penyihir Badai (Storm Glass) by Maria V. Snyder
My rating: 4 of 5 stars

Buku berikutnya yang selesai saya baca adalah buku bergenre fantasi. Tentang dunia sihir, tapi berbeda dengan Harry Potter. Ketika pada HP sihir bersifat universal, dimana setiap orang bisa menggunakannya, di dunia tokoh Opal Cowan ini tidak begitu. Di sini, sihir adalah hal wajar, tapi setiap orang memiliki kemampuan dan bakatnya masing-masing. Opal Cowan, tokoh utamanya, adalah seorang murid dan pengrajin kaca. Novel ini mengisahkan petualangannya dan tidak berputar di kehidupan sekolahnya saja, The Keep.

Buku tebal untuk cerita fantasi semacam ini adalah hal yang lumrah. Saya hanya tidak menyangka kalau permasalahan di dalam ceritanya cukup kompleks. Storm Glass. Dari judulnya, saya mengira ini hanya tentang petualangan Opal dengan para Stormdancer. Nyatanya, tidak. Kecurigaan saya berawal ketika petualangan di daerah para Stormdancer ini selesai sementara buku dibaca belum sampai sepertiganya. Kemudian bermunculan masalah lainnya, tokoh lainnya, kekuatan lainnya.

Secara umum saya suka ceritanya (karena sudah dasarnya suka kisah fantasi), tapi hal yang mengganggu saya adalah seperti ada bagian-bagian kisah yang tidak saya ketahui. Memang, saya membaca novel ini sambil mengalir saja, tidak benar-benar saya perhatikan detilnya. Namun, tetap ada bagian-bagian yang tidak saya pahami asal muasalnya. Setelah saya selidiki, Storm Glass memang buku pertama dalam sebuah trilogi Glass. Tapi ini adalah kelanjutan dari trilogi pendahulunya, Study. Apakah saya harus membeli semua bukunya? Entah. Tapi kalau jodoh, pasti ketemu.

Dalam kisah ini, saya suka tokoh Leif, berikut sikap dan kata-kata yang ia keluarkan. Paling tidak suka pada tokoh Ulrick dengan sifat posesifnya yang menyedihkan.

View all my reviews

Review: Selembar Daun Momiji

Selembar Daun Momiji
Selembar Daun Momiji by Arizu Kazura
My rating: 2 of 5 stars

Kesalahan pertama yang saya lakukan sebelum membaca buku ini adalah membaca reviewnya. Jadi sedikit banyak saya sudah mengantisipasi bagaimana harus “bereaksi” saat membacanya.

Saya mencoba untuk objektif menilai novel ini. Bagi saya, novel ini sangat standar cerita romance. Saat membacanya, sedikit banyak saya membayangkan kalau tidak sedang membaca, tapi sedang menonton drama Jepang. Yah, seperti itulah. Saat membaca profil penulisnya, ternyata “Selembar Daun Momiji” ini adalah novelnya yang ketiga, yang berlatar Asia seperti dua novel sebelumnya. Saya yakin kalau penulis juga sangat suka menonton drama Jepang atau Korea atau semacamnya. Jadi tidak heran kalau hal tersebut membentuk ide cerita dan gaya kepenulisannya. Bagi penyuka drama, membaca cerita ini akan terasa familiar. Begitu juga bagi yang menyukai Jepang, penulis memasukkan beberapa info menarik mengenai tempat-tempat di Jepang.

Ada beberapa catatan dari saya, yang rupanya tidak jauh dari review lainnya. Namun ini hanyalah hal yang bersifat subjektif dan saya sendiri kurang begitu tahu kondisi aktualnya. Pertama, tentang karakter. Saya tidak tahu bagaimana lingkungan dan budaya yang muncul dalam sebuah keluarga Jepang-Indonesia, yang lama di Indonesia. Saya merasa banyak kehilangan karakter Yamada (tokoh utama) yang sesungguhnya. Meskipun kepribadian tiap orang berbeda, tapi lingkungan juga akan membentuk pola pikir dan sikap seseorang. Di sini saya tidak melihat Yamada yang S2 Kedokteran dan siswa andalan, anak dokter keturunan Jepang, dari keluarga Indonesia-Jepang, pendatang baru di Jepang. Begitu juga untuk Ryoko Satsuma yang sebelumnya mengira dirinya menderita HIV. Meskipun pada hampir setengah buku “kenyataan” ini menjadi rahasia untuk pembaca, setelah penulis menunjukkannya, saya hanya merasa ketakutan Ryoko akan “kenyataan” itu sangat tidak pas. Saya malah mengira Ryoko seperti pernah terlibat suatu peristiwa sehingga menghindari beberapa orang. Untuk tokoh Akira dan Hikari sudah disampaikan cukup baik, terutama Hikari.

Kedua, setting. Penulis sudah memilih setting tempat dan tokoh, dan menurut saya seharusnya setting ini bisa membuat cerita semakin padat. Lebih dari sekadar penggambaran tempat-tempat, memilih Jepang sebagai lokasi seharusnya bisa dikuatkan dengan penggambaran adat dan budayanya yang khas. Mengapa? Karena pembaca novel ini bukan orang Jepang dan hal-hal terkait budaya itu selalu menjadi kekuatan yang membuat pembaca merasa sedang di Jepang. Selain itu, kita juga dihadapkan pada latar belakang Yamada yang S2. Saya tidak yakin kegiatan seorang mahasiswa S2 Jepang adalah sesederhana yang digambarkan di novel.

Dua hal di atas adalah catatan untuk penulis agar novel berikutnya bisa lebih padat. Penulis perlu memperbanyak observasi agar novel tidak sekadar menampilkan masalah tokoh. Dan endingnya… terasa terlalu cepat dan begitu saja. Semoga bisa lebih digali agar lebih dramatis.

Ada satu hal yang menurut saya berhasil dilakukan oleh penulis. Apa? Yaitu membuat Yamada menjadi seorang yang sangat menyebalkan. Saya pribadi sudah pasti jengkel dengan sikap Yamada sejak pertama melihatnya berinteraksi dengan Ryoko. Saya tak habis pikir dengan apa yang membuat Ryoko suka darinya.

View all my reviews

Review: Truth or Dare

Truth or Dare
Truth or Dare by Rons Imawan
My rating: 3 of 5 stars

Sial. Buku ini menipu. Hahaha…! Sinopsis pada bagian belakang buku sangat menarik dan meyakinkan saya kalau ini novel misteri. Ditambah lagi, pada halaman depannya ada tulisan “16 rahasia. 16 tantangan. 16 kejutan”. Saya pun meyakinkan diri kalau ini pasti novel misteri seru. Namun ternyata buku ini adalah sebuah kumpulan cerpen dengan tema Truth or Dare. Sedikit kecewa, mengingat saya biasanya sedikit pilih-pilih kalau mau beli kumpulan cerpen. Dengan kata lain, saya tidak siap-siap dulu untuk kumcer ini. Ditambah lagi, penulis atau penyelenggara sayembara ini terbiasa menulis cerita konyol. Well, let’s see!

Jadi buku ini merupakan bentukan dari 16 cerpen pemenang sayembara yang diadakan oleh Rons Imawan. Selain keenam belas cerpen tersebut, ada juga sebuah cerpen dari penyelenggara sendiri yang kisahnya lebih panjang dan dibagi menjadi tiga bagian. Jadi total ada 17 cerpen.

Kumpulan cerpen ini murni dipersatukan oleh tema. Awalnya saya kira genrenya misteri saja, tapi rupanya tidak. Saya tidak terlalu kecewa karena saya bisa menemukan beberapa cerpen yang disajikan secara matang. Dan good point-nya, sebagian besar cerpen di sini punya twist. Sebagaimana buku kumpulan cerpen yang terdiri dari banyak penulis, buku ini tidak membosankan karena setiap cerpennya memiliki rasa yang berbeda. Bukan hanya karena genre, tapi juga ide dan gaya penulisannya. Saya bisa sebutkan beberapa cerpen yang saya suka dari buku ini, seperti “End the Truth or Dare!”, “Anomali Hitam”, dan “Rahasia Tanpa Teman”. Cerpen “Lentera Padam” juga cukup baik, meskipun endingnya saya kurang suka.

Setelah membaca semuanya, saya melihat kalau tidak semua penulis cerpen ini cukup familiar dengan Truth or Dare. Peraturan dan medium untuk melakukan permainan ini bermacam-macam. Saya juga melihat kalau peraturan sayembara ini sangat sederhana, sesederhana “asal ada unsur ToD di dalamnya”. Ada yang menjadikan ToD sebagai inti cerita, ada yang menceritakan hal lain tapi dengan ToD sebagai pemicunya.

Saya bukan termasuk orang yang tumbuh dalam lingkungan yang familiar dengan permainan yang menguji kejujuran dan nyali ini. Kalau pun ada yang main, saya pasti memilih untuk tidak ikut. Saya berpikir kalau ini adalah permainan bodoh yang hanya akan mempermalukan pemainnya. Namun, setelah membaca buku ini, saya bisa menangkap beberapa poin baik dari permainan ToD ini. Akhirnya saya hanya memberi bintang 3 untuk buku ini.

View all my reviews

Review: The Jacatra Secret

The Jacatra Secret
The Jacatra Secret by Rizki Ridyasmara
My rating: 3 of 5 stars

Teman-teman saya kaget dengan bacaan saya yang satu ini. Mengapa? Karena pada sampulnya tertulis “The Jacatra Secret – Misteri Simbol Satanic di Jakarta”. Mereka bertanya dengan wajah yang tidak mengenakkan seolah saya tertarik dengan buku tentang satan atau iblis. Halooo… saya hanya bisa beri penjelasan singkat kalau buku ini semacam [b:The Da Vinci Code|968|The Da Vinci Code (Robert Langdon, #2)|Dan Brown|https://d.gr-assets.com/books/1303252999s/968.jpg|2982101] versi Indonesia.

Saya bukan termasuk orang yang sangat tertarik dengan teori konspirasi, maka saya hanya bisa memberi bintang 3 untuk rating buku ini. Namun terlepas dari itu, saya memang hanya bisa maksimal memberikan segitu karena ada beberapa nilai minus dan plus yang saya alami selama membaca buku ini.

Jika difilmkan, buku ini hanya akan menjadi film action thriller yang tanggung. Tak heran sih, karena kejadian yang berlangsung cepat selama dua hari dimampatkan ke dalam 424 halaman. Hanya ada dua kejadian yang action banget, sisanya adalah kejadian cepat dan sunyi, juga paparan panjang lebar tentang sejarah. Nah, saya merasa paparan konspirasi ini memenuhi sebagian besar isi buku, dan menjadikan buku ini termasuk buku “berat” bagi saya. Setiap memasuki bagian di mana Doktor John Grant menyampaikan setiap pengetahuan yang dimilikinya, ketika Angelina Dimitrea terkesima, saya pun berjuang keras untuk mencerna kata demi kata. Ini murni karena saya bukan orang yang peduli dengan teori konspirasi. Beberapa hal memang membuat saya penasaran untuk melihat sendiri, tapi selebihnya saya lelah. Tak heran, saya lama sekali untuk bisa menyelesaikan membaca buku ini. Dan setelah membacanya, saya lega.

Namun, bagi saya, The Jacatra Secret memang harus begini. Ini sudah pas. Kalau penulis mengurangi sisi penjelasan sejarahnya, maka buku ini akan kehilangan kekuatannya dan tak beda dengan buku-buku fiksi kebanyakan. Saya salut dengan [a:Rizki Ridyasmara|760623|Rizki Ridyasmara|https://d.gr-assets.com/authors/1302442474p2/760623.jpg] selaku penulis, yang pasti sungguh-sungguh dalam melakukan riset untuk menyelesaikan buku ini. Tidak mudah menulis kisah seperti ini karena harus merangkai fakta dalam balutan fiksi. Dan penulis tentunya juga berhati-hati, karena hal-hal semacam konspirasi seperti ini sangat sensitif dan tak pantas untuk dibuat main-main.

Saya yakin buku ini akan memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang ada di Jakarta, terutama yang sering melewati tempat-tempat yang disebutkan di buku ini. Penulis mencoba untuk membuka mata pembaca untuk lebih memperhatikan hal-hal yang selama ini tidak diperhatikan. Dengan ending yang bukan ending, alias terdeteksi ada sekuel, maka akan lebih banyak lagi rahasia yang akan dipaparkan oleh penulis. Entah benar atau tidak.

Penulis sesekali berpindah sudut pandang dari petualangan John Grant, aksi Drago, dan tingkah Luthfi Samiri. Cara cerdas untuk mengenalkan tokoh kepada pembaca.

Beberapa gambar yang dilampirkan di bagian akhir buku adalah nilai tambah. Baik untuk mereka yang penasaran. Saya sendiri terkejut ketika melihat gambar bundaran Hotel Indonesia.

Terakhir, saya masih penasaran dengan angka [27 07 09 09 26] yang ditampilkan pada bagian akhir Ucapan Terima Kasih. Sebuah kode yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang tahu?

View all my reviews

Review: Furin Kazan

Furin Kazan
Furin Kazan by Yasushi Inoue
My rating: 4 of 5 stars

Akhirnya menjadi buku keempat yang bisa saya selesaikan. Dengan menyelesaikan membaca buku ini, itu artinya saya sudah membaca semua buku yang saya beli pada bulan Mei kemarin. 😀

Furin Kazan. Buku ini mainly bercerita tentang seorang ahli strategi bernama Yamamoto Kansuke dalam kehidupannya yang penuh dengan peperangan. Kisah yang ada di dalam buku ini tidak hanya melulu perang, meskipun sebagian besar berkisah tentang itu. Kita akan ditunjukkan berbagai keputusan Kansuke untuk menjadikan kemungkinan-kemungkinan di masa depan mengarah pada sebuah keberhasilan. Kadang saya merasa Kansuke adalah sosok yang egois meskipun sebenarnya semua keputusannya didasarkan untuk kebaikan tuannya. Meskipun begitu, saya masih suka dengan karakter ini.

Hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah bagian endingnya. Tidak tahu kenapa, pada bab terakhir terasa sangat menegangkan dan saya membaca kata-katanya sangat lama. Endingnya jelas, tapi dihentikan sebelum sampai ke sana. Hal itu yang membuat saya geregetan (baca: excited).

Di dalam buku ini banyak digunakan pendeskripsian latar sebagaimana keinginan penulis menggambarkan lokasi perang kepada pembaca. Saya perlu membaca sekali lagi untuk bisa memahami settingnya. Overall saya suka, tapi paling suka bagian endingnya.

View all my reviews

Review: Heidi

Heidi
Heidi by Johanna Spyri
My rating: 5 of 5 stars

Buku ketiga yang saya baca dan yang paling saya nikmati sejauh ini. Heidi, buku ini berkisah tentang kehidupan seorang gadis kecil yang begitu ceria. Dia membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Satu kesimpulan yang saya dapatkan dari buku ini adalah “Buku ini penuh dengan kebahagiaan”.

Saya tidak bisa berhenti membaca buku ini karena selalu diikuti dengan rasa penasaran, ada hal menyenangkan apa yang terjadi setelah ini. Kita sebenarnya juga akan menemukan hal-hal yang membuat sedih di dalamnya, tapi penulis cerita ini menjadikan kisahnya begitu bersinar dan memberikan pencerahan.

Buku ini sangat penuh dengan petuah dan pelajaran yang berguna bagi kehidupan. Semuanya tersampaikan secara natural tanpa menggurui. Ini semua berkat Heidi. Saya jadi ingin tahu, apakah di jaman seperti ini benar-benar ada anak seperti dia. Jika ada, mereka yang ada di sekitarnya pasti sangat bersyukur.

View all my reviews

Review: The Secret History of the Lord of Musashi and Arrowroot: Two Novels

The Secret History of the Lord of Musashi and Arrowroot: Two Novels
The Secret History of the Lord of Musashi and Arrowroot: Two Novels by Jun’ichirō Tanizaki
My rating: 3 of 5 stars

Sebagai bacaan kedua, pada beberapa halaman pertama saya mengira bahwa saya telah salah dalam memilih bacaan. Saya mengira bahwa buku ini berisi analisis atau bahasan dari berbagai kitab mengenai sejarah Jepang masa lampau. Namun, karena saya bertekad untuk menyelesaikan apapun yang saya baca, akhirnya saya terus membacanya… dan rupanya tidak seburuk itu.

Sebagaimana yang terdapat pada sinopsisnya, buku ini berisi dua kisah yang berbeda. Keduanya tidak berhubungan. Menurut saya, penulis hanya ingin menjadikan apa yang telah ditulisnya menjadi sebuah buku. Berhubung satu kisah saja terlalu tipis untuk disebut buku, maka dia menggabungkan keduanya. Itu menurut saya.

Saya tidak begitu menikmati ketika membaca buku ini, tapi sesekali, pada beberapa bagian tertentu saya bisa tenggelam. Tulisan Junichirou Tanizaki ini gabungan antara fiksi dan opini, atau mungkin juga analisisnya dari berbagai kitab dan sejarah Jepang yang saling berkaitan. Well, ini semua hanya opini saya yang seorang penikmat fiksi. Bagi pembaca yang sudah memahami sejarah Jepang atau menyukai hal-hal yang bersifat historikal, bacaan ini pasti sangat menyenangkan.

View all my reviews

Review: Enzo: The Art of Racing in The Rain: Novel tentang Seekor Filsuf

Enzo: The Art of Racing in The Rain: Novel tentang Seekor Filsuf
Enzo: The Art of Racing in The Rain: Novel tentang Seekor Filsuf by Garth Stein
My rating: 5 of 5 stars

Saya memilih buku ini sebagai bacaan pertama setelah sekian lama tidak benar-benar membaca buku. Menyelesaikan membaca buku ini sangat luar biasa. Cukup berkesan sebagai langkah awal membiasakan diri membaca buku. Namun, seharusnya buku 400 halaman ini bisa diselesaikan lebih cepat daripada 3 bulan.

Novel karya Garth Stein ini menarik karena menggunakan sudut pandang Enzo, seekor anjing, untuk menggambarkan berbagai kejadian di sekitarnya. Semuanya menggunakan cara pikir dan pendapatnya sendiri, si anjing. Saya selalu merasa tergelitik setiap Enzo membicarakan bahwa semuanya akan lebih baik kalau dia memiliki jempol, seperti manusia. Saya jadi penasaran, apakah anjing benar-benar berpikir seperti itu di dalam batinnya.

Sesungguhnya apa yang ada di dalam buku ini adalah kisah tentang tuannya, Denny Swift, yang seorang pembalap. Selain Denny, juga ada istrinya, Eve, dan anak perempuannya, Zoe. Kehidupan tuannya ini jungkir balik dan semua diceritakan dari sudut pandang sosok yang bukan manusia.

View all my reviews