Curcol: Rasanya Itu Seperti Apa Sih?

Curcol mode on… Awas, yang nulis posting ini sedang kesurupan…

Teman-teman, saya sedang seneng sama seseorang… biasanya apa yang teman-teman lakukan?

LOVE

LOVE


Halah, itu curhatan basi! Saya memang bukan orang yang bisa secara gamblang dan berterus terang kalau berbicara. Tapi saya adalah tipe orang yang lebih banyak ngomong kalau melalui tulisan. Bisa jadi saya malu-malu kalau diajak bicara, tapi saya akan jadi tidak tahu malau kalau diajak ngomong lewat tulisan.

Kesimpulannya… kalimat di atas itu hanya akan muncul dari mulut saya kalau saya sedang curhat ke teman-teman dengan cara ngobrol langsung. Lha, sekarang kita ada di dunia blog. Dunia tulisan. Saya bisa lebih terbuka. Meskipun saya masih berusaha untuk menggunakan segala cara untuk menutupi hal-hal yang tak perlu dipublikasikan, saya akan tetap gamblang…

Tema curhat colongan saya kali ini:

Saya nggak tahu rasanya jatuh cinta itu kayak gimana…

Memalukan? Terserah teman-teman mau bilang apa. Yang jelas, perasaan saya lebih sakit saat ini. Karena sesuatu yang nggak kelihatan, karena sesuatu yang selalu menyelinap di sela-sela kesibukan saya. Saya nggak peduli kata orang yang menganggap saya cemen karena nggak berani ngomong langsung ke si dia….

TEMBAK LANGSUNG! TANCAP GAS! TRABAS AJA! BANCI LOH! CEMEN LOH! NGGAK PERCAYA DIRI BANGET SIH!

Ter-se-rah!

Yang jelas saya punya alasan mengapa saya melakukan hal ini. Melakukan hal bodoh yang justru menyiksa batin saya sendiri. Biar untuk saat ini saya diam… karena saya punya alasan… alasan tentang sesuatu yang menurut saya perlu banyak pertimbangan… alasan tentang sesuatu yang menurut saya cukup realistis dan bijak untuk tidak dilakukan dengan tergesa-gesa dan prematur.

Stop! Pelan-pelan! Kamu bikin teman-teman blog bingung baca postingan kamu, Tus! Sana… minum dulu!

Ups, maaf! Ok, saya akan mulai menstrukturisasi tulisan ini agar lebih memudahkan teman-teman untuk menerima berbagai deskripsi saya…

Sejak kapan kamu merasakan ‘rasa’ itu, Tus?

Mmm… sejak libur puasa kemarin… atau mungkin sejak libur semester kemarin. Kalau boleh saya cerita sedikit masa lalu, saya ini adalah salah satu orang yang sangat tidak berpikiran untuk pacaran dulu. Saya adalah salah satu orang yang berprinsip “lebih baik dicintai daripada mencintai” atau “semua jodoh itu ada di tangan Tuhan, akan tiba saatnya nanti”. Akibatnya apa? Tiap pulang ke rumah, tiap ada tetangga yang main ke rumah, yang ditanya mesti masalah pacar!!! Bukan hanya tetangga… ibu, mbak, teman-teman yang nggak terlalu mengerti saya… semua pasti coba cari-cari celah untuk mengungkit hal itu.

Bukannya tidak peduli akan hal itu… bukannya tidak mau berusaha [padahal kenyataannya memang tidak pernah berusaha]… tapi saya punya suatu alasan yang menguatkan hati saya kalau sesuatu yang berurusan dengan hati itu adalah sesuatu yang hati-hati, sakral, suci, bukan buat main-main.

Namun akhirnya setiap menemui waktu-waktu yang sepi, saat tidak banyak kegiatan… ada sesuatu yang berbisik di dalam hati saya, “Sebenarnya yang kamu sukai itu siapa sih?”

Ah, iya! Betul! Saya pernah menanyakan hal itu sama kamu. Lalu, sekarang kamu mulai kepikiran sama ‘rasa’ itu?

Tidak bisa berbohong lagi. Saya mulai berusaha mencari jawaban hal itu. Karena saya adalah seorang yang pendiam. Seorang plegmatis. Seorang yang tenang dan bisa menyimpan emosi dan perasaan. Saya adalah seorang yang jenius menyamarkan kepanikan dan kekalutan. Saking jeniusnya… saya sampai pernah kecolongan. Saya juga terlalu pemikir. Kadang saya terlalu pandai dalam mencerna kata-kata dan bahasa tubuh sehingga saya tahu sejak awal maksud mereka adalah ‘tidak’. Saya pun mengurungkan niat… untuk kesekian kalinya.

Whats? Pernah kecolongan? Mengurungkan niat? Pernah suka kamu sama seseorang sebelum ini?

Tepat sekali, Bro…!

Bisa cerita?

Kapan-kapan aja! Sekarang saya sudah pasang tulisan “OK! Mereka juga sudah anggap kamu seorang yang biasa. Tertutup pintu hatimu, Saudaraku!” kalau saya lihat mereka. Alhasil, sekarang saya juga merasa kalau mereka teman saja. Cukup berhasil!

Kembali ke topik, jadi sekarang kamu sudah menemukan siapa yang kamu sukai?

Yups, benar! Teman sendiri. Kami sahabatan…

Kok bisa begitu?

Bagi saya, dia orangnya asyik buat diajak ngobrol… [kalau dipikir-pikir lagi, hal itu berlaku sebelum saya memikirkan ‘rasa’ itu]… eh, saya memang selalu asyik kalau ngobrol sama teman. Tapi itu hanya berlaku kalau saya tidak menyimpan sesuatu darinya.

Memangnya ada sesuatu yang beda ya dari obrolan kalian?

Iya! Beda banget! Rasanya garing… krik krik krik…

Saya nggak tahu ini salah siapa. Saya bahkan sempet tanya sendiri, “Kok sekarang kayak gini sih?” Saya memang punya perasaan lebih ke dia, tapi itu juga artinya saya merasa kehilangan sesuatu dari obrolan kami. Sesuatu yang begitu lancar dan tanpa beban. Saya sempat berpikir kalau ini hanya karena saya saja yang lebih pendiam kalau lagi ngomong sama dia. Tapi kok rasanya dia juga lebih pendiam?

Nah, kalau saya mikir itu… rasanya mau gampar diri sendiri. Saya pikir ini kesempatan, tapi… tapi… saya rasa ini terlalu gegabah!

Gegabah apanya sih? Bagaimana kalau dia juga suka kamu, Tus? Mikir dong!

Saya juga pernah mikir seperti itu… tapi…

Tapi apa?

Ada suatu peristiwa yang membuat saya langsung jatuh… saya merasa ge-er… dan itu sangat menyebalkan, menyedihkan, dan menjadikan saya sebagai seorang yang sangat memalukan. Memang saya tidak terlihat memalukan di mata orang lain, karena saya tidak melakukan apa-apa. Tapi saya malu pada diri saya sendiri…

Sebentar… peristiwa apa memangnya?

Dia pernah bilang suka pada saya. Tapi beberapa hari kemudian, saya baru ingat kalau dia memang orangnya terbuka. Terbukti kalau dia juga mengatakan hal yang sama ke orang lain. Itu yang saya suka dari dia. Dia bilang suka kalau memang suka.

Jelas, saya merasa ge-er di saat saya memang merasakan sesuatu. Akhirnya setelah peristiwa itu, saya tanya pada diri saya sendiri, yang akhirnya menjadi judul posting ini, “Cinta itu… rasanya seperti apa sih?”. Ya, rasa itu bernama cinta. Tapi itu mungkin… Saya masih ragu karena saya tidak tahu seperti apa cinta itu. Saya masih takut, ini cuma perasaan kagum, suka yang biasa, atau benar-benar cinta.

Hmpf… [nahan ketawa]

Ter-se-rah! Saya juga curhat sama salah satu sahabat saya yang paling saya percayai. Saya tanya ke dia… dan dia menjawab, “Lha, kamu ngerasain apa lho?” [tanya balik mode on] Langsung deh saya mati gaya. Saya kan tanya karena saya nggak tahu jawabannya. Kalau harus mendeskripsikannya, kan saya bingung kalau mengungkapkannya secara lisan.

[masih nahan ketawa] Oke, sorry! … [tarik nafas, hembuskan] … Sekarang saya merasa penasaran sama maksudmu dengan kata ‘alasan’ tadi.

Oh, itu… Hal ini berhubungan dengan prinsip saya tentang yang namanya cinta dan mencintai seseorang. Seperti kata saya tadi, cinta itu bukan buat main-main, sakral, suci. Dengan kata lain, saya menganggap pacaran itu hanya untuk satu orang. Saya sangat anti-poligami. Saya benci lihat orang seenaknya mutus istrinya. Dengan kata lain, saya benci lihat artis Indonesia sekarang, walaupun nggak semua.

Itulah sebabnya saya sangat selektif. Orang bilang saya perfeksionis. Saya setuju, meskipun saya sadari saya tidak murni perfeksionis. Saya berpikir, kalau saya pacaran sama seseorang, saya harus bisa memberikan sesuatu ke orang tersebut. Sebagai seorang laki-laki, saya merasa harus menjadi orang yang bisa diandalkan. Tapi… apakah saya sudah menjadi seorang yang seperti itu?

Lha, menurutmu?

Saat ini, saya merasa takut. Saya banyak sekali kekurangan. Sejauh yang bisa saya pikirkan, kemampuan yang saya miliki yang sekiranya cukup berguna bagi dia hanyalah “Saya siap mendengarkan semua curhatannya! Saya siap membantunya!”

Tapi di samping itu, saya tidak bisa memberikan hadiah karena saya belum bekerja. Saya tidak bisa memboncengnya [antar-jemput] karena saya memang tidak cukup berani naik motor di jalan raya. Saya tidak bisa meneleponnya, memberikan perhatian lebih, karena saat ini saya memang bukan siapa-siapa. Saya belum mendeklarasikan pernyataan cinta itu. Kalau ditelusuri lagi, kenapa saya nggak segera ngomong? Jawabannya kembali ke hal tadi, karena saya tidak tahu perasaan apa yang sedang ada di diri saya ini. Dan saya takut kalau saya tidak cukup berguna bagi dia.

Bro, manusia memang tidak sempurna. Laki-laki dan perempuan itu ada untuk saling melengkapi.

Nah, itu yang menjadi pikiran saya. Dalam hal ini, saya merasa kalau saya sudah cukup keterlaluan menjadi orang yang tidak sempurna. Saya terlalu lemah jika dibandingkan sama laki-laki lainnya. Kalau memang kenyataannya dia lebih banyak membantu saya, ketika seharusnya saya yang harus lebih banyak membantu dia, aduh… saya merasa semakin tidak berguna menjadi laki-laki… akhirnya saya malu jadi diri saya sendiri.

Tapi ingat! Perlu digarisbawahi kalau saya malu menjadi diri saya hanya dalam perasaan hati seperti ini saja. Hal di luar itu, saya sangat bangga menjadi diri saya.

… keputusan kembali ke tanganmu, Bro …

Saya iri sama mbak kandung saya dan pacarnya. Saya iri sama teman blogger Asop yang bisa dengan begitu sederhananya saat jadian [enteng banget kayak ga ada beban]. Saya iri sama teman blogger Mbak Erwin yang sangat kompak sama Masnya sampai-sampai satu blog buat berdua.

Terus… setelah ini kamu mau apa?

Saya masih berpikir. Saya masih mengumpulkan mental. Saya masih mencari jawaban. Saya masih berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya masih berusaha menjadi seorang yang layak untuk dicintai.

Dan percakapan pun selesai. Penulis pergi dengan menangisi dirinya sendiri…

Sumber gambar: LOVE

Iklan

32 thoughts on “Curcol: Rasanya Itu Seperti Apa Sih?

  1. mas bro.. gue ini dah kepala 3.. masih sendiri.. i luv it! Im single and proud! kenapa harus bersusah hati bro untuk masalah ini? entar jg dapet kok. dijamin ama si mbah red ini *bakar menyan* 😆

  2. Mas Wahyu, apa Mas yakin si dia ini gak tahu blog ini? 😀

    Hmmm.. jadi sekarang apa Mas Wahyu udah merasakan seperti apa itu jatuh cinta? Indah kan? 🙂
    Memang jatuh cinta itu ga bisa disangka-sangka dan ditebak-tebak kapan datangnya. Bisa jadi, dari hubungan pertemanan timbul rasa suka. Bisa jadi juga, dari yang awalnya benci, musuhan, malah jadi cinta. Gak jarang, karena kata orang batas antara benci dan cinta itu tipis. :mrgreen:
    *lho kok malah ngarol ngidul gini?*

    Jadi, nikmati aja perasaan ini sekarang, Mas. ^__^ Jatuh cinta itu nikmat. Mau ngapa-ngapain, terbayang si dia. Rasanya dunia hampa kalo ga ada si dia. 😳

    Nah, kalo kata saya sih, jangan dipikirin apakah ‘dia mau menerima saya apa nggak’. Perihal saya, itupun kebetulan karena “mantan teman” saya itu (:lol:) orangnya ceria, kebalikan dengan saya yang pendiam dan susah memulai percakapan dg orang baru. Karena keceriaan “mantan teman” saya itulah, keceriaannya menular ke saya, maka jadilah saya berani “ngomong begitu” ke dia. 😳 😳 *tersipu*

    • Nah, jadi, si dia ini orangnya seperti apa? 🙂
      Mari belajar jujur ke diri sendiri, apakah “saya benar suka padanya”?

      Jangan berpikir terlalu jauh dulu seperti “apa saya bisa membahagiakan dia?” atau “apa saya pantas bersama dia?”, apalagi “apa saya mampu nraktir dia?” 😡 LUPAKAN!!
      Masa pacaran bukan untuk memikirkan hal itu. Itu yang harus diingat. Dinikmati aja, asal jangan kelewatan. 👿 Toh masih pacaran, belum ke tahap yang lebih serius, jadi hindari berpikir pesimis yang tidak-tidak. 🙂

    • Dia pernah comment ke blog ini, tapi memang nggak seaktif dulu. Kalau misalnya dia tahu setelah baca posting ini… saya memang mengharap seperti itu… [uwww… bener kata Bang Red tadi… courage! courage!]
      Mungkin ini karena saya tipe orang yang selalu prepare sebelum melakukan sesuatu, jadi sampai ngglambyar kemana2 sebelum action… ya sepertinya saya perlu belajar banyak masalah hidup.
      Wew, makasih banyak berbagi pengalamannya Asop… saya memang perlu itu… belajar dari pengalaman. Anggap aja saya ini masih freshgraduate yang belum punya pengalaman… jadi harus nyari pengalaman dulu… 😛

      • Wah, saya juga belom bisa dibilang ahli… :mrgreen: Biasanya kalo cowok lagi kasmaran, minta tipsnya pasti ke cewek. 🙂

        Hmmm.. kalo gitu, kenapa Mas Wahyu gak nyoba bilang ke dia sekarang, “Eh, aku ada posting-an baru nih sekarang di blog-ku, coba kamu baca deh.” 😳
        Kalo mungkin, tambahin “… ada posting-an tentang kamu di sana.”
        Kira2 gimana, Mas? 😳
        Kalo dia baca posting-an ini, itu sesuai dengan harapan Mas, kan? 🙂

    • Oh iya… tentang dia…
      Kalo dibandingkan sama saya… dia itu orangnya lebih terbuka, bercanda juga bisa, tapi kadar bercandanya lebih parah saya… soalnya saya ini kalo udah masuk guyonan sama temen2 itu ga puas kalo sampe ga ada yang terpingkal2… [tapi kalo dipikir2 sekarang penyakit saya itu sudah berangsur2 berkurang]

      • Hmmm… kalian berdua sama2 terbuka, dan sama2 suka bercanda. Dia suka humor kan ya? Jadi, harusnya Mas Wahyu tahu cara menyenangkan hati dia, ya dengan cara ngebuat dia tertawa. Asal becandanya harus lihat situasi juga, kadang cewek ada waktu ga pengen dibecandain. 🙂

  3. Oh ya, satu hal lagi yang penting.

    ….apa Mas udah ngelihat tanda-tanda dari dia bahwa dia juga suka Mas Wahyu?
    Bisa dilihat dari gerak-geriknya, dan bisa juga dari tanggapan dia terhadap ajakan Mas Wahyu. Misal, Mas Wahyu ngajak dia ngapain ato ke mana, dia mau ikut, dia ngerasa enjoy. Ato, semisal dia udah berjam-jam bareng Mas Wahyu, gak ada sama sekali tanda kebosanan. Artinya, dia nyaman ama Mas Wahyu. Kalo udah gitu, biasanya bakalan berhasil. :mrgreen:

    Tapi, harus dibedakan dengan cewek yang suka memanfaatkan cowok. Cewek kayak gini ada lho, yang pura2 deket ama cowok tapi sebenernya cuma pengen memanfaatkan si cowok. Bukan dimanfaatkan dari segi duit, tapi dari segi kebaikan hati sang cowok. Misal, karena si cowok suka ama si cewek, dia rela nganterin si cewek ke manapun. Minta nganterin pulang ke rumah, minta jemput, minta anter ke sini, ke situ. Si cowok seneng2 aja disuruh-suruh, karena emang dia rela karena suka. Ceweknya enak2 aja, seperti punya supir. 👿
    Ini pengalaman temen saya, yang gara2 itu dia disidang ama temen2 seangkatan. :mrgreen: Kasihan, tapi memang begitulah kehidupan. Wuahahaha…

  4. 😀
    Memang nggak salah. Sahabat blogger saya yang paling dekat hingga saat ini adalah kalian bertiga. Terima kasih banyak atas semuanya.

    Hidup ini memang rumit. Banyak rahasia. Manusia hanya bisa berusaha, hingga akhirnya keputusan itu muncul dari tangan Tuhan. Atas dukungan dari kalian, saya merasa punya tambahan semangat untuk lebih berani. Saya jadi ingat, kalau saya tidak sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s