Lagu Hujan

Tik… tik… tik…
Bunyi hujan di atas genting.
Airnya turun tidak terkira.
Cobalah tengok dahan dan ranting.
Pohon dan kebun basah semua.

Adik tidak berhenti menyanyi lagu itu. Dia sudah tiga tahun dan mulai menghapal banyak lagu. Beruntung di rumah kami masih banyak lagu anak-anak. Jadi ada yang bisa dinyanyikannya pada waktu senggang seperti ini. Lagu hujan itu adalah yang paling sering dinyanyikannya, entah mengapa.

Aku baru saja pulang les. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Adik bermain di lantai dengan beberapa mainan balok rumah-rumahan. Bedak putih sudah membekas di wajah adik. Baunya juga harum. Itu artinya, dia sudah mandi. Ibu duduk di sebelah adikku sambil menyuapinya, hampir habis. Rasanya ayah belum pulang dari tempat kerja. Kulihat motor bebek yang biasa dipakai ayah tidak ada di teras.

Ibu masuk ke dalam karena adikku sudah selesai makan, dan ada aku di sini yang bisa menjaga adikku bermain.

“Tik… tik… tik…,” dia akan bernyanyi lagi.

“Eh, jangan nyanyi dulu!” potongku, membuatnya terkejut. “Ayah belum pulang. Nanti ayah kehujanan.”

Kelihatannya adikku mengerti apa yang kumaksud. Dia tidak bernyanyi. Kulihat awan hitam di luar mulai berkumpul, tapi beberapa detik kemudian terurai lagi dan menghilang.

Iklan

One thought on “Lagu Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s