Pening

Aku… aku… aku tidak bisa menemukan siapa-siapa lagi. Berharap ini semua hanya mimpi buruk, tapi bukan. Dalam sekejap, dalam kedipan mata, tawa berubah menjadi jeritan dan kesunyian. Malam, hujan, hutan, sebuah kombinasi sempurna untuk film horor yang membuat bulu kuduk berdiri. Namun, ini bukan film, ini nyata.

Saat kepalaku pening, bintang-bintang di langit seperti menghujaniku dengan kelap-kelip yang membuatku buta. Tubuhku gontai dan tak memiliki satu alasan apapun untuk tetap berdiri. Aku roboh. Akhirnya aku terbangun dengan sosok tubuh kaku dan bersimbah darah di depanku. Di ruangan ini, hanya ada aku dan tubuh tak bernyawa itu, temanku. Jendela yang terbuka membuat air hujan masuk dan menerpa wajahku. Tangan kananku memegang kepalanya, tangan kiriku menahan tangan kanannya yang sedang memegang pisau, tubuhku menindih tubuhnya. Hal lain yang kudapati dari pemandangan di depanku adalah darah muncrat dari belakang kepalanya.

Seseorang membuka pintu. Saat aku menoleh, dua orang berdiri di sana dengan pandangan penuh keterkejutan dan tak percaya.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya seorang di antaranya sambil berjalan mundur. Saat itulah aku merasakan pening kembali menyerang kepalaku. Bintang-bintang menghujaniku dengan kelap-kelipnya. Aku roboh. Tak ada yang bisa kuingat selain jeritan dan kesunyian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s