Ojek Payung

“Payungnya, Bu! Payung!” suara anak-anak itu langsung terdengar begitu aku keluar dari pusat perbelanjaan. Ah, ya, tentu saja karena hari sedang hujan. Anak-anak ojek payung itu dengan sekuat tenaga mencari orang yang membutuhkan bantuan mereka, atau lebih tepatnya payung mereka. Tidak ada salahnya mereka muncul di sini. Pusat perbelanjaan ini memang hanya memiliki tempat parkir outdoor. Keberadaan mereka tentu sangat membantu.

Seorang gadis mendatangiku dengan payung kuning besarnya. Dia sudah tersenyum ketika dia melihatku muncul dari balik pintu.

“Payung, Bu? Parkir dimana?” tawarnya.

Aku tidak tahu namanya. Tapi entah mengapa kami sering berpasangan, seolah aku ini adalah pelanggan tetapnya.

“Apesnya tadi saya parkir paling pojok sana,” jawabku.

“Mari, Bu!” sahutnya sigap.

Kami berdua saling berpegangan pada gagang payung. Kami berdua menembus hujan dengan sedikit berjalan cepat. Aku tidak ingin belanjaanku ini basah, meskipun sudah berada di dalam tas plastik. Beberapa menit melangkah membawa kami sampai pada mobil kecilku. Aku segera masuk dan memberikan uang kepada gadis itu, sebagaimana mestinya.

“Terima kasih, Bu. Hati-hati di jalan!” serunya sambil melambaikan tangan. Dia memberikan senyum lagi. Aku juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s