Dokter Laras

Cerita sebelumnya:

EPISODE 1 – Di Bawah Atap Rumah Dasrun
EPISODE 2 – Kamar Anggrek 03
EPISODE 3 – Semakin Mencintainya

Musibah yang terjadi pada Rama, membawa Dasrun dan Nting pada sebuah rumah sakit di kota. Ini bukan rumah sakit biasa. Karena rumah sakit ini adalah tempat teman lama Dasrun bekerja. Laras adalah teman lama Dasrun yang bekerja sebagai dokter, atau lebih tepatnya dokter yang merawat Rama. Sementara Dasrun bahagia karena bisa bertemu teman lama, Nting berharap pertemuan itu membawa dampak baik berupa keringanan biaya perawatan Rama.

“Ya, tidak salah lagi! Laki-laki yang kulihat tadi pasti Mas Dasrun. Istrinya tadi juga meyakinkanku kalau laki-laki itu benar-benar Mas Dasrun. Ya Tuhan! Terima kasih Engkau mempekerjakanku di rumah sakit ini sehingga aku bisa bertemu dengan Mas Dasrun. Ingin sekali aku bercerita banyak dengannya. Ingin sekali aku berduaan dengan Mas Dasrun saja,” Laras bergirang hati sambil menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Ruang kerjanya ini menjadi saksi bisu kegilaan Dokter Laras akan sebuah nama berinisial D itu.

Tak seorang pun tahu bahwa dalam perjalanan hidupnya yang mengalir, Dokter Laras terus meneriakkan nama Dasrun di dalam hatinya. Matanya selalu awas pada jalan yang dilaluinya, mencari wajah Mas Dasrun yang dikaguminya. Pertemuan awalnya dengan sosok Dasrun tadi tidak terasa nikmat, bahkan hambar. Dokter Laras hampir tidak mengenal wajah itu. Ada perubahan besar antara Mas Dasrun yang dulu dan sekarang. Dia sangat ingin segera bertemu dengan Dasrun dan meledakkan rasa rindunya.

“Tapi dia sudah punya istri,” gumam Dokter Laras pilu. “Dan tak mungkin aku menjatuhkan image-ku sebagai seorang dokter dengan bersikap kekanak-kanakan begini.”

Ponsel di sakunya berbunyi. Dokter Laras menjawab panggilan itu sambil bersandar di kursi kerjanya.

“Malam, Mas.”

“Iya. Maaf, ya Mas. Kan sekarang hari Kamis, jadinya aku pulang besok pagi.”

“OK. See you!

Dokter Laras menelungkupkan lagi wajahnya ke atas meja, sebuah sikap kebiasaan yang aneh untuk seorang dokter. Akhir-akhir ini emosi Dokter Laras semakin tidak menentu. Dia sering merenung ketika tiba saat-saat sunyi seperti ini. Meskipun ada beberapa hal yang perlu diselesaikannya, dia selalu mengambil beberapa menit untuknya melamun. Belum lagi hari ini dia bertemu dengan orang yang sudah lama sangat dicarinya, Dasrun. Menit-menit yang dicurinya seperti biasa tak lagi dirasa cukup.

Dokter Laras memandangi foto wajah seorang laki-laki yang ada di ponselnya. Dia memandanginya lekat-lekat. Dia berusaha memompa lagi bunga-bunga merah jambunya bertebaran pada kenangannya dengan sosok tampan itu, suaminya.

“Mas Aditya, akhirnya aku bertemu lagi dengan Mas Dasrun. Aku boleh kan berbicara dengannya?”

* * * * *

Seorang laki-laki duduk di sofa sambil menonton televisi. Tangan kirinya memegang remot, sementara tangan kanannya memegang handphone. Jari-jarinya menekan beberapa nomor yang kelihatannya sudah sangat dihapal. Tak lama kemudian handphone itu menempel di telinganya.

Nada sambung konvensional itu berbunyi terasa lama.

“Hei, Sayang. Lagi jaga malam ya?”

“Iya sih. Tadi aku lupa kalau kamu harus jaga sekarang. Kalau begitu besok pagi aku jemput ya.”

See you.

Sambungan pun diputus. Tak lama kemudian dia bermaksud menghubungi seorang lainnya lagi. Dia mencari nomor itu di daftar kontak dan meneleponnya. Nada sambung terdengar lagi.

“Halo Pak Mario, ini Aditya, Pak!”

“Begini Pak, saya mau ijin tidak bisa siaran besok pagi.”

“Tadi soalnya Bapak keluar. Saya kira balik lagi. Ternyata langsung pulang.”

“Yaaaa selama ini kan saya belum pernah ijin Pak. Jadi sekali-sekali gitu.”

“Hahahahaha… besok saya mau jalan-jalan sama istri saya Pak, kalau boleh.”

“Ah hahahahaha… ketahuan.”

“Iya. Besok saya yang pagi sampai siang itu lho Pak.”

“Ada. Saya sudah bilang Deka tadi. Dia sih OK.”

“OK, Pak. Terima kasih banyak. Istri saya juga bilang terima kasih sama Bapak.”

“Hahahaha… OK. Malam Pak.”

Sambungan ditutup. Laki-laki itu meletakkan handphonenya ke atas meja dan melanjutkan menontonnya. Dia mengira malam ini akan menjadi malam yang istimewa antara dirinya dan istrinya. Tapi tidak mengapa. Kalau keistimewaan itu tidak ada malam ini, pasti masih ada besok pagi.

Aditya, seorang penyiar salah satu radio swasta yang cukup banyak penggemar karena suaranya yang merdu. Besok adalah ulang tahun pernikahannya yang ketiga dengan istrinya yang berprofesi sebagai dokter. Nama Larasati selalu bergema di dalam hatinya.

Aditya sangat mencintai istrinya sampai pernah menyatakan cinta saat siaran. Aditya sangat mencintai istrinya sampai dia merencanakan malam yang indah untuk merayakan hari bersejarah itu. Namun, rencana itu agaknya tidak bisa berjalan malam ini. Dia pun merencanakan hal lainnya untuk besok pagi. Aditya hanya bisa melanjutkan nonton televisinya dan meninggalkan api lilin menyala di meja makannya. Beberapa masakan buatannya sendiri sudah hampir dingin.

“Halo, Bu Asti. Adik Derry sama Adik Kefi sudah tidur Bu?” Aditya menghubungi tetangganya.

“Wah kebetulan. Saya lagi nyoba masak-masak nih Bu. Saya bawa ke sana ya. Kebanyakan nih soalnya.”

“Hei, Kefi. Kok belum tidur malam-malam gini?”

“Om mau ke situ. Nanti habis makan terus tidur ya.”

“Iya.”

“OK. Saya ke situ Bu.”

“Waalaikumsalam.”

Aditya pun mematikan televisinya dan berlari ke meja makan.

* * * * *

Seorang suster berjalan cepat dari lorong ke salah satu ruangan dokter. Dia membuka pintu. Dua orang yang terpisahkan pintu itu sama-sama terkejut. Dokter Laras masih sedang menikmati memandangi wajah suaminya yang ada di handphone saat suster muda itu membuka pintu.

“Dok, pasien di Anggrek 03 sudah siuman,” kata suster itu.

“Oh iya? Baik saya ke sana,” jawab Dokter Laras dengan ekspresi kegembiraan yang tidak disangka-sangka suster itu.

Mereka berdua pun berjalan bersama menyusuri lorong rumah sakit dengan bunyi sepatu yang agak nyaring. Arah yang ditujunya ini tidak sekadar menuju kamar Anggrek 03, tidak sekadar memeriksa pasien yang sudah sadar, tapi juga menuju teman lama yang lama tidak bertemu.


Selanjutnya…

Iklan

3 thoughts on “Dokter Laras

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s