Gang Hijau

Tidak seperti biasa, aku begitu memikirkan keberadaanku yang saat ini sedang berjalan sendiri menyusuri Gang Hijau ini. Jalanan sepi yang penuh pohon besar ini biasanya membuatku tenang, tapi tidak kali ini. Hari sudah menjelang petang. Namun, lampu-lampu penerang jalan yang jarang juga belum mulai dinyalakan. Angin bertiup dingin. Hujan turun gerimis. Di sini, hanya ada aku seorang diri di bawah lindungan payung yang tak punya kuasa apa-apa selain melindungiku dari hujan.

Kata orang, Gang Hijau itu angker. Sering terdengar suara orang menangis atau bunyi-bunyian yang membuat diri ini merasa tidak aman. Kata mereka, hal-hal aneh itu biasanya muncul jika kita melewati jalan ini sendirian saja. Itu artinya keadaanku saat ini sudah sangat cocok untuk mendapatkan ‘sesuatu’ dari semua rumor itu.

Aku bukan orang yang penakut, tapi aku juga bukan orang yang berani. Kupercepat langkahku menyusuri Gang Hijau yang gelap, berharap segera mencapai ujung jalan yang kembali syarat akan kehidupan dan keberadaan manusia. Tak peduli sepatu dan celanaku kotor karena tanah yang becek, yang penting segera melewati jalan ini.

“Hiks!”

Sedetik langkahku terhenti. Sedetik kemudian kulangkahkan lagi kakiku hampir berlari. Aku terlalu takut untuk berteriak. Aku terlalu takut untuk mendengar apapun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s