Jam Lima

Lelapku dibangunkan oleh gemerintik air yang memukul-mukul atap. Ah, rupanya sedang hujan. Hari ini diawali dengan basah dan perasaan sendu karena mendung. Jam dinding membantuku menyadari waktu, pukul lima pagi.

Bunyi geluduk lembut memasuki indera pendengaranku ketika kuputuskan untuk menapakkan kakiku ke lantai ubin. Aku menguap sepuasnya karena suasana seperti ini biasanya terlalu disayangkan jika dibuat bangun. Kupandangi selimut yang terkapar di ujung tempat tidur. Semalaman dia melindungiku agar tetap hangat. Rasanya masih malas untuk lepas darinya. Ah, tidak! Hari ini aku sedang buru-buru. Aku harus segera mandi dan pergi ke kantor seperti biasanya.

Dengan berkalung handuk, aku berjalan gontai ke kamar mandi, melewati ruang keluarga yang masih menyala. Rupanya anak-anak sudah bangun semua. Mereka nonton TV.

“Bagaimana, Yah? Sudah enakan badannya?” tanya istriku yang menemani anak-anak nonton TV. “Mau makan apa malam ini? Apa mau makan di luar?”

Aku terdiam. Jam dinding menunjuk angka lima… ah, lima sore ya? Mungkin demamku sudah terlalu tinggi sampai aku tidak sadar waktu lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s