Cerita Sudut Pandang Orang Kedua?

Hari ini saya membaca sebuah tulisan mengenai ‘Perspektif’ dalam penulisan cerita dari blog Mas Teguh. Oh iya, bagi kalian yang suka menulis, blog Teguh Puja ini sangat baik untuk dibaca karena akan menambah wawasan kalian. Nah, pada kesempatan kali ini, entah mengapa saya ingin membuat tulisan tentang sebagian dari tulisannya tentang ‘Perspektif’ atau Point of View ini, yaitu tentang sudut pandang orang kedua. Ini pendapat saya.

Sebenarnya adakah sudut pandang orang kedua itu?

Tentu kita pernah mendapat ajaran di pelajaran Bahasa Indonesia tentang sudut pandang cerita. Orang pertama, orang ketiga. Sesederhana itu kita mendapatkan ilmu dari sekolah, dan pada kenyataannya tidak sesederhana itu di dunia penulisan sesungguhnya. Saya coba googling tentang sudut pandang cerita dan menemukan begitu banyak variasi dari sudut pandang orang pertama dan ketiga. Apakah sudut pandang orang kedua juga ada? Ya, ada. Dan saya mengakuinya sebelum membaca semua teori ini bahwa sudut pandang cerita orang kedua itu benar-benar ada.

Apakah tantangan menulis menggunakan sudut pandang orang kedua?

Kita tentunya tahu bahwa setiap sudut pandang memiliki tantangannya masing-masing. Cerita dengan sudut pandang orang pertama menggunakan ‘aku’ untuk membuat pembaca berperan sebagai tokoh utama. Sementara itu, cerita dengan sudut pandang orang kedua menggunakan ‘kamu’. Tantangannya adalah mampukah kita sebagai penulis benar-benar menjadikan pembaca sebagai tokoh utamanya. (Kesampingkan sudut pandang orang ketiga karena memang pada hakikatnya pembaca adalah orang lain).

Membuat pembaca sebagai pemeran utama pada sudut pandang orang pertama sebenarnya tidak terlalu sulit. Kata ‘aku’ sangat mudah diterima oleh pembaca. Kita seperti memberikan mata pemeran utama itu kepada pembaca. Namun, tidak semudah itu dengan sudut pandang orang kedua. Bukan hanya sekadar menggunakan ‘kamu’. Bagi saya, keberhasilan menulis menggunakan sudut pandang orang kedua itu adalah ketika pembaca merasa bahwa ‘kamu’ adalah benar-benar dirinya. Saya sering membaca cerita sudut pandang orang kedua, tapi tidak benar-benar merasa bahwa ‘kamu’ adalah saya sendiri. Rasanya seperti sedang mendengarkan cerita orang lain tentang orang lain yang sangat dekat dengan dirinya. Saya hanya mendengarkan kisah orang itu. Pada keadaan seperti ini, saya merasa penulis kurang berhasil merealisasikan sudut pandang orang kedua ini.

Apa yang saya rasakan itu mungkin seperti yang ada pada halaman ini. Sudut pandang orang pertama bukan tokoh utama, tapi dengan benar-benar menghindari penggunaan ‘aku’. Nah, itu berarti masih belum berhasil menggunakan sudut pandang orang kedua, kan?

Apakah saya sudah bisa menulis dengan sudut pandang orang kedua yang benar?

Entahlah, saya tidak tahu. Yang jelas harus terus berlatih agar benar-benar membuat pembaca sebagai ‘kamu’. Mungkin perlu pemilihan kata dan proses berpikir yang tepat.

Saya sendiri kurang tahu, pendapat saya ini apakah simply karena saya tidak mau menerima ‘kamu’ itu adalah saya sendiri atau karena kekurangberhasilan penulis. Ataukah mungkin ada kondisi khusus yang harus diketahui penulis agar tulisannya benar-benar menjadikan pembaca adalah ‘kamu’. Well, practice makes perfect, doesn’t it?

Oh iya, saya komentar begini di blognya Mas Teguh:

Sudut pandang orang kedua, benar saya ingat seri Goosebumps, khususnya yang petualangan dimana kita memilih sendiri jalan ceritanya. Bagi saya, cerita dengan sudut pandang orang kedua itu menarik, tapi agak sulit untuk menjadi benar-benar orang kedua. Entah mungkin karena saya kurang referensi atau memang membaca cerita dengan sudut pandang orang kedua itu butuh latihan biar sungguh-sungguh orang kedua.

Gambarannya seperti ini:
Cerita sudut pandang orang kedua itu seperti saya sebagai orang pertama yang sedang berbicara sendiri tentang orang lain. Apa yang dia lakukan, apa yang dia rasakan. Jangan perhatikan saya, tapi perhatikan orang yang saya ceritakan itu. Jangan perhatikan saya karena saya tidak sedang bercerita kepada pembaca. Anggap saya hantu yang sedang berbicara sendiri, atau lebih tepatnya berbicara dengan orang itu tapi dalam hati. Jadi kesannya keintiman saya lebih ke orang itu, bukan ke pembaca.

Mmm… gimana ya biar lebih jelasnya?
A = saya, B = kamu, C = pembaca.
A menceritakan setiap gerak dan pikiran B. C mendengarkan setiap perkataan A, tapi A tidak peduli keberadaan C.

Ah, entahlah. Kira-kira seperti itu yang saya rasakan jika menulis cerita dengan sudut pandang orang kedua.

Nah, apa yang saya gambarkan itu adalah perasaan yang muncul ketika sudut pandang orang kedua itu kurang berhasil, karena pembaca bukan peran utama. Penulisan yang benar adalah ketika B dan C melebur menjadi satu. Itulah hal yang harus bisa dicapai oleh penulis cerita sudut pandang orang kedua.

Iklan

One thought on “Cerita Sudut Pandang Orang Kedua?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s