Kenangan 16 Agustus


Cerpen yang kubuat SMP dulu, tanggal 19 September 2003


Dari jendela kupandangi adik-adik kecil sedang berlomba. Tidak hanya mereka, teman-temanku, dan kakak-kakak lainnya sedang mengikuti perlombaan juga untuk memperingati HUT Republik Indonesia. Aku teringat kembali pada sesuatu yang mengharukan. Perpisahan dengan seorang sahabat.

Agustus tanggal 16. Pagi yang cerah. Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu karena di RT-ku ada lomba tarik tambang untuk hari ini. aku bermaksud mengajak Didin, tetangga sekaligus teman sekolah. Seperti biasa, aku menjemput Didin di rumahnya. “Didin!” panggilku. Lalu kulihat ibu Didin keluar rumah dan menghampiriku. “Wah, Didin sudah berangkat, Nak Narno!” kata ibu Didin. “Oh, kalau begitu permisi, Bu!” kataku. Aneh. Tidak seperti biasanya Didin berangkat lebih dulu. Kalau pun begitu, biasanya dia memberi tahuku. Ada apa, ya?

Akhirnya aku sampai di sekolah. Kuparkir sepedaku dan berjalan menuju kelas yang sudah akrab denganku. Dari kejauhan, kulihat Didin termenung di balik jendela kelas. Sepertinya dia tidak mengerti kedatanganku. Perlahan-lahan kutaruh tas, lalu berjalan di belakangnya. Dengan semangat, aku pegang pundaknya. “Ahhh…!” Didin kaget dan berbalik. “Nakal!” serunya sambil mendorongku. Kami tertawa. “Din, aku mau tanya,” kataku. Tiba-tiba tawa Didin berhenti. Seketika ada perasaan aneh di dalam hatiku. Aku merasa tidak enak menanyakannya. Oh, iya! Ganti topik! “Din, kamu tahu lomba di RT kita, kan?” Lomba tarik tambang. Kamu ikut, ya!” pintaku. “Kapan?” tanyanya dengan wajah yang biasa saja. “Nanti sore,” jawabku. Didin diam dan memandang mataku dalam-dalam. Aku merasa menanyakan hal yang salah. Dan aku belum siap ketika Didin menjawab, “Tidak bisa.” Bel tanda masuk berbunyi.

Langit menjadi mendung. Aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Kata “tidak bisa” selalu menggema di dalam kepalaku. Tapi kulihat Didin lebih menderita. Dia menghabiskan jam pelajaran dengan melamun. Ada apa? Mengapa Didin tidak seperti biasanya?

Bel istirahat berbunyi. Inilah saatnya yang paling tepat untuk menanyakan semuanya kepada Didin. Tapi… bangkunya sudah kosong. “Bi, Abi!” panggilku kepada tema sebangku Didin. “Apa?” sahutnya. “Kamu tahu Didin kemana?” tanyaku. “Tidak. Tapi tadi dia terburu-buru,” jawab Abi. Aku mulai berlari mencari Didin. Di kantin, di perpustakaan, di kelas-kelas yang lain, bahkan di toilet. Tapi tidak ada. Kemana lagi? Hari ini sitirahat hanya sekali. Aku tidak mau menjadi sia-sia.

Bel tanda masuk berbunyi lagi. Tapi sampai guru datang pun Didin belum kembali. Tak lama kemudian, aku melihat guru BK dan lho, ayah Didin! Dan Didin berdiri di belakangnya. Aku sangat terkejut pada apa yang dikatakan guru BK. Didin akan pindah sekolah untuk mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan ke luar kota. Wajah Didin memang sangat sedih. Dari pandangan matanya aku tahu dia mau mengatakan, “Maafkan aku!”

Di rumah, aku melampiaskan semua kesedihanku di dalam kamar. Kukunci pintu dan mulai jatuh di atas tempat tidur. Kenyataan ini terlalu pahit bagiku. Aku tidak berani melirik rumah Didin karena aku takut menangis, tapi sepertinya tidak bisa. Saat itu aku teringat kembali kenangan-kenangan bersama Didin. Entah berapa lama aku dalam keadaan melamun. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. “Ya, dibuka saja!” kataku. “Dibuka apanya? Memangnya aku orang kuat bisa membuka pintu yang dikunci?” seru kakakku. Aku melompat dari tempat tidur dan membuka pintu. Aku disambut dengan wajah lucu kakakku. “Kamu lagi ditunggu, tuh!” katanya. “Siapa?” tanyaku. “Lihat saja sendiri! Ramai-ramai, kok!” jawab kakak.

Aku berlari menuju teras depan. Aku sangat terkejut melihat Didin dan teman-teman lainnya. “Kamu belum pindah, Din?” tanyaku. “Nanti. Aku ikut sama kalian karena aku tidak mau kalian kalah,” jawab Didin sambil tersenyum. Senangnya aku. Langit kembali cerah. Dan sepertinya tidak semua perpisahan itu menyedihkan. Kami berlomba dengan semangat. Dan kesedihanku berangsur-angsur mulai berkurang dengan melihat tawa Didin.

Aku terlepas dari lamunanku ketika mendengar suara pintu rumah diketuk. Aku berlari dan membukakan pintu. Aku gembira sekali. Didin dan keluarganya berkunjung kemari. “Ibu, Ayah, Kak! Keluarga Pak Hasan berkunjung!” teriakku. Ayah, ibu, dan kakak pun berlari dan menyambut mereka. Memang, kami sangat akrab dalam bertetangga. Aku, Didin, dan kakak mengobrol di teras. Sedangkan orang tua di ruang tamu. Kadang kami berbicara diselingi dengan tawa terbahak-bahak. Dan selalu diakhiri kata “Hush, jangan ramai!” dari ayah. Bagiku, kedatangan Didin adalah hadiah yang sangat istimewa karena kami memang jarang bertemu. Dan aku sangat mensyukuri anugerah-Nya ini.


  • Review cerpen ini. (coming soon)
  • Versi sekarang cerpen ini. (coming soon)

Iklan

5 thoughts on “Kenangan 16 Agustus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s