Secangkir Coklat Panas

Hujan dan secangkir coklat panas adalah yang mengingatkanku saat pertama kali kita bertemu. Di dalam bilik kafe, ketika aku memutuskan untuk rehat sejenak sambil menunggu hujan reda. Kau sudah lebih dulu menikmati waktumu di salah satu pojok dekat jendela, sendiri. Kudengar kau memesan secangkir coklat panas dengan suaramu yang entah mengapa terasa tidak asing. Maka tak lama kemudian aku memesan menu yang sama.

Aku mengamatimu lama dan kau tidak tahu. Tak banyak yang kau lakukan di pojok itu, sendiri. Kau hanya sesekali menatap langit hujan, menikmati coklat panasmu, dan sesekali menuliskan sesuatu di catatan kecilmu. Kau seperti sedang menghabiskan waktumu saja, tapi mungkin juga kau sedang menunggu seseorang. Aku sendiri tidak tahu mengapa harus peduli padamu, mengapa bukan pelayan kafe atau pengunjung acak yang lain. Pengamatanku berhenti tatkala hujan mereda dan coklat panas kita habis secara bersamaan. Kau keluar, aku juga. Mata kita bertemu beberapa detik, kemudian berlalu.

Kau mungkin tidak ingat pernah mengalami hal itu. Dan itu juga tidak terlalu penting untuk diingat. Selama ternyata kita sering menghabiskan waktu bersama di kafe ini, dengan coklat panas kita masing-masing, itu saja sudah cukup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s