Panik

Kuhentikan laju motorku ketika sudah sampai di depan pagar tempat kos. Beberapa anak kecil melewatiku sambil menggiring bola. Mereka memandangiku aneh, lalu berlalu karena ingat kembali akan asyiknya bermain bola daripada memandangiku yang sedang sebal.

Beberapa menit yang lalu, rasa panik membuatku melaju motor dengan kencang. Awan hitam yang bergulung semakin liar membuatku merapalkan doa tak berkesudahan.

“Jangan hujan! Jangan hujan! Jangan hujan!”

Lalu titik-titik itu bermunculan dengan cepat di kaca helmku. Dalam beberapa detik, aku sudah basah kuyup. Terpaksa kupinggirkan motorku dan memakai jas hujan, sebelum pakaianku semakin parah basahnya.

Kulaju kembali motorku, menembus hujan deras yang datang tak diundang. Rasa panik membuatku hampir menabrak bagian belakang sebuah mobil, terlonjak karena polisi tidur yang tersamarkan, dan menerima makian dari pengendara motor lainnya. Ah, semua orang pasti juga akan merasa panik akan suatu hal gara-gara hujan seperti ini. Aku sendiri hanya bisa berharap untuk segera sampai ke tempat kosku dan menyelamatkan jemuran yang kupasang pagi tadi.

Dan kepanikanku seolah tak beralasan, ketika jalanan di tempat kosku ini sangat kering. Aku mematung di depan pagar kos, masih di atas motor. Air menetes dari pinggiran jas hujan dan celanaku. Aku basah kuyup di tempat yang sangat kering ini. Jemuranku aman-aman saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s