Terkapar

Aku terkapar tak berdaya. Saat seseorang mendaratkan kakinya ke atas kepalaku, aku berusaha mengambil nafas di atas dinginnya jalan yang mulai tergenang. Rasa sakit menjalar di seluruh mukaku, sekujur tubuhku. Titik-titik hujan terasa seperti jarum-jarum yang ditusukkan ke seluruh kulitku. Namun, di antara itu semua, yang paling sakit adalah hatiku.

Satu, dua, tiga, empat… aku sudah tidak peduli lagi ada berapa orang yang mengeroyokiku malam ini. Akhirnya aku tahu, seberapapun baiknya aku melakukan kewajibanku, pada akhirnya aku hanya akan menjadi bulan-bulanan mereka saja.

“Dimana kau menyimpannya?” salah seorang di antara mereka membanting tasku setelah mengoyak habis semua isinya. Dia menjambak rambutku dan memandangi tajam mataku yang tak lagi bisa fokus. Pukulan-pukulan mereka sudah membuat mataku pening, penuh dengan semut-semut yang merambat liar ke setiap penjuru pandang.

Mereka menyerah. Mereka pergi meninggalkanku sendiri di jalan sempit dingin dan basah ini. Mereka pergi setelah mengataiku sebagai orang yang tidak berguna. Mereka pergi setelah satu persatu memberikan hantaman ke dalam ulu hatiku. Dan aku hanya bisa meringkuk sambil mengumpulkan kekuatan untuk segera pergi dari area ini… membawa berlian yang sudah tersimpan aman di dalam perutku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s