Kamar Anggrek 03

Cerita sebelumnya:

Di Bawah Atap Rumah Dasrun – Dasrun baru saja pulang dari mengambil uang gaji pertamanya. Dengan uang itu, dia berencana akan ke pasar malam bersama Nting, istrinya, dan Rama, anaknya. Namun, bukannya mendapatkan sosok ceria Rama yang baru saja pulang mengaji, mereka berdua mendapatkan kabar lain. Rama kecelakaan.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”

“Tabrakan tersebut menyebabkan putra Bapak mengalami patah tulang di kaki kirinya… dan memar di kepala”

“Jadi anak saya harus rawat inap, Dok?”

“Benar, Ibu.”

* * * * *

Kamar Anggrek 03. Putra semata wayang Dasrun baru saja keluar dari ruang ICU. Tubuh kecilnya lunglai di atas ranjang rumah sakit yang mungkin lebih empuk dibandingkan kasur di rumah Dasrun. Kamar ini didominasi warna putih. Seprei kasur, bantal, tirai, dinding, lantai, semuanya berwarna putih. Biasanya kamar rumah sakit syarat dengan bau obat yang menyengat. Namun, tidak di rumah sakit ini. Suasananya sangat nyaman dan menenangkan. Lampu yang menyala, merangkul setiap mata yang terjaga dari gelap malam yang tercipta.

Nting masih terpaku memandangi Rama yang belum sadarkan diri. Memandangi mata Rama yang masih tertutup. Memandangi wajah Rama yang begitu sunyi, tanpa ekspresi, tidak seperti biasanya. Tak pernah Nting membayangkan duduk menemani putranya yang terbaring sakit. Tak pernah Nting mau membayangkan termenung dan terus ketakutan akan kehilangan seorang anak. Ibu mana yang tidak pilu ketika melihat buah hatinya mendapatkan sebuah musibah. Dalam hati, Nting terus melafalkan doa-doa demi kesembuhan Rama. Dalam hati, ia menangis.

“Rama, bangun,” ucap Nting lirih di dekat telinga Rama.

Nting berharap putranya itu hanya bercanda. Ya, Rama sangat suka menggoda ibunya. Ini pasti hanyalah salah satu lelucon yang dilakukannya. Tidur itu hanyalah pura-pura.

“Rama, ayo bangun, Sayang! Katanya mau ke pasar malam,” ucap Nting lagi. Suaranya kali ini bergetar. Nting sedang berusaha keras menekan kepedihan dan air mata yang meronta-ronta di dalam dirinya. Malam ini seharusnya menjadi malam paling membahagiakan bagi mereka bertiga. Menikmati malam dalam keceriaan sebuah pasar malam yang penuh hiburan. Nting membayangkan anaknya yang begitu suka dengan arum manis berwarna putih. Nting membayangkan Dasrun yang menggendong Rama di punggungnya. Nting membayangkan mereka bertiga tertawa bersama.

Saat ini, Dasrun sedang pulang mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya untuk Rama dan Nting. Ya, untuk beberapa hari ke depan, sudah dipastikan kalau Nting akan menghabiskan waktu di rumah sakit menemani Rama. Nting hanya bisa menunggu.

Dalam kediamannya, Nting merasa resah akan begitu banyak hal yang memukul-mukul kepalanya. Setiap sisi kamar terasa terus mengawasi gerak-geriknya. Nting merasa tidak seharusnya mereka ada di sini. Pikiran Nting langsung terisi akan angka-angka yang saling tumpuk, berputar-putar, dan berkejaran. Dia masih merasa sangsi akan kemampuannya dalam menguasai angka-angka itu. Kata-kata Dasrun, Jalal, dan Ustad Amir tadi sore belum cukup membuatnya tenang.

“Tapi, Mas,” Nting ragu.

“Dek, aku akan berusaha. Ini semua demi anak kita,” kata Dasrun. Saat itu, Nting juga melihat sorot mata yang begitu lemah dari suaminya. Sebagai seorang istri, Nting tahu kalau suaminya juga tidak tahu harus bagaimana untuk memenuhi biaya rawat inap ini. Seperti biasa, suaminya itu bersikap optimis. Semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Tuhan pasti tidak memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Nting sudah sangat akrab dengan itu semua. Namun, semua sama. Optimis itu adalah sebuah optimis semu. Terlalu banyak kemungkinan yang menghantui langkah mereka.

“Bu Dasrun, kami semua juga akan membantu. Saya yakin warga kita masih cukup peduli dengan hal seperti ini. Bu Dasrun serahkan semua pada Allah,” ucap Ustad Amir ketika mendapati Dasrun tak cukup kuat menghadapi hal ini. Ustad Amir adalah guru mengaji Rama tadi sore. “Benar kan, Bang Jalal?”

Jalal yang tiba-tiba ditanya Ustad Amir pun terkesiap. “Iye! Warge kite pasti bantu,” kata Jalal dengan mantap. “Percaya deh. Aye jamin semua pasti bantu lu.”

“Jangan memikirkan hal ini, Dek. Kamu temani Rama saja. Dia pasti sangat senang kalau kamu selalu di dekatnya,” kata Dasrun cepat-cepat, sementara Ustad Amir memandangi Jalal dengan sedikit ngeri. Kedua tangan Dasrun memegang bahu Nting, memberikan dukungan dan kekuatan.

Mengingat hal itu, membuat Nting kembali mengingat sorot mata yang diterimanya tadi di rumah. “Jika kau belum bisa mencintaiku, berusahalah.” Suara Dasrun terngiang kembali. Hal ini membuat Nting semakin pedih. Kembali dia merasa benci pada dirinya sendiri.

“Bu Dasrun,” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita di pintu.

Nting berbalik dan mendapati seorang wanita cantik berpakaian dokter. Oh, ini adalah dokter yang tadi memberikan kabar keadaan Rama kepada Nting dan Dasrun. Nting tidak pernah berkenalan. Namun, jika melihat dari name tag di bajunya, namanya adalah Laras. Dokter Laras berjalan mendekati Nting dan Rama yang terbaring. Tidak ada hal khusus yang ingin dilakukan Dokter Laras saat itu. Tidak ada dokumen, atau obat, atau suster lain yang menyertai kehadirannya.

“Ada apa, Dokter?” tanya Nting.

Melihat rona muka Nting yang begitu kelabu, perasaan Dokter Laras trenyuh. Dia pun memberikan segaris senyum menenangkan kepada Nting.

“Tenang, Bu Dasrun. Adik Rama pasti sembuh.”

Pasti. Nting tahu kalau anaknya pasti sembuh dan harus sembuh. Nting hanya bisa memandangi wajah anaknya tanpa menanggapi pernyataan Dokter Laras dengan sepatah kata.

“Kalau boleh tahu,” ucap Dokter Laras lagi. “Apa benar Ibu dan Pak Dasrun ini yang dari Gang Mancur itu?” Sepertinya percakapan ini yang menjadi tujuan Dokter Laras kesini.

“Eh, iya. Ada apa, Dok?” Nting mulai memberikan perhatian karena sepertinya ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Dokter Laras sehubungan dengan keberadaan mereka.

“Sebenarnya waktu melihat Pak Dasrun tadi, saya sedikit ingat, tapi juga tidak yakin. Kalau memang benar, saya ini dulu teman satu SD dengan Pak Dasrun waktu masih tinggal di daerah Karang Sari,” terang Dokter Laras akhirnya. Dia sedikit memunculkan senyum malu-malu, takut semua yang dikatakan itu salah.

“Oh iya?” Nting menanggapi ramah dokter cantik yang merawat anaknya itu. Memang benar, sebelum pindah ke Gang Mancur, Dasrun tinggal di daerah Karang Sari. Jaraknya cukup jauh. “Tapi sepertinya tadi suami saya juga tidak ingat sama wajah Dokter. Nanti coba saya tanyakan.”

“Terima kasih ya, Bu. Coba nanti tanyakan, kenal tidak sama Laras dari Karang Sari?”

Kedua wanita itu pun berbagi tawa. Setelah itu, Dokter Laras langsung ijin kembali ke ruangannya. Nting mengiringi langkah teman kecil suaminya itu dengan senyuman. Dalam hati, dia sedikit lega. Jika memang ada seseorang yang dikenal di rumah sakit ini, semoga bisa lebih meringankan biaya perawatan yang ditanggungnya.


Selanjutnya…

Iklan

5 thoughts on “Kamar Anggrek 03

  1. Ping-balik: Tabrakan Beruntun di Jalur Pantura Rembang, 7 Tewas | Indonesia Search Engine

  2. kembali membaca Dasrun, seperti kembali menemukan mutiara yang hilang, haiyah.. heheh…
    sip bung lambert,, cerita akan berlanjut terus nampaknya, kutunggu lanjutannya.. 🙂
    keren.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s