Titik Terakhir

Sebelum semuanya berakhir, biarkan aku duduk di sini memandangimu. Kau tak perlu berucap apapun, hanya biarkan aku di sini memandangimu dan menikmati sisa-sisa waktu yang ada. Kau mungkin juga tak berharap aku bersuara. Kita tak memerlukan ucapan, kata-kata, atau suara ketika kita menghabiskan waktu berdua. Ya, seperti biasanya.

Aku tahu kau tak akan pernah selamanya ada di sini. Aku tahu kau tak mungkin selalu punya waktu untuk menemaniku yang hanya bisa diam sambil memandangimu. Kau datang dan pergi, datang dan pergi, datang dan pergi lagi. Kau tahu, aku selalu mensyukuri kedatanganmu, kapanpun itu. Makanya kau selalu menyempatkan diri untuk datang menjengukku, walaupun akhirnya kita hanya berdua dalam diam, dan kau pergi lagi.

Terima kasih sudah menemani kesepianku. Dan ijinkan aku untuk terus duduk di sini, dalam diam, memandangimu hingga kau pergi lagi. Aku akan selalu menunggumu di sini.

Titik hujan terakhir jatuh di atas dahiku yang basah.

Iklan

One thought on “Titik Terakhir

  1. aku baca lagu hujan sampai titik terakhir.. Wewww.. 😀
    Seperti makan kacang asin, sebutir enak dan tak terasa menambah lagi, lagi, lagi.. sampai butir terakhir. 🙂 Ayoo segera dituntaskan.
    Btw, kok idenya gag habis ya? Buat nulis hujan? hehe

    Lambertus said:Karena semuanya berupa fiksi mini, jadinya ini seperti proyek panjang. Lumayan bisa dicicil dikit-dikit. Ide nggak habis? Entahlah. Tapi semoga bisa mencapai seratus ribu dengan topik hujan ini. Kan, kehidupan ini memang tidak ada habisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s