Jejak Kaki

Aku keluar dari kamar dengan malas. Malam tadi hujan sangat deras. Sekarang udara jadi terlalu dingin dan aku sangat ingin melanjutkan tidurku. Tapi mau bagaimana lagi? Kesibukan tetaplah kesibukan. Bangun pagi, mandi, berangkat ker… Hei! Apa ini?

Tak sengaja aku menginjak sesuatu yang ada di lantai. Tidak ada apa-apa, hanya sesuatu yang basah, dan pemandangan tak mengenakkan dari lantai yang kotor. Beberapa cetakan serupa muncul dari pintu depan, melewati ruang utama, berputar-putar di ruang makan. Jejak-jekak kaki ini…

Kudapati pintu depan dalam keadaan terbuka. Gagang bagian depan sudah rusak, membuat pintu ini jadi terlihat tidak sempurna lagi. Ruang utama terlihat normal, tapi isi dari laci kerjaku jadi sangat semrawut. Ruang makan paling parah. Selain menjadi sangat kotor, makanan di meja sudah tak bersisa. Kulkas juga tak berisi.

“Aduh, apa lagi ini?” keluhku lemas. Belum-belum aku sudah kehabisan tenaga untuk panik. Apalagi melihat jejak kaki itu mengarah ke lantai dua. Di sana hanya ada sebuah kamar kosong, dan sayup-sayup aku mendengar suara dengkuran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s