Garam Dalam Sebuah Filosofi

Garam(sumber gambar: di sini)

Setiap manusia diciptakan begitu unik oleh Tuhan. Mereka diberikan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk mewarnai dunia ini, untuk mendinamiskan seisi jagad raya. Selayaknya manusia sebagai makhluk ciptaan memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa di balik ketidaksempurnaan itu terdapat sebuah rencana besar yang sempurna. Itulah inti kehidupan. Manusia belajar menyempurnakan yang tidak sempurna kapanpun dan dimanapun. Semua yang tidak sempurna saling berhubungan dan melengkapi, dan terciptalah sesuatu yang sempurna.

Dunia ini diciptakan sebagai sebuah sistem yang terintegrasi, dimana setiap elemen bekerja sama dan saling melengkapi. Memang komposisi yang menyusun dunia ini beraneka macam. Ada yang aktif, ada yang pasif. Ada yang memimpin, ada yang dipimpin. Ada mayoritas, ada minoritas. Setiap bagian memiliki perannya masing-masing. Ada orang bilang bahwa hidup ini adalah sebuah pilihan. Menjadi orang yang berguna atau menjadi orang yang percuma, itu adalah pilihan kita.

Berikut saya persembahkan…

Garam Dalam Sebuah Filosofi

(diambil dari khotbah seorang Romo di misa Jumat pertama KMK ITS*)

Pada suatu hari, Anda jatuh sakit. Demi kesehatan dan proses penyembuhan Anda, dokter menyarankan agar Anda memakan makanan yang tidak mengandung garam. Bisakah Anda membayangkan makanan macam apa yang akan Anda konsumsi setiap hari? Bisakah Anda membayangkan perasaan Anda setiap menempelkan makanan ke lidah Anda? Seberapa berartikah keberadaan garam di setiap masakan yang Anda nikmati?

Garam adalah sesuatu yang kecil dan sederhana yang selalu menemani keseharian kita. Mungkin kita tidak pernah terlalu memperhatikannya karena dia selalu ada dan menemani kita dalam bersantap. Garam itu simple, tapi diperhitungkan. Saat Anda lupa memasukkan garam ke dalam masakan, bisa dipastikan Anda akan menyesali hasil masakan Anda. Sampai-sampai ada sebuah ungkapan tentang kehidupan yang hambar, bagai sayur tanpa garam.

Jika masakan itu adalah dunia, maka garam yang dimaksud adalah diri kita sendiri. Yah, itu pun kalau kita memang mau untuk menjadi garam.

Katakanlah dunia kita saat ini sedang dalam keadaan hambar, tidak sedap. Dengan menjadi garam bagi dunia, kita melakukan perubahan. Kita membuatnya menjadi sedap. Kita melakukan sesuatu. Kita memberikan sesuatu. Kita menjadi sesuatu. Ketika sebuah sistem di sekitar kita sedang tidak beres, minimal kita melakukan hal yang benar, bukannya ikut-ikutan tidak beres. Lebih dari itu, kita bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki sistem tersebut.

Apakah harus melakukan hal yang besar dan luar biasa untuk melakukan suatu perubahan?

Tahukah Anda bagaimana seseorang memasukkan garam ke dalam masakannya? Ya, Sedikit atau secukupnya. Kita tidak harus melakukan hal yang besar dan luar biasa untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik. Kita bisa memulainya dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Sedikit dan secukupnya ini juga berlaku untuk konsep minoritas. Bolehlah kaum minoritas ini sedikit jumlahnya, tapi haruslah menjadi garam agar berguna bagi dunia.

Inilah filosofi garam dan segala kesederhanaannya. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sekecil apa pun diri kita, haruslah memberikan kontribusi bagi peradaban kita. Berguna. Bermanfaat. Itulah garam.

*) dengan beberapa tambahan dari saya

Iklan

5 thoughts on “Garam Dalam Sebuah Filosofi

    • kalau perumpamaannya seperti itu… berarti dunia = luka…. berarti dunia itu adalah sebuah penyakit… Asop, dunia itu bukan sesuatu yang seburuk itu… kalau dilihat dari sudut pandang si jahat, kebaikan itu pasti terasa menyakitkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s