Astraphobia

Kilat menyilau. Petir menggelegar. Sebuah dekapan erat membuat bahu kiriku mati rasa. Sejenak kukira dia akan memekik, menjerit, atau berteriak secara liar karena rasa takutnya yang berlebihan akan petir. Namun, yang aku dapati adalah sebuah pemandangan memilukan. Aku tidak mau melihatnya seperti ini lagi.

Mendung sejak tadi bergulung-gulung. Awan hitam itu seperti mau jatuh menenggelamkan bumi. Dan petir barusan adalah petir besar pertama pada musim ini. Kilat menyilau. Petir menggelegar. Sebuah dekapan erat membuat bahu kiriku mati rasa. Hujan belum menitik, tapi rasa dingin sudah menjalari sekujur tubuhku. Sumber rasa dingin itu berasal dari bahu kiriku, berasal darinya yang sedang menggigil ketakutan.

Dia pernah bilang memang. Dia tidak menyukai musim hujan. Namun, lebih tepatnya, dia tidak suka karena selalu ada petir dimana-mana. Petir membuat kepalanya pecah. Petir membuat kakinya lemas dan kaku di saat bersamaan. Petir akan terus mencarinya sampai berhasil menyambarnya dengan telak.

“Ayo, kita berteduh!” bisikku pilu. Ternyata dia memang benar ketakutan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s