Catatan Mahasiswa Galau

“Lho, galau itu nanti saja! Jangan sekarang!”

Aku masih bisa mengingat apa yang dikatakan temanku setelah kuceritakan betapa tertekannya aku akan tantangan skripsi ini. Tanggapan itu menamparku yang sama sekali merasakan kesulitan sejak memulai, atau mungkin sebelum dimulai pun aku sudah pusing.

Bagiku, skripsi itu dimulai sejak proposal disetujui oleh dosen pembimbing dan lolos seminar proposal. Sementara keadaan skripsiku memprihatinkan. Aku benar-benar lambat untuk memulainya. Aku lambat membuat judul. Aku lambat menanggapi diskusi dengan dosen pembimbingku. Aku lambat melakukan perubahan. Aku lambat mengikuti sidang proposal. Semua itu pun berujung pada suatu kenyataan pahit yang bernama “Kelulusan yang Tertunda”.

Betapa hari bimbinganku dengan dosen saat itu menjadi awal akan penyiksaan batinku. Suasana percakapan berjalan seperti biasa, dimana aku harus menunggu beliau yang masih mengajar kuliah. Aku menunggu dengan mempersiapkan beberapa kalimat yang harus kuucapkan sebagai pembuka percakapan saat bimbingan nanti. Aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang membawaku kepada suatu kepastian bahwa aku sudah terlambat atau belum untuk wisuda tahun ini. Karena aku sesungguhnya sudah tahu, hanya saja perlu kepastian dari seseorang yang bisa dipercaya seperti dosen pembimbingku sendiri, yang tak lain adalah kepala laboratoriumku.

Lorong ruang dosen itu begitu dingin dan sepi. Aku duduk sendiri di depan ruangan dosen pembimbingku yang sangat baik hati dan santai itu. Menunggu langkah kaki dan suara hangat beliau yang menyapaku. Aku menunggu beliau menanyakan keadaan skripsiku dengan prihatin. Aku menunggu sambil melihat lebih jauh hal-hal yang akan terjadi seandainya aku benar-benar terlambat lulus tahun ini.

“Yah, tidak apa-apa. Yang penting terus jalan. Jadi nanti waktu teman-teman sidang akhir, kamu sidang progress. Lalu semester depannya pas yang lain sidang proposal, kamu sudah sidang akhir.”

JDERRR!

Tanggapan itulah yang kuterima saat aku berusaha memancing percakapan dengan beliau.

Aku keluar ruangan dan menuju tempat parkir dengan langkah biasa saja. Saat itu siang hari terasa sepi karena para mahasiswa sedang ada di kelasnya masing-masing. Teman-temanku juga pasti ada di dalam lab. Namun kali ini aku sedang ingin langsung pulang. Aku sedang tidak mau berlama-lama di gedung berlantai tiga ini.

Sepedaku diam menunggu di tempatnya. Tanpa perlu bertanya, dia pasti tahu apa yang membuatku memasang wajah datar seperti ini. Aku sedih, tapi aku tidak bisa menangis. Aku bingung, tapi aku tidak bisa kelabakan. Apakah ini karena aku sudah mempersiapkan diri untuk keadaan terburuk itu?

Sebagian diriku ingin keluar dari kesulitan yang membelit ini dan sebagian lagi menahanku untuk bertindak gegabah. Aku tidak bisa terus menggempur sesuatu di depan mata yang bernama SKRIPSI itu saja. Aku harus mempersiapkan hal-hal lain yang berjalan bersamanya. Aku harus memikirkan dengan apa aku mendapatkan uang untuk tetap kuliah semester depan karena aku tidak mau lagi minta uang pada orang tuaku. Kalau bisa dianalogikan, selagi aku berusaha mengirimkan barang dari dataran satu ke dataran lainnya, aku juga harus membuat jembatan yang memisahkan kedua dataran tersebut. Selagi mengerjakan tugas akhir ini, aku harus cari uang. Aku harus kerja.

Namun itu semua adalah rencana. Aku pasti melakukannya. Hanya saja aku sulit memberitahukan hal ini pada orang tuaku, terutama ibu. Setiap kesempatan aku selalu berpikir kapan saat yang tepat untuk membicarakan hal ini. Namun, ibu sangat mengharapkan aku cepat menyelesaikan skripsiku dan segera lulus. Sesungguhnya aku ingin mengatakan bahwa aku sudah terlambat lulus sejak kemarin. Aku juga ingin mengatakan kalau aku akan berusaha mencari uang sendiri untuk kebutuhan semester depanku. Dan aku terhalang oleh rasa takut membayangkan tanggapan ibu.

Iklan

9 thoughts on “Catatan Mahasiswa Galau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s