Semakin Mencintainya

Cerita sebelumnya:

EPISODE 1 – Di Bawah Atap Rumah Dasrun
EPISODE 2 – Kamar Anggrek 03

Rama kecelakaan. Sungguh malang. Anak laki-laki itu harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Dasrun dan Nting tidak bisa melakukan apa-apa selain berusaha mencari uang demi kesehatan anak mereka. Saat Nting sedang sendiri menemani Rama yang belum sadarkan diri, Dokter Laras menghampirinya dan mengatakan kalau dia adalah teman lama Dasrun. Semoga ini adalah suatu pertanda baik.

“Terima kasih, Ustad! Maaf, merepotkan,” ucap Dasrun sambil turun dari boncengan motor dua tak Ustad Amir. Salah satu tangan Dasrun sedang menjinjing tas berisi pakaian ganti untuk istri dan anaknya selama beberapa hari. Musibah yang tiba-tiba ini benar-benar membuat Dasrun kalang kabut tanpa persiapan. Kalau tidak ada Ustad Amir, entah mau naik apa dia malam-malam begini ke rumah sakit?

“Tidak apa-apa, Pak Dasrun. Justru saya yang minta maaf karena tidak bisa ikut menemani. Besok pagi saya harus mengajar lagi. Nanti setelah mengajar, insyaallah saya ke sini lagi,” ujar Ustad Amir sambil menepuk pundak Dasrun. Ustad itu tersentuh dengan ketegaran yang dimiliki seorang laki-laki bernama Dasrun ini. “Assalamualaikum!

Waalaikumsalam.

Bersama dengan berlalunya Ustad Amir, Dasrun memasuki rumah sakit bersama sejuta kecemasan dan pikiran yang melanda. Ia melewati lobby dan menyusuri lorong yang begitu cepat membuatnya akrab. Lurus, belok kiri, lurus, lurus, belok kanan. Kamar Anggrek 03.

Pintu kaca yang memisahkan kamar dengan dunia luar, membuat Dasrun bisa melihat punggung istrinya yang tengah berusaha tegar menemani anak semata wayangnya yang terbaring lemah. Pastilah ini hanya mimpi buruk yang menimpanya di siang bolong. Ya, mungkin saat ini dirinya sedang tertidur di metromini, atau justru tertidur di pantry kantor tempatnya bekerja. Tak pernah ada seorang ayah yang mengharapkan tenggelam di suasana seperti ini, musibah yang menimpa anaknya. Terasa sangat menyakitkan.

Gaji pertama yang baru didapatnya tadi pagi sudah di bayarkannya untuk biaya pengobatan tadi sore. Ludes semua. Dasrun dan uang itu memang sedang tidak berjodoh. Semua rencana bahagianya bersama Nting dan Rama harus ditunda dan digantikan dengan sesuatu semacam ini. Yang sedih-sedih seperti ini.

Assalamualaikum, Dek,” ucap Dasrun seraya masuk ke dalam kamar.

Nting menjawab salam seraya menyambut tangan suaminya dan menciumnya. Dasrun kembali memandangi seisi kamar sebelum berakhir pada sosok puteranya tercinta. Ada tiga ranjang pasien yang tersedia di Kamar Anggrek 03 ini. Namun, dua ranjang lainnya masih kosong. Kamar ini jadi terasa seperti kamar milik pribadi.

“Bagaimana?” tanya Dasrun sambil meletakkan tas pakaian itu ke bawah ranjang. Lalu dia duduk di ranjang yang kosong di sebelahnya.

“Masih belum sadar, Mas,” jawab Nting singkat.

Tidak tahu lagi apa yang harus dibicarakan, mereka berdua kembali dipeluk kediaman yang dingin. Kalau diingat-ingat, selama sepuluh tahun pernikahan mereka terlalu banyak momen kediaman seperti ini. Terasa dingin. Terasa… diam.

Nting yakin kalau saat ini suaminya tak ingin menghabiskan waktu dalam pembicaraan hitung-hitungan biaya. Lagi pula, suaminya itu sudah meyakinkannya untuk tidak kepikiran tentang masalah materi ini sore tadi. Tatapan mata itu, Nting selalu lunglai ketika jatuh dalam sorot mata Dasrun yang seperti itu. Sorot mata yang auranya begitu unik dan membuatnya melayang. Sesungguhnya, membuatnya bingung. Nting selalu merasa bimbang dan tersudut, mempertanyakan kesungguhan atau ketidaksungguhan di dalam dirinya sendiri. Kalau memang dirimu tidak mencintainya, mengapa dirimu tidak bisa lepas dari rasa itu?

Tapi apa benar topik biaya ini didiamkan saja?

“Mas,” Nting lirih memecah kesunyian. “Apa benar baik-baik saja?”

Dasrun memahami arah percakapan yang diangkat istrinya ini.

“Apakah benar sudah ada hal yang pasti untuk menutupi biaya perawatan Rama ini?” tanya Nting. Dasrun belum menanggapi. Nting jadi yakin kalau suaminya ini sama bingungnya dengan dirinya. Rumah sakit ini memang sebenarnya tidak layak bagi warga seperti mereka, meskipun ini sudah termasuk yang terjangkau bagi kebanyakan orang.

“Aku cuma bisa pasrah, Dek,” jawab Dasrun pada akhirnya. “Mulai tadi sampai sekarang, aku juga masih mikir. Mungkin Ustad Amir juga. Mungkin Jalal juga. Mungkin orang-orang yang tahu musibah yang menimpa Rama juga sedang mikir.”

“Kalau pinjam uang bosmu, gimana Mas?” sebuah pertanyaan yang melompat begitu saja dari mulut Nting.

“Heh?!” telinga Dasrun terasa disentil. Melihat ekspresi suaminya, Nting tak jadi keukeuh dengan hal itu.

“Paling tidak pinjam uang teman-temanmu. Daripada pinjam sama orang tua kita, aku tidak mau Mas,” ucap Nting lagi. Dasrun jadi ingat kalau salah satu hal yang sama-sama mereka miliki adalah hal itu. Mereka sama sekali tidak mau membuat susah dan bingung orang tua mereka. Ya, masalah ini pasti harus bisa diselesaikan oleh dia dan istrinya sendiri, tanpa merepotkan kembali sosok berjasa yang sudah membesarkan mereka. Sebelum memberitahukan kabar ini besok, solusi permasalahan biaya ini harus sudah ketemu. Pokoknya jangan sampai membuat mereka cemas.

“Tapi sama saja, Dek. Aku kan masih orang baru. Kerja juga masih satu bulan. Mana berani aku macam-macam,” jawab Dasrun lemas. Sempat terlintas di benaknya untuk pinjam uang ke teman kerjanya yang dulu. Namun, gagasan itu langsung kandas mengingat dirinya tak punya nomor yang bisa dihubungi.

“Yah, mungkin saja teman lamamu, Mas. Tetangga atau teman sekolahmu dulu,” sahut Nting.

Dasrun ikut berpikir. Bola matanya berputar, pun pikirannya merayap-rayap menyusuri bilik-bilik di otaknya yang berisi nama dan alamat yang bisa dihubungi. Yang dikatakan istrinya itu benar. Namun, kembali gagasan itu kandas. Dasrun benar-benar lepas dengan orang-orang masa lalunya.

“Kamu…” Dasrun tiba-tiba melihat sedikit cercah yang berbeda di wajah istrinya. “Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang mau kau sampaikan.”

“Mas Dasrun ingat sama Laras?” Nting mengangkat alisnya.

Dahi Dasrun mengernyit. Laras… Laras… Laras! Iya, Laras! “Memangnya ada apa dengan Laras? Kamu mengenalnya, Dek?” tiba-tiba nada Dasrun penuh dengan semangat yang menggelora.

Nama itu adalah nama yang sudah lama tidak didengarnya. Teman akrab Dasrun ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka bertetangga dan hampir tidak terpisahkan. Laras, nama terindah yang pernah Dasrun kenal. Cinta monyet pertama Dasrun saat masih bau kencur dan ingusan. Masa kecil yang sangat indah, sempurna, dan tak bercela. Laras adalah gadis pertama yang mencium Dasrun di pipi. Kenangan-kenangan konyol dan lucu jika diingat oleh mereka yang sudah berkeluarga ini.

“Laras itu sahabatku dulu waktu SD. Kami bertetangga waktu di Karang Sari. Kamu kok bisa tahu, Dek? Ketemu dimana?” tanya Dasrun dengan mata yang berbinar.

“Di sini!” jawab Nting tak kalah semangatnya. Sinar mata suaminya sangat menyenangkan kali ini. Nting tak sabar melihat ekspresi bahagia seperti apa yang bisa dikeluarkan oleh seorang Dasrun.

“Di sini?” dada Dasrun mencelos. Bertemu Laras di rumah sakit? Mimik muka Dasrun berubah seratus delapan puluh derajat. Cemas.

“Mas, Laras tidak sedang sakit…” ucap Nting gemas dengan suaminya. Perubahan ekspresi itu menggelitik lahir batinnya dan mengingatkannya bahwa Dasrun adalah seorang laki-laki yang begitu tulus. Nting hampir tertawa melihat suaminya yang terlihat kikuk.

“Apa? Kenapa tertawa?”

“Mas, Laras itu ya dokternya Rama tadi itu lho!” jelas Nting setelah tidak tega melihat wajah suaminya yang entah mengapa berubah menjadi begitu lucu.

“Heh?! Masa iya?”

“Iya!”

“Tidak mungkin, ah! Mana mungkin aku tidak ingat wajahnya?” Dasrun menampik ucapan istrinya setelah sedikit mengingat-ingat perjumpaan singkatnya dengan dokter Rama tadi.

“Ih, diberi tahu juga! Dianya sendiri yang tadi bilang ke aku, Mas. Tadi dia ke sini,” sahut Nting menjawab suaminya yang ngeyel. Dasrun tertawa senang seperti seorang sahabat yang lama tidak bertemu. “Nanti kalau Dokter Laras datang lagi, coba ditanya. Jangan-jangan dokter itu operasi plastik sampai Mas tidak bisa mengingat wajahnya.”

“Iya mungkin,” jawab Dasrun sambil cekikikan.

Ya, percakapan dengan tawa seperti ini yang jarang mereka berdua rasakan. Seandainya lebih sering, mungkin bagi Nting pernikahan ini adalah sesuatu yang benar-benar dimilikinya. Kalau mereka sering tertawa seperti ini, mungkin Nting akan semakin mudah untuk mencintai suaminya.

Dipandang senyum oleh istrinya, Dasrun jadi salah tingkah. Perlahan-lahan, dia membalas senyuman yang diberikan istrinya tercinta.

“Dek, terima kasih ya,” ucap Dasrun. “Aku mencintaimu.”

Dua pasang mata itu saling pandang dengan hasrat saling memiliki. Hati Nting bergetar. Untuk saat ini, dia semakin mencintai suaminya.

“Ibu…”

Dasrun dan Nting menoleh.


Selanjutnya…

Iklan

4 thoughts on “Semakin Mencintainya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s