Senyum Manis Itu…

“Aku berhasil. Beasiswa ke Jerman itu…” dia begitu bahagia sampai kehabisan kata-kata. Baru kali ini aku melihat senyumnya semakin manis dalam rona bahagia wajahnya. Aku tak bisa mengalihkan senyuman itu dari ingatanku.

Perjalanan dari kampus ke kos kali ini, aku ingin berjalan kaki saja. Motor kutinggal di parkiran kampus. Aku sedang ingin berjalan sendiri menghabiskan waktu sambil menikmati bayangan akan senyumnya. Tak tergantikan dan tak akan pernah tergantikan, senyum dari wajah yang bahagia itu.

Setitik air menetes di pipiku. Aku melihat ke atas. “Ah, hujan,” gumamku. Namun, aku tidak serta merta berlari mencari tempat berteduh. Lama kelamaan, titik air itu berubah menjadi gerimis, lalu hujan. Aku tak kuasa berlari. Aku hanya bisa berjalan, dan tak lupa membayangkan senyum manis itu.

“Bro,” seseorang menyapaku. Aku menoleh, dan melihat sahabatku mengajakku menghindari hujan dengan duduk di boncengan motornya. Aku menolaknya. Dia memandangku aneh dan akhirnya meninggalkanku.

Biarkan aku hujan-hujan kali ini. Aku hanya ingin bersembunyi…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s