Terusir

Ini adalah malam kesekian aku berjalan pilu menyusuri pintu-pintu pagar rumah yang tertutup. Lampu-lampu jalan menyala malas. Beberapa redup, beberapa kelap-kelip. Sampai musim hujan datang, aku masih menyusuri pintu-pintu pagar rumah yang tertutup, satu satu.

Masih adakah tempat untukku pulang?

Aku bertanya dalam hati sambil memandangi langit hitam yang… entah menangisiku, entah meludahiku. Aku hanya bisa menyesali masa laluku, kebodohanku, kesombonganku. Mengapa dulu aku melangkahkan kaki keluar, jika pada akhirnya aku ingin kembali pulang? Ketika keras kepala berbuah penyesalan, aku menyesal telah menjadi salah satu di antaranya.

Sekarang aku hanya bisa memandangi pintu-pintu pagar rumah yang tertutup, meletakkan tangan di atasnya, dan pergi lagi. Aku mencoba untuk memberikan tanda, jika saja masih ada yang ingat akan bentuk telapak tangan itu. Namun, ah… siapa yang peduli?

Jika memang tak ada tempat untukku pulang, mungkin memang artinya aku sudah pulang. Langit itu, bumi ini. Angin, hujan, matahari, awan, dan pernak-pernik langit lainnya. Inilah rumah. Toh masa lalu tak akan pernah kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s