Review: Selembar Daun Momiji

Selembar Daun Momiji
Selembar Daun Momiji by Arizu Kazura
My rating: 2 of 5 stars

Kesalahan pertama yang saya lakukan sebelum membaca buku ini adalah membaca reviewnya. Jadi sedikit banyak saya sudah mengantisipasi bagaimana harus “bereaksi” saat membacanya.

Saya mencoba untuk objektif menilai novel ini. Bagi saya, novel ini sangat standar cerita romance. Saat membacanya, sedikit banyak saya membayangkan kalau tidak sedang membaca, tapi sedang menonton drama Jepang. Yah, seperti itulah. Saat membaca profil penulisnya, ternyata “Selembar Daun Momiji” ini adalah novelnya yang ketiga, yang berlatar Asia seperti dua novel sebelumnya. Saya yakin kalau penulis juga sangat suka menonton drama Jepang atau Korea atau semacamnya. Jadi tidak heran kalau hal tersebut membentuk ide cerita dan gaya kepenulisannya. Bagi penyuka drama, membaca cerita ini akan terasa familiar. Begitu juga bagi yang menyukai Jepang, penulis memasukkan beberapa info menarik mengenai tempat-tempat di Jepang.

Ada beberapa catatan dari saya, yang rupanya tidak jauh dari review lainnya. Namun ini hanyalah hal yang bersifat subjektif dan saya sendiri kurang begitu tahu kondisi aktualnya. Pertama, tentang karakter. Saya tidak tahu bagaimana lingkungan dan budaya yang muncul dalam sebuah keluarga Jepang-Indonesia, yang lama di Indonesia. Saya merasa banyak kehilangan karakter Yamada (tokoh utama) yang sesungguhnya. Meskipun kepribadian tiap orang berbeda, tapi lingkungan juga akan membentuk pola pikir dan sikap seseorang. Di sini saya tidak melihat Yamada yang S2 Kedokteran dan siswa andalan, anak dokter keturunan Jepang, dari keluarga Indonesia-Jepang, pendatang baru di Jepang. Begitu juga untuk Ryoko Satsuma yang sebelumnya mengira dirinya menderita HIV. Meskipun pada hampir setengah buku “kenyataan” ini menjadi rahasia untuk pembaca, setelah penulis menunjukkannya, saya hanya merasa ketakutan Ryoko akan “kenyataan” itu sangat tidak pas. Saya malah mengira Ryoko seperti pernah terlibat suatu peristiwa sehingga menghindari beberapa orang. Untuk tokoh Akira dan Hikari sudah disampaikan cukup baik, terutama Hikari.

Kedua, setting. Penulis sudah memilih setting tempat dan tokoh, dan menurut saya seharusnya setting ini bisa membuat cerita semakin padat. Lebih dari sekadar penggambaran tempat-tempat, memilih Jepang sebagai lokasi seharusnya bisa dikuatkan dengan penggambaran adat dan budayanya yang khas. Mengapa? Karena pembaca novel ini bukan orang Jepang dan hal-hal terkait budaya itu selalu menjadi kekuatan yang membuat pembaca merasa sedang di Jepang. Selain itu, kita juga dihadapkan pada latar belakang Yamada yang S2. Saya tidak yakin kegiatan seorang mahasiswa S2 Jepang adalah sesederhana yang digambarkan di novel.

Dua hal di atas adalah catatan untuk penulis agar novel berikutnya bisa lebih padat. Penulis perlu memperbanyak observasi agar novel tidak sekadar menampilkan masalah tokoh. Dan endingnya… terasa terlalu cepat dan begitu saja. Semoga bisa lebih digali agar lebih dramatis.

Ada satu hal yang menurut saya berhasil dilakukan oleh penulis. Apa? Yaitu membuat Yamada menjadi seorang yang sangat menyebalkan. Saya pribadi sudah pasti jengkel dengan sikap Yamada sejak pertama melihatnya berinteraksi dengan Ryoko. Saya tak habis pikir dengan apa yang membuat Ryoko suka darinya.

View all my reviews

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s