Menangkap Petir

Tidak seperti biasa, mendung siang ini terlihat sangat menakutkan. Awan hitam yang bergulung-gulung itu seperti raksasa yang siap menerkam siapa saja. Awan itu terasa begitu dekat dengan kepala. Suara gemuruh juga seperti tiada henti, seperti dengkuran seseorang yang begitu besar dan tak terlihat.

Aku sangat ketakutan, tapi tak mengerti mengapa harus menantang maut dengan berdiri di lapangan ini. Tidak sendiri, tapi berdua bersama rekanku yang sangat terobsesi dengan semua fenomena ini. Matanya tampak berbinar ketika memandangi kelabu yang menutupi langit itu. Tangannya sedang dalam posisi siaga dan akan mampu bergerak cepat ke segala arah bersama kameranya. Kami memang belum melihat segaris kilatan petir, tapi percik kilat yang tersembunyi di balik awan sudah mondar-mandir sejak tadi.

“Kita akan menangkapnya kali ini!” katanya penuh semangat, sambil menahan tubuhnya agar tidak melayang tertiup angin kencang.

Aku sudah tidak mau lagi berdebat dengannya. Aku tidak menyukai hal ini, tapi tidak bisa juga meninggalkannya. Sudah sejak musim hujan ini dimulai, dia sangat terobsesi menangkap gambar petir. Beberapa hari yang lalu, kuakui dia mendapatkan beberapa gambar yang luar biasa. Petir yang terbang ke bumi seperti seekor naga. Mereka seperti sedang bermain petak umpet. Hanya saja, aku tak tahu, di permainan ini, siapa yang mengejar dan siapa yang menangkap.

Sebuah kilat membutakan mataku. Tak pernah kuketahui kilat macam apa itu. Apakah kilat dari petir atau blitz kameranya? Tak pernah kuketahui apa yang terjadi detik-detik berikutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s