Annida, Apa Kabarmu?

Annida, nama itu terdengar tidak asing bagiku. Sebuah nama muncul dari sebuah pesan singkat ke ponselku.

“Hmm, Annida?”

Sedetik, dua detik, tiga detik aku berpikir… tiba-tiba seorang gadis manis mengejutkanku dari belakang. Aku yang sedang dalam keadaan suntuk karena memikirkan tugas kuliah langsung terlonjak dan melemparkan ponsel ke udara. Beruntung gadis itu cukup gesit untuk menangkapnya sebelum menyentuh tanah.

“Ini HP-mu,” katanya sambil menyerahkan ponsel itu kepadaku. “Oh iya, Assalamualaikum.”

Aku melongo. Wajahku terasa hangat seperti dihembusi uap air. Aku melihat wajah seorang gadis yang kiranya sudah cukup lama menghilang dari benakku.

“Waalaikumsalam,” jawabku masih dengan wajah yang terlihat bodoh. Ponselku masih kugenggam sementara kulihat gadis itu berjalan ke arah salah satu bangku di taman ini.

Dia duduk. Suaranya saat mengucapkan salam, menyentuh kalbu. Senyumnya, matanya, wajahnya. Dirinya begitu anggun dengan pakaian berwarna putih dan jilbab merah muda yang saat ini dikenakannya. Tidak berubah. Dirinya saat ini masih sama seperti dulu.

Ya, gadis itu bernama Annida. Dan dia melambai kepadaku karena aku terlihat seperti tidak sadarkan diri sambil berdiri.

“Oh, iya, maaf!” aku berjalan mendekat dan duduk di depannya. “Annida, apa kabarmu? Lama tidak bertemu.”

“Bisa saja. Kita memang tidak pernah bertemu,” dia tersenyum lagi. Ya, Tuhan! Hatiku melonjak. Aku kegirangan meskipun sedang tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Aku salah tingkah. Perjumpaan ini tidak pernah kupikirkan meskipun sesungguhnya sangat kuharapkan. Gadis itu, yang sesungguhnya usianya ada di atasku, akhirnya bicara denganku.

“Sudah terima SMS-ku?” tanyanya.

“Ya, sudah. Baru saja,” jawabku sambil mencoba membuka kembali pesannya tadi.

“Mmm…” dia bergumam. Jariku berhenti. Dia seperti ingin mengucapkan sesuatu. “Terima kasih sudah mengirimiku cerpen.”

Cerpen?

“Oh, yang waktu itu? Yang lewat email?” mataku melotot. Tiba-tiba sebuah flashback mengalir di mataku, kembali ke beberapa hari yang lalu.

Saat itu aku sedang terpuruk. Sebuah pengumuman, lomba, cerpen, tidak ada namaku. Penantian, lama, aku terdiam di depan monitor, sia-sia.

Kubuka lagi cerpen yang sudah kubuat dengan sepenuh hati itu. Apa yang salah? Kucoba membacanya lagi. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang salah. Berbagai kemungkinan berlarian di otakku. Dan aku masih mengakui bahwa cerpen buatanku ini harusnya lolos lomba.

Ya, Tuhan! Apa yang sudah kupikirkan? Bukankah aku harus bersyukur dengan apapun keputusan yang telah Kau berikan kepadaku? Bukankah saat mengirimkan cerpen itu aku sudah berujar bahwa aku akan menerima apapun hasilnya. Ya, aku adalah manusia yang berusaha dan keputusan tetap di tangan-Mu. Pasti ada maksud yang ingin Kau sampaikan lewat kegagalan ini, Tuhan.

“Lalu saat itulah kau ingat aku lagi?” tanya Annida sambil serius mendengarkan ceritaku.

Aku terdiam.

“Lho, aku sedang bercerita?” aku bingung. Bukankah yang baru saja lewat di mataku itu flashback?

“Oh, kamu sedang melamun? Soalnya baru saja kamu cerita panjang lebar tentang lomba cerpen itu,” kata Annida masih dengan ekspresi yang sama.

Kepalaku pening. Apakah penyakitku muncul lagi? Aku tidak bisa lagi membatasi antara ruang khayal dan ruang nyataku.

“Sudahlah, jangan dipikirkan!” katanya lagi. Annida tersenyum lagi. Dia menenangkan hatiku.

Tapi memang benar. Saat kegagalan itulah aku ingat Annida lagi. Meskipun aku hanya melihatnya sekilas, meskipun itu sudah dulu sekali, meskipun aku tidak pernah menyapanya, meskipun dia tak tahu kalau aku ada, tapi aku memperhatikannya.

Ya, aku suka Annida sejak pertama kali kubaca cerpennya. Cerpen buatannya berbeda dengan cerpen yang selama ini dibuat oleh teman-teman sebayanya.

“Itu bukan cerpen buatanku,” jawab Annida. “Itu semua cerpen buatan orang-orang seperti kamu.”

Aku melongo lagi. Sepertinya aku tidak sadar lagi kalau sedang bercerita. Ah sudahlah!

“Tapi…” aku bergumam. “Tapi mengapa aku sekarang sulit sekali bertemu dengan Annida?”

“Bertemu?”

“Ya! Dulu aku sering lihat Annida di toko buku. Di perpustakaan juga, Annida ada di situ bersama teman-teman yang lain,” aku terdengar seperti sedang protes. “Apakah itu karena aku diam saja? Apakah karena aku tidak pernah menyapa?”

Annida tampak sedang berusaha mencerna kata-kataku. Dia merenung, lalu berpikir. Dia sepertinya sedang memikirkan kata-kata yang pas mengenai hilangnya dia selama ini.

“Sebenarnya aku tidak menghilang, hanya saja… sekarang aku pindah,” jawabnya sambil menunggu reaksiku.

“Pindah?”

“Ya. Namun justru itulah sekarang kamu bisa lebih mudah untuk bertemu denganku,” ekspresinya yang sendu berubah menjadi penuh semangat.

“Pindah sejak kapan?” tanyaku.

“Sejak pertengahan 2009 lalu, aku sudah tidak lagi muncul di toko buku. Sekarang kamu bisa buka website-ku. Aku akan selalu ada di situ dan siap bertemu denganmu.”

“Alamatnya?”

“Ada di http://www.annida-online.com/” jawab Annida dengan penuh semangat. “Makanya, sekarang aku ada di sini untuk memberitahukan kabar gembira untukmu.”

Jangan! Jangan katakan kabar gembira itu! Jangan!

“Iya, aku sudah menerima cerpenmu. Sudah aku tampilkan di website-ku biar teman-teman di seluruh Indonesia tahu,” mata Annida tampak berbinar, memantulkan binar kebahagiaan yang saat itu sekejap hinggap di mataku.

“Benarkah?” tanyaku tidak percaya.

“Iya.”

“Sungguh?”

Suer samber geledek!”

Aku gembira. Aku menjawab senyumnya dengan senyuman di wajahku. Sedetik, aku merasa sayang karena dia sudah tidak lagi dengan leluasa bermain dengan teman-temannya di pinggir jalan. Saat mengirim cerpen ke emailnya, aku masih berpikir kalau dia masih ada di perpustakaan atau toko buku di kota yang lain. Namun dari penjelasannya tadi, aku sadar kalau aku tak akan lagi pernah bertemu dengannya secara nyata seperti dulu.

Akan tetapi, melihat kebahagiaannya, aku juga bahagia. Aktif di website, ini sepertinya sebuah langkah besar yang sudah dipilih Annida. Ya, dia pasti tahu dengan apa yang dilakukannya. Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Pun bagi diriku, aku seharusnya tahu apa yang baik untukku. Gadis ini, Annida, menginspirasiku.

“Kamu melamun lagi,” sekali lagi Annida melambaikan tangannya di depan mataku. “Mau tidak main ke website-ku? Mau tidak lihat cerpenmu?”

“Mau!” aku sangat bersemangat melihat semangat Annida.

Annida memuat cerpenku. Dia menerimanya. Kami pun berjalan bersama menuju ke rumahnya, atau lebih tepatnya ke cerpenku yang ada di rumahnya.

Teman-teman mau ke sana juga? Alamatnya ada di http://www.annida-online.com/cerpen/gembok-bapak.html

Iklan

10 thoughts on “Annida, Apa Kabarmu?

  1. hmmmm…kreatif2, sebuah annida bisa menjadi cerita seperti itu. Bagus mbet cepennya, jadi teringat ibu jg he2..tp overall i like it, good job…(imb lover haha)

  2. Ternyata lambertus baca annida juga, hehe…, dulu pas SMP bela-belain ga jajan seminggu buat beli majalah annida 😀
    Sudah kubaca cerpenmu, and as expected, cerpennya lambertus baguuuussss!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s