Ayah, Aku…

Perlahan-lahan Maya (kanan) duduk mendekati ayah dan kedua adiknya. Wajahnya menunjukkan perasaan bersalah yang mendalam.

Ayah:
“Adik-adikmu sudah tidur. Sekarang sudah malam. Kau segera tidur juga.”

Maya:
“Maafkan aku, Ayah.”

Ayah:
“Anak ayah tidak pernah salah.”

Maya:
“Tapi aku takut, Ayah.”

Ayah:
“Ada ayah di sini. Apa kau mau tidur di sini juga?”

Maya:
“Malam ini… iya”

Ayah:
“Kalau begitu kemarilah.”

Maya:
<merebahkan diri di sebelah adiknya>

Ayah:
“. . .”

Maya:
“Aku tak akan pernah mengatakan hal itu lagi.”

Ayah:
“Ayah sudah tidak apa-apa. Jangan pernah dipikirkan.”

Maya:
“Ayah masih mencintai ibu?”

Ayah:
“Tak ada yang melebihi cinta ayah daripada kepada kalian bertiga. Ayah akan selalu memikirkan kalian. Cinta ayah kepada kalian akan selalu melebihi cinta ibu kepada kalian.”

Maya:
“. . .”

Ayah:
“Jangan katakan kalau kau membenci ayah. Jangan katakan kalau kau akan meninggalkan ayah.”

Maya:
“Aku cinta ayah.”

Ayah:
<mencium kening Maya>

= = = = = = = = = = = = =

Sebuah kemungkinan yang terjadi di dalam keluarga yang broken home. Semoga tidak terjadi di dalam kehidupan teman-teman.

Iklan

6 thoughts on “Ayah, Aku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s