Selamatkan Aku!

Selamatkan aku!

Aku menggila dalam deru rintik hujan yang kiranya lama baru henti. Kakiku menapak buta arah, menembus apapun yang bisa diinjak. Tanah basah. Lempung dingin. Pasir menggumpal. Genangan air keruh. Rumput yang berkeringat. Kutapaki semua tanpa tahu harus kemana aku berlari sekarang. Aku hanya ingin pergi jauh, jauh, jauh dari dinginnya tatapan mata tak kenal kasihan itu. Guratan cibir di bibirnya sungguh ingin kurobek, biar sumbing sekalian. Tapi aku tidak bisa. Dia terlalu angkuh dan aku terlalu lemah. Aku hanya bisa berlari menjauh, tenggelam dalam derasnya air mata langit.

Biar tubuh ini menggigil. Hatiku sudah mati rasa kena dinginnya sikap yang sudah diselimutkannya ke sekujur tubuhku. Mungkin aku sudah seperti makanan kaleng yang bertahun-tahun tersimpan di pojokan ruang pendingin. Aku beku, aku muda, tapi seharusnya sudah membusuk sejak lama. Aku sudah sangat hilang seperti lidah yang lebam terbakar. Aku sudah sangat kacau hingga tak kuketahui mengapa aku semakin menyiksa diri dengan dinginnya dunia ini.

Ah, ternyata semuanya sudah telanjur dingin. Aku tak punya tempat untuk berlari lagi. Aku meringkuk dalam bayang-bayangku yang makin lama makin gila juga. Tak ada yang bisa selamatkanku. Tidak ada.

. . .

Kontrol A. Kontrol S. Shift Delete. Uninstall. Siram air. Banting. Lempar. Habis perkara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s