Gembok Bapak

Cerpen Gembok Bapak

Ini sudah kesekian kalinya aku mendapati bapak pulang hingga larut malam. Saat semua lampu rumah tetangga sudah padam, hanya lampu rumah kami yang masih menyala. Dua adikku sudah tidur di kamarnya, atau lebih tepatnya kamar kami untuk tidur bersama. Sementara sambil menunggu membukakan pintu pagar untuk bapak, aku duduk di ruang tamu sambil membungkusi kerupuk-kerupuk.

Dan hari ini sepertinya akan menjadi hari dimana bapak pulang paling larut! Bapak memecahkan record! Jam dinding sudah menunjukkan waktu lebih dari setengah satu. Pekerjaanku sudah selesai beberapa menit yang lalu dan aku mulai tidak kuat mengangkat kelopak mataku.

Ada kalanya aku ingin membiarkan rasa kantuk menang atas kesadaranku. Aku ingin tidur dengan nyaman dan tidak mudah terbangun hanya karena bunyi gembok yang dipukul-pukulkan ke pagar. Aku ingin membiarkan bapak terkunci di luar. Aku ingin membiarkan bapak kedinginan dan tidur di luar. Aku ingin menghukum bapak. Aku ingin membuat bapak jera pulang larut malam.

Setiap pagi setelah bangun tidur, aku sering melihat bapak tidur di kursi. Memakai selimut garis-garis hijau yang biasanya ada di lemari. Di pipi dan tangannya ada darah dari nyamuk yang menemui ajal tadi malam. Pastinya bunyi plak-plok terus berkecamuk di ruang tamu malam tadi. Dan karena sinar matahari menyingkirkan nyamuk-nyamuk yang selalu berdenging di telinga, tidur bapak begitu nyaman. Bapak ngorok!

Kadang aku sengaja tidak membangunkan bapak karena kasihan. Yang jelas sudah kusiapkan secangkir kopi pahit kesukaan bapak di atas meja, dan aku pun siap mengantarkan adik-adikku bersekolah. Untuk sarapan, biasanya aku hanya menyiapkan untuk adik-adikku saja. Bapak tidak pernah meminta karena biasanya bapak lebih suka makan di warung pinggir jalan bersama teman-temannya. Sementara aku baru makan nanti kalau semua urusan rumah sudah selesai.

Akan tetapi sering bapak malah marah karena tidak kubangunkan. Kata bapak, “Bapak mau kerja! Kalau kesiangan begini, mana bisa dapat uang banyak?” Dan bapak pun pergi dengan tergopoh-gopoh setelah cuci muka dan minum kopi yang masih kebul-kebul asapnya.

Bapak pergi kerja setiap hari. Namun aku tidak pernah tahu apa pekerjaannya. Kalau kutanya, bapak hanya menjawab dengan kata-kata yang sama, “Yang penting kamu dapat uangnya. Adik-adikmu bisa sekolah. Kita semua bisa makan.” Aku pun terdiam dan tidak bisa ngotot lagi sama bapak. Kalau sampai bapak marah, entah apa yang akan terjadi pada kehidupan kami sehari-hari. Karena bagaimana pun juga, bapak adalah tulang punggung keluarga dan aku hanya mencari pemasukan sampingan.

Di perumahan pinggir kota yang rapat dan bau keringat ini, kami sekeluarga tinggal berempat. Ada bapak, aku, dan dua adikku. Adik-adikku ini kembar laki-laki dan perempuan. Kata teman-temanku, kalau rambut mereka dipotong sama barulah kelihatan kembarnya. Saat ini adik-adikku sudah masuk kelas 3 SD, di sekolahku dulu. Wali kelasnya juga masih wali kelasku dulu, Bu Dian.

Sementara aku, laki-laki tamatan SMA yang lebih memilih jadi pengganti ibu daripada harus jauh-jauh kuliah dan meninggalkan adik-adik kesayanganku. Sambil menghabiskan waktu, aku bekerja pada Bu Is, tetanggaku yang selalu disibukkan dengan pesanan kerupuk khas kota kami. Aku bekerja di bagian pembungkusannya, sama seperti beberapa tetangga yang lain yang mayoritas ibu-ibu. Selain itu, aku juga membantu Bu Is mengantarkan kerupuk-kerupuk itu ke kios-kios kecil di seluruh penjuru kota.

Dan bapak, sosok yang kukenal ini adalah seorang bapak yang selalu saja ngeles kalau ditanya soal pekerjaan. Dulu saat ibu masih di rumah, bapak adalah seorang supir ojek yang berangkat pagi pulang malam. Tapi setelah bapak berpisah dengan ibu, bapak sudah tidak lagi mengojek. Sepeda motornya sudah dijual. Namun yang masih menjadi pikiranku hingga saat ini, mengapa bapak masih berangkat pagi pulang malam?

Di tengah penantianku sering kali aku berpikir, apakah nanti kalau aku sudah berkeluarga aku juga akan seperti bapak? Aku jadi takut sendiri. Aku takut salah mendapatkan jodoh. Saat pembicaraan mengenai pacar sudah menjadi hal yang biasa di antara anak muda seusiaku, aku malah berkeringat dingin jika memikirkannya. Aku tidak pernah berpikir untuk pacaran yang sementara. Bagiku cinta itu bukan sesuatu yang sederhana dan biasa. Cinta itu hanya ada satu dan untuk selamanya. Tapi…

Walaupun aku tahu kalau perpisahan antara ibu dan bapak ini bukanlah suatu keinginan. Walaupun aku tahu kalau keterpaksaan ini lebih disebabkan oleh keinginan keluarga ibu yang begitu ‘tinggi’ itu. Walaupun aku tahu kalau keadaan yang menimpa kami ini adalah efek dari perpisahan itu, apa yang bisa kulakukan selain menerimanya?

Sikap bapak yang begitu tertutup walaupun kepada anaknya sendiri, kepadaku, membuat hidup ini terasa semakin dingin dan sendiri. Aku tidak ada teman selain adik-adikku. Bapak hanya menjanjikanku uang untuk hidup sehari-hari. Uh, mungkin inilah yang dirasakan para istri yang sering ditinggal suaminya yang workaholic. Tapi, Pak, aku ini anakmu! Aku juga punya dunia sendiri! Dan lagi, aku tidak tahu bapak bekerja dimana dan sebagai apa. Apa yang terjadi kalau ternyata uang yang kuterima setiap hari ini adalah uang haram? Aduh, Pak, anak laki-lakimu ini bertanya-tanya!

Iklan

12 thoughts on “Gembok Bapak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s