Melankolis

Di dalam bus Jember – Surabaya ini, aku teringat kembali kata-katamu. Aku ingat saat itu kita tertawa saling mengiyakan. Pendapatku, pendapatmu, kita saling menambahkan dan menyetujui apa yang keluar dari mulut kita. Entah bagaimana bisa topik itu muncul di antara kita berdua. Sekarang aku kembali teringat, pada topik itu, padamu.

Mengapa hujan bisa membuat kita melankolis? Setiap hujan datang, kita selalu merenungi masa lalu, merenungi diri sendiri, merenungi kesalahan. Lalu kita merasa sedih…

Tidak hanya hujan. Kita juga akan menjadi melankolis ketika berada dekat dengan jendela bus atau kereta. Sambil melihat pemandangan yang berlarian, kita lewati itu semua dan meninggalkan jauh. Lalu kita sadari bahwa hidup kita terus bergerak seperti itu, meninggalkan masa lalu.

Ah, benar! Lalu kita akan semakin melankolis ketika berada di dekat jendela bus atau kereta, dan pemandangan sedang hujan. Titik-titik air di jendela. Kita semakin menggigil karena udara dan pikiran kita sendiri.

Saat itu kita tertawa. Namun, jika kupikirkan lagi hal itu, mengapa aku merasa sedih? Apakah itu karena aku bergerak maju dan meninggalkanmu jauh?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s