Hujan dan Doa

Sangat puas rasanya, akhirnya bisa melihat pertunjukan barongsai di klenteng. Ini memang bukan tahun baru Cina yang pertama, tapi baru kali ini entah mengapa aku sangat ingin melihat atraksi pemain barongsai dan mendengar tabuhan tamburnya  yang sangat seru. Apakah ini karena keinginan si jabang bayi?

Aku dan suamiku pulang naik becak. Kami berpegangan tangan. Sedikit malu sih, tapi biarlah. Siapa juga yang peduli? Kami kan sudah menikah dan mau punya anak. Tapi tukang becak itu kuat nggak ya membawa kami berdua, eh bertiga?

“Bagus ya, atraksinya tadi?” tanya suamiku untuk kesekian kalinya. Aku mengangguk lagi. Harus kuakui atraksi barongsai tadi luar biasa. Tidak menyesal melihatnya, kami harus berterima kasih dengan anakku ini. Semoga dia menjadi anak yang luar biasa.

“Eh, hujan,” gumamku saat beberapa titik air jatuh di kakiku. Tukang becak segera meminggirkan becaknya dan dengan sigap dia memasang plastik penutup di depan kami.

“Saya tutup dulu ya, Pak, Bu,” kata tukang becak sambil mengikat ujung plastik ke rangka becak. “Kata orang, kalau hujan begini artinya doa-doa pada dikabulkan. Kalau Imlek begini mesti sering hujan.”

Aku dan suamiku hanya bisa tersenyum mendengarkan tukang becak yang bercerita dengan semangatnya. Ya, Pak. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s