Tania dan Hujan

“Kalau cerpen seperti ini, menurut teman-teman sudah pantas nggak sih untuk dibaca anak-anak? Terlalu biasa, atau terlalu membingungkan? Minta pendapatnya. Terima kasih” – Lambertus


Sudah beberapa hari ini hujan terus membasahi kota tempat Tania tinggal. Kadang pagi, saat Tania akan berangkat sekolah. Kadang siang, saat Tania mau pulang. Kadang sore, saat Tania mau main ke rumah teman. Kadang malam, waktu Tania mau tidur.

Untungnya got-got di kawasan perumahan Tania bersih dan lancar, sehingga hujan sederas dan selama apapun tidak menyebabkan banjir. Ini karena warga kompleks perumahan itu selalu membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan got saat ada kerja bakti.

Pagi ini, hujan turun lagi. Tania berdiri di teras depan sambil memandangi pekarangan rumahnya yang basah karena titik-titik hujan. Dia sudah mengenakan seragam sekolah lengkap, tas sudah di punggung, bekal makanan juga sudah siap. Tania hanya perlu berjalan untuk sampai ke sekolahnya.

Tania merengut. Dia tidak suka hujan. Hujan membuat suasana hati Tania menjadi tidak semangat. Pikir Tania, “Mama sudah repot-repot mencuci dan menggosok seragam Tania. Mengapa harus basah dan kotor gara-gara hujan?” Selain itu, ada hal lain lagi yang menjadi pikiran Tania, “Kalau nanti Tania sakit, bagaimana?”

“Tania,” panggil Mama Tania dari dalam rumah, “jas hujannya, Sayang!”

Mama Tania keluar sambil membawa jas hujan berwarna merah muda. Jas hujan itu dibelikan Papa Tania seminggu yang lalu, setelah seragam Tania kotor karena terciprat genangan air. Sebelumnya, Tania menggunakan payung.

“Ma, Tania tidak jadi berangkat sekolah ya,” ucap Tania tiba-tiba.

“Kenapa, Sayang?” Mama Tania tentu saja terkejut mendengarnya. Tidak seperti biasanya Tania seperti ini. Biasanya walaupun hujan, Tania tetap semangat berangkat sekolah. Meskipun wajahnya cemberut, Tania tetap ingin cepat-cepat sampai sekolah.

“Kenapa ada hujan sih, Ma?” Tania bertanya, seolah-olah hujan sudah mengubah dunianya menjadi sangat tidak menyenangkan. “Satu-satu teman Tania tidak masuk karena sakit. Leli, Chika, Anton. Mungkin hari ini mereka juga belum bisa masuk. Ada yang batuk, pilek, sakit panas.”

Sambil melihat hujan yang tak kunjung reda, Tania merasa kesepian jika harus berangkat sekolah hari ini. Sahabat-sahabatnya masih sakit, belum bisa menemani belajar bersama di kelas. Jadi, daripada kesepian di kelas, lebih baik di rumah saja.

“Lho, tapi Tania, kan tidak sakit. Tania juga mau sakit seperti teman-teman yang lain? Tidak, kan?”

Tania menggeleng. Dia pun menerima jas hujan di tangan mamanya. Papa Tania bilang jas hujan ini namanya jas hujan kelelawar karena lebar seperti sayap kelelawar.

“Beruntung Tania tidak gampang sakit. Jadi bisa terus sekolah dan menerima ilmu dari Bu Guru. Nanti Tania bisa bantu teman-teman yang sakit agar tidak ketinggalan pelajaran,” kata Mama Tania sambil membantu memakainkan jas hujan.

“Ma,” sahut Tania.

“Iya, Sayang?”

“Apa karena Tania tidak jajan sembarangan makanya masih sehat sampai sekarang?” tanya Tania sambil memandang mamanya tercinta. “Kan, Mama yang membuatkan bekal buat makan Tania di sekolah.”

Mama Tania tersenyum.

“Itu juga karena Tania selalu cuci tangan sebelum makan. Kalau di sekolah, Tania cuci tangan dulu, kan?”

“Iya!” jawab Tania riang sambil mengangguk mantap.

Tak lama kemudian Papa Tania juga keluar dari dalam, lengkap dengan jas hujan kelelawar seperti yang dipakai Tania. Hanya saja warnanya biru tua dan lebih besar.

“Mau diantar Papa atau berangkat sendiri hari ini?” tanya Papa Tania sambil memberikan senyum paling indah untuk Tania.

Tiba-tiba Tania mendengar suara yang tidak asing memanggilnya di depan. “Tania! Tania!”

“Chika!” seru Tania.

Di depan rumah Tania, tampak Chika juga memakai jas hujan. Warnanya hijau. Dan sepertinya, Chika sudah sembuh sekarang. Syukurlah!

“Pa, Ma, Tania berangkat dulu,” Tania pun berpamitan dengan kedua orang tuanya. “Ma, terima kasih bekalnya, ya. Pa, terima kasih jas hujannya, ya.”

Kedua orang tua Tania tersenyum senang melihat kebahagiaan yang kembali terpancar di wajah putrinya. Tania juga berpikir kalau tidak ada gunanya menyalahkan hujan. Jika tubuh sehat, semua akan baik-baik saja. Dan lagi, sahabat Tania sudah sembuh. Tania tidak lagi sendirian untuk berangkat sekolah hari ini.

Iklan

3 thoughts on “Tania dan Hujan

  1. Bagus tapi kok ada yang tapi ada yang kurang sreg,
    *Sok tau dah aku, bikin cerpen aja ga bisa 😀

    awalnya Tania benci hujan, tapi belakangnya Chika sudah sembuuh.
    pembaca kecewa ini mas,
    Tania nya di kasih pengarahan tuh kenapa harus ada hujan, mamanya maen ngalihin pertanyaan aja. Jadi kalo ada pembaca yang punya pikiran sama kek Tania, terjawab oooo hujan itu fungsinya buat bla bla bla..

    :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s