Apakah Hujan Ini Adalah Doamu, Ibu?

Ibu, maafkan aku. Tadi pagi aku sangat kenakan-kanakan menggerutu padamu, marah padamu. Aku membencimu untuk alasan yang tidak jelas, bahkan kini aku sendiri tidak mengerti mengapa harus marah padamu. Mungkinkah hujan ini adalah buah dari doamu agar aku menjadi sadar?

Kau sudah mengingatkanku untuk membawa payung. Aku mendengarmu saat itu, tapi aku sedang marah. Aku marah padamu, jadi mengapa aku harus mendengarmu? Ah, mengapa aku harus marah padamu tadi pagi, ibu? Sekarang aku harus berdiri sendirian di sini, menunggu sampai hujan reda. Teman-teman sudah pulang satu persatu dengan payungnya. Ada juga yang dijemput orang tuanya. Mereka semua pulang, meninggalkanku sendiri di kelas yang semakin sepi ini.

Ibu, apakah hujan ini doamu agar aku menjadi sadar? Maafkan aku, ibu. Harusnya aku tidak marah padamu. Kalau tadi pagi aku tidak marah, aku pasti sudah membawa payung seperti yang sudah kau ingatkan. Lalu sekarang aku sudah berada di bawah lindungan atap rumah.

Apakah aku harus menembus hujan agar bisa pulang? Tapi kau selalu melarangku hujan-hujanan. Kalau seragamku kotor dan basah, ibu akan marah. Tapi aku ingin pulang… ibu, maafkan aku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s