Di Bawah Atap Rumah Dasrun

Wow, akhirnya Dasrun mampir ke blog saya. Bagi yang belum tahu, serial Dasrun (atau lebih tepatnya cerita bersambung) ini adalah proyek yang diprakarsai oleh Bu Iyha. Tentunya teman-teman semua perlu membaca cerita-cerita yang sudah ditulis oleh para pendahulu sebelum saya karena cerita yang saya buat ini adalah EPISODE ke-9. Jadi apa saja kedelapan episode sebelumnya? Simak tautan berikut:

Dan sekarang mari kita simak kelanjutan ceritanya. Selamat membaca… 😀


Di Bawah Atap Rumah Dasrun

“Gang Mancur..Gang Mancur..,” teriakan kenek segera menyadarkan Dasrun. Dia segera mencari celah untuk dapat keluar dari jubelan penumpang metromini yang memang selalu penuh di jam-jam macet seperti ini. Begitu tubuh Dasrun keluar, angin sejuk terasa mengisi tiap sela lipat pakaiannya yang basah karena keringat. Dasrun meraba celananya, mengeluarkan amplop putih dari saku celananya, dan membayarkan ongkos perjalanan seperti yang biasa ia lakukan.

Sejenak Dasrun terkesiap. Dia merasa pernah melakukan hal ini. Tapi dimana? Kapan? Pikiran Dasrun melayang, berputar, dan berbelit-belit menyusuri lorong perkampungan untuk mencari ingatannya yang tercecer entah dimana. Kosong. Nihil. Tak ada jawaban.

“Sudahlah,” ucap Dasrun sambil menghela nafasnya.

Metromini sudah berlalu. Dasrun meraba sakunya. Dia akan memasukkan amplop putih itu ke dalam saku celananya. Namun, begitu amplop menempel ke bibir saku, Dasrun diam. Perasaannya mengatakan kalau mungkin lebih baik ia pegang saja amplop itu erat-erat. Dengan langkah mantap, gaji pertama di genggaman, bayangan wajah bahagia Rama dan istrinya, Dasrun berjalan menuju rumahnya yang kecil dan sangat sederhana.

Dasrun mendekap amplop itu begitu dekat ke dadanya. Ia bisa merasakan betapa jantungnya berdebar kencang, tidak sabar melihat wajah bahagia keluarganya. Dasrun ingin membuktikan kepada istrinya bahwa pekerjaannya saat ini tetap membawa barokah bagi keluarga mereka. Meskipun jumlahnya tidak sebesar dulu, pekerjaan pertama Dasrun sebagai penjaga pintu parkir mall.

Di dalam hati kecil Dasrun, dia merasa bersalah kepada istrinya karena kehilangan pekerjaannya yang dulu.

“Mas, jangan sok baik ye… Kalau bukan Mas yang salah, kenapa ngaku salah? Mas kasihan sama kehidupan teman-teman Mas. Tapi kita juga perlu dikasihani Mas. Kita punya anak, ada Rama yang sekolahnya masih lama. Masih ada kita bertiga yang perlu makan tiap hari. Kenapa Mas nggak mikir dulu sih…”

Kata-kata yang selalu terngingang. Ledakan amarah yang pertama dari Nting, istrinya tercinta. Saat itu, Dasrun hanya duduk diam dan menundukkan kepala. Tak bisa mengelak. Kenyataan begitu benar adanya.

Awal petaka, peristiwa hilangnya sepeda motor salah seorang pengunjung. Dasrun tidak mau lagi mengingat kebodohannya. Jika diceritakan secara singkat, pengunjung itu menuntut ganti rugi, semua penjaga yang bertugas dikumpulkan, dimarahi, ditanya kelalaian siapa, semua diam, diancam pecat semua, Dasrun tak tega, Dasrun mengajukan diri sebagai tumbal.

“Sudah. Ini awal yang baru. Ini awal yang baru,” ucap Dasrun untuk menghibur dirinya sendiri. Tampak sudah rumah kecilnya yang entah mengapa begitu dirindukan.

“Assalamualaikum…Dek…” salam Dasrun begitu memasuki pekarangan rumahnya yang hanya beberapa meter persegi. Pintu masih tertutup. Dari situ Dasrun bisa mendengar suara radio yang mengalunkan lagu dangdut Imam S. Arifin. Pasti dari dapur, pasti istrinya sedang masak. Dasrun melepas sepatunya dan membuka pintu.

“Assalamualaikum… Dek, aku bawa sesuatu…”

“Waalaikumsalam,” sahut Nting, istri Dasrun dari dalam. Nadanya tinggi, girang, jelas istrinya ini sudah sangat mengharapkan kedatangan Dasrun, atau lebih tepatnya kedatangan ‘oleh-oleh’ Dasrun. Terdengar bunyi sendok yang beradu dengan gelas dari dalam. Nting sedang menyiapkan segelas teh hangat kesukaan suaminya.

Dasrun masuk ke dalam. Dengan daster berwarna jingga dan rambut terikat, tampak Nting yang sedang mengaduk minuman suaminya dengan sumringah dan senyum merekah. Mata Nting cepat mendarat ke atas amplop putih dalam dekapan Dasrun.

“Berapa Mas?” pertanyaan pertama muncul dari mulut istri Dasrun.

Dasrun mengulurkan tangannya.

“Alhamdulillah…!” Amplop itu langsung disambar oleh tangan Nting yang terlihat masih terdapat parutan kelapanya. Dan benar saja, sebaskom parutan kelapa berada tak jauh dari kompor.

“Bikin apa Dek? Serundeng?” tanya Dasrun, sementara Nting perlahan-lahan membuka amplop putih dengan mata berbinar.

Nting tidak menjawab pertanyaan Dasrun. Dalam hatinya, “Lima ratus? Tujuh ratus? Satu juta?”

Dasrun masih berdiri dan mengamati wajah istrinya yang cantik, paling tidak bagi Dasrun sendiri. Sesungguhnya Dasrun takut kalau apa yang dilakukannya selama ini tidak cukup membuat Nting senang. Sebagai seorang suami, tentu Dasrun juga ingin menjadi kebanggaan istrinya. Oleh karena itu dia rela bekerja menjadi apa saja, termasuk tukang bersih toilet kantor.

“Dek…” ucap Dasrun saat melihat ekspresi wajah istrinya yang mulai surut. “Mungkin jumlahnya tidak seberapa, tapi itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk saat ini. Aku seorang tukang bersih toilet kantor, aku harap kamu mengerti Dek…”

Suara Dasrun mengalun menenggelamkan hati Nting. Empat lembar uang berwarna biru dan beberapa pecahan ribuan dan puluhan ribu, memang jauh dari bayangannya. Sesungguhnya Nting lemas. Nalurinya sebagai seorang istri yang memegang keuangan keluarga bergerak. Dia berpikir, bagaimana mengembalikan uang yang sudah ia pinjam dari saudara-saudaranya, bagaimana makan mereka sekeluarga, bagaimana sekolah Rama…

Melihat kediaman Nting, Dasrun tergerak untuk mendekati istrinya yang paling dicintai. Tangan Dasrun menjamah kepala Nting, mengusap rambutnya, kemudian memberikan pelukan yang dalam dan penuh kehangatan.

“Mengertilah Dek…” jerit Dasrun dalam hati. Dasrun mendekap kepala istrinya ke atas dadanya. Dia tahu, kalau istri tercintanya akan menangis. Bahu Nting mulai bergetar.

Bukan, bukan seperti ini! Bukan seperti ini harapan Dasrun. Harusnya uang yang dibawanya ini bisa membuat istrinya bahagia, bukannya menangis. Dasrun ingin melihat istrinya menjerit bahagia. Dasrun ingin melihat semangat istrinya seperti saat menyambut kedatangannya tadi. Dasrun ingin Nting senang. Itu saja.

Nting sesenggukan. Dia membenamkan wajahnya ke dalam amplop putih di genggamannya. Nting sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba air mata mengalir di wajahnya. Rasanya ada sesuatu yang begitu sakit, jauh di dalam hatinya. Perasaan bersalah tiba-tiba menyeruak dari dalam kalbunya, mendorong semua air mata bening yang selama ini jauh tersimpan dalam keangkuhannya. Tiba-tiba Nting merasa kalau selama ini begitu jahat kepada Dasrun, suaminya sendiri.

“Mengapa… kita jadi seperti ini Mas?” tanya Nting masih dalam tangisnya. “Kita miskin. Mengapa aku tidak bisa ikhlas kalau kita ini miskin Mas?”

Dasrun tak bisa menjawab apa-apa. Dia sendiri tidak mengharapkan hidup yang seperti ini.

“Mengapa harus aku Mas yang menjadi istrimu?”

Dada Dasrun serasa diremukkan oleh godam. Apa maksud pertanyaan istrinya itu? Masih kurang… masih kurang… Dasrun masih belum bisa memenuhi harapan istrinya tercinta.

Nting masih tenggelam dalam pelukan Dasrun dan tangisnya. Dasrun menarik nafas. Entah mengapa dadanya begitu sesak. Sebagai laki-laki, Dasrun menyesal harus sekuat hati menahan tangis. Tapi bagaimana lagi yang harus dilakukannya agar semua yang dilakukannya itu cukup bagi Nting, istrinya yang amat sangat ia cintai.

“Mengapa kau tetap mencintaiku, sementara aku tidak mencintaimu Mas?”

Dasrun menahan nafas.

“Kalau seperti ini terus, aku jadi merasa bersalah. Aku jadi benci pada diriku sendiri Mas,” Nting melepaskan pelukan Dasrun. Namun, Dasrun tetap memegangi bahu kecil istrinya.

“Dek…”

“Maafkan aku Mas. Aku bersalah Mas. Aku bingung Mas…,” Nting meronta.

“Dek…”

“Aku… Aku sudah berpikiran jahat padamu… Aku sudah mengkhianatimu Mas… Aku bukan istri yang baik…”

“Dek!”

Nting diam. Nting terisak. Tatapan mata Dasrun yang begitu dalam mengingatkan Nting ketika laki-laki itu melamarnya. Awal penderitaan batin Nting.

“Mengapa kau memilih aku Mas…?” Nting bersuara sangat lirih karena benar-benar kalah oleh tangisnya.

Angin bertiup di hati Dasrun. Setelah pernikahan selama ini, apakah hari ini akhirnya benar ada kejujuran di bawah atap rumah ini? Inikah saatnya semua menjadi transparan dan tanpa rahasia? Apakah ini saatnya pintu dan jendela benar-benar terbuka? Apakah ini awal dari keluarga mereka?

“Dek,” suara Dasrun kembali menenggelamkan hati Nting. “Aku mencintaimu karena aku mencintaimu. Aku ingin membuatmu bahagia. Aku ingin melindungimu. Aku akan melakukan semuanya untuk kebahagiaanmu, kebahagiaan Rama, kebahagiaan keluarga kita.”

Dasrun kembali mengusap rambut istrinya.

“Aku ingin keluatga kita benar-benar menjadi keluarga yang baik. Meskipun lingkungan kampung kita seperti ini… aku ingin melindungimu dari semua yang tidak baik yang ada di sini. Kamu ini sebenarnya orang baik Dek. Aku tahu itu. Makanya aku memilihmu.”

Nting berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dalam hati, dia merenungi yang selama ini dilakukannya dan dilakukan Dasrun untuknya.

“Jangan pernah lagi mengatakan kalau kau bukan istri yang baik Dek… Kita manusia. Aku berusaha. Kamu pun berusaha. Tidak ada yang sempurna di dunia ini Dek, tapi kita harus mensyukuri itu semua,” kata Dasrun sambil mengangkat wajah istrinya. “Jika kau belum bisa mencintaiku, berusahalah. Kamu tidak ingin mengakhiri pernikahan kita yang sudah sepuluh tahun ini kan?”

Nting tak bisa berkata apa-apa lagi. Apakah dia masih bisa membuat pengakuan kalau dirinya adalah istri paling berdosa? Apakah dia masih bisa mengatakan kalau selama ini dia selingkuh dengan Jalal? Apakah dia sanggup?

“Janji Dek?” tanya Dasrun dengan lembut dan menenangkan.

Nting mengangguk perlahan.

“Sekarang terima ini semua,” Dasrun menekankan amplop putih itu ke atas telapak tangan istrinya. “Aku hanya dapat dua ratus lima puluh. Tadi aku pakai buat bayar metromini. Nanti kita pakai juga beberapa buat jalan-jalan ke pasar malam nanti sama Rama.”

“Tapi, apa tidak sebaiknya kita berhemat dulu?” akhirnya suara Nting terdengar lagi. Dasrun tersenyum.

“Sekali-kali bikin Rama seneng kan boleh. Kamu juga pasti lama nggak jalan-jalan satu keluarga,” jawab Dasrun, kali ini dengan hati yang lega.

Nting tersenyum, mengikuti senyum suaminya. Dalam hati, dia semakin merasa bersalah.

“Mas, terima kasih ya.”

“Sama-sama.”

Mata suami istri itu beradu penuh cinta dan harapan, entah akan bertahan sampai kapan. Bagi Dasrun, dia ingin merasakan perasaan bahagia ini setiap hari.

“Nting… Nting…” Tiba-tiba kemesraan Dasrun dan Nting terganggu oleh sebuah suara laki-laki yang ada di depan pekarangan rumah mereka. Nting tersentak. Suara itu menggoyahkan keteguhan hati Nting yang sedang berusaha untuk tetap bersama kedamaian Dasrun.

Jalal. Laki-laki berbadan gempal itu terkejut saat Dasrun keluar dari dalam karena memang tak biasanya pada jam ini laki-laki itu sudah ada di rumah. Dasrun menghampiri. Sementara Nting mengekor di belakang Dasrun dengan perasaan yang tak menentu. Dia tak berani menatap langsung mata Jalal yang selama ini mengikat hatinya.

“Ada apa, Mas Jalal?” tanya Dasrun.

“Maafin kalau aye ganggu lu berdue. Tapi ni gawat banget…Rama…” kata Jalal dengan bumbu panik.

“Ada apa dengan Rama?” Dasrun dan Nting menjerit bersamaan.

“Rama ketabrak!”

Kepala Dasrun serasa dihantam batu. Rencana senang-senang mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

“Tadi Rama dimana?” tanya Dasrun pada istrinya.

“Lagi ngaji di musholla. Harusnya sekarang sudah pulang.”

“Iye. Tadi emang waktu pulang dari ngaji sama temen-temennye. Sekarang kita ke rumah sakit bareng-bareng aje. Yang nabrak tadi langsung bawa si Rama ke rumah sakit,” jawab Jalal dengan penuh keseriusan.

“Dek… tolong siap-siap,” kata Dasrun pada istrinya. Sementara Nting masuk dengan penuh kecemasan, Dasrun melanjutkan percakapan dengan Jalal. “Rumah sakit mana?”

“Rumah sakit Pelita,” jawab Jalal mantap.

BERSAMBUNG


Panjang juga ya! Maaf, bagi saya ini masih kurang panjang. Well, sama seperti ritual yang dilakukan oleh pendahulu saya, cerita ini ingin saya lanjutkan ke teman saya… Mas Huda SC (Hudaesce’s Blog). Tuh, kebagian juga kan akhirnya. Nanti kalau cerbungnya sudah selesai, mohon diteruskan ke 1 orang narablog lainnya ya Mas. Sebelum nyawa si Rama tidak tertolong. Plissss….. 😦

Iklan

33 thoughts on “Di Bawah Atap Rumah Dasrun

  1. Ping-balik: Quantum Dasrun ! « Rahasia Otak

  2. di tempat saya yang kecelakaan adalah dasrun. Setelah melewati kuantum ternyata musibahnya beralih ke rama anaknya. Jadi penasaran kelanjutannya seperti apa.

  3. Ping-balik: Dasrun?? « celoteh .:tt:.

  4. Smooth, luwet, menghanyutkan… Owh,,owh,,owh,, aku terlena dalam cerita ini bung lambert,, keren geeeelllaaaa….!!!! top abis, setelah melewati quantum, rupanya kehidupan Dasrun makin menggigit,, hehe,,,

    Huda,, buruan atuh dilanjut, kasian tuh si Rama, lagi kritis, ayo..ayo.. *semangatin Huda* hehehe…

    Sip banget bung, makasih banyak berkenan memberi nyawa untuk cerita lanjutan ini, senengnya bisa bersahabat denganmu.. 🙂

  5. Ping-balik: Dasrun Berpetualang !!! « Hudaesce's Blog

  6. Ping-balik: luangkan waktu untuk Selamatkan Komodo « anugrha13

  7. Ping-balik: Dasrun Ketemu Uni | Fitr4y's Blog

  8. Ping-balik: Dasrun Diantara Pilihan | YSalma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s