Surat Impian Kepada (Calon) Penulis

Hai, penulis!

Apa kabarmu? Kau sudah sangat lama tidak menulis dan sekarang memutuskan untuk membuat sebuah posting di blog. Kalau digambarkan sebagai sebuah rumah, blog ini mungkin sudah bau debu dan dipenuhi sarang laba-laba. Apakah kau sudah bangkit dari hiatus?

Aku tahu, dalam hati kau berharap kalau bisa aktif menulis lagi seperti dulu. Namun kau juga tidak bisa memungkiri bahwa kesibukanmu masih sering membuatmu berpaling dari cita-cita dan impianmu. Kau masih ingin menjadi seorang penulis. Impianmu untuk menghasilkan buku masih ada. Namun untuk membuatnya menjadi nyata, kau tertatih.

Penulis, kau sedang masuk masa pemulihan. Aku tahu, karena kau sudah memutuskan untuk membuat tulisan ini tanpa berpikir panjang. Kau berusaha kembali seperti dulu, membuat tulisan yang mengalir seiring dengan kedipan mata dan tarikan nafasmu. Tak perlu memikirkan kata-kata. Kau hanya mendengarkan yang aku katakan, dan mengetiknya. Hahaha… untung sekali ada teknologi, sehingga kau bisa menulis cepat semua perkataanku. Kalau saja kau masih menulis menggunakan pena, tentunya kau akan kehilangan banyak kata yang baru saja keluar dari mulutku.

Apakah hujan membuat hatimu sejuk, dan merasa ingin menulis? Kalau memang ya, maka aku ingin hujan turun setiap hari. Jika suasana ini bisa membuatmu bersemangat untuk menulis lagi, maka aku akan selalu berdoa kepada Tuhan untuk menciptakan suasana seperti ini kepadamu setiap hari. Kau mulai memikirkan lagi impianmu menjadi seorang penulis, itu saja sudah membuatku amat senang. Kau tidak melupakanku. Itu sangat berarti.

Kau berniat membuat satu tulisan setiap harinya. Dulu kau juga pernah berniat seperti itu. Aku mencium kebimbangan di hatimu, karena kau sadar kalau kau orangnya angin-anginan. Sekarang kau bersemangat dan yakin kalau semangat ini akan tetap sama besok. Tapi kenyataannya kau tetap tidak tahu. Apa yang terjadi 10 menit ke depan, kau juga tidak tahu. Kau tahu kalau kau tidak tahu. Itu yang membuatmu bimbang dan aku sangat menghargai itu.

Penulis, tahukah kamu? Saat kau meninggalkan, atau bahkan melupakan aku… Ah, bukan melupakan, aku yakin kau hanya tidak sempat untuk memikirkanku. Aku tak mengapa. Karena aku percaya kau tidak akan pernah meninggalkan aku, maka aku akan tetap di sini dan menunggu kau memanggilku lagi dan mendengarkan semua pemikiranku. Saat kau siap untuk membagi semua pemikiranku kepada dunia kembali, maka aku akan selalu ada… semoga begitu.

Hahaha… kau pasti sangat senang aku bisa memanggilmu ‘penulis’. Itu panggilan yang keren. Di dunia nyata, aku tahu kau senang dipanggil begitu, tapi juga tidak senang karena kau belum merasa menjadi penulis yang sesungguhnya. Oleh karena itu, marilah kembali bersama-sama melangkah, melalui ketikanmu dan suaraku, kita menjadi satu.

Jujur, aku rindu ketika kau bisa menghabiskan waktu begitu lama bersamaku. Kita merangkai kata dengan begitu liar dan tak peduli akan tanggapan orang. Kau tidak peduli akan makna yang keluar dari setiap kolaborasi kita. Karena setiap apresiasi orang berbeda, maka kau tidak terlalu memusingkan arti dari setiap karya kita. Bahkan apresiasimu dan apreasiasi masa lalumu atau apresiasi masa depanmu, kau tahu kalau itu semua bisa berbeda. Kau tidak peduli dan aku rindu akan hal itu.

Oh, kau sudah memutuskan untuk menyudahi pertemuan singkat kita hari ini. Apakah kita akan bertemu lagi? Aku menunggu.

Impianmu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s