[Recommended] Mau Jadi Donatur?

Pada kesempatan kali ini saya cuma mau pasang Announcement saja. Siapa tahu teman-teman ada yang tergerak ingin ikut berkontribusi pada program ini bersama saya dan teman-teman saya di sini. Bagi teman-teman yang tertarik, bisa menghubungi saya untuk penjelasan lebih lanjut.

Putih Abu-Abu Scholarship (PAS)

Apa sih PAS itu?

Seperti namanya, beasiswa ini ditujukan untuk siswa-siswi yang tengah menempuh pendidikan di bangku SMA atau SMK. Mereka yang mendapatkan beasiswa ini adalah siswa-siswi yang memiliki prestasi, baik bidang akademis maupun non-akademis, tapi memiliki kesulitan dalam hal finansial.

Adapun latar belakang kemunculan beasiswa ini karena kami melihat begitu banyak celah yang bisa kita pakai untuk membantu kelangsungan pendidikan mereka. Tahukah teman-teman bahwa di Indonesia ini masih begitu banyak anak yang harap-harap cemas dengan pendidikan yang akan mereka tempuh? Kalau ada yang bilang sekarang sudah banyak beasiswa dan bantuan biaya yang diberikan untuk anak sekolah, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak mendapatkan beasiswa? Kita tahu kalau mau dapat beasiswa diperlukan proses seleksi. Nah, kalau yang tidak lolos itu memang benar membutuhkan biaya, apa kita bisa menutup mata?

Well, inilah landasan kami membentuk program beasiswa ini bagi mereka. Meskipun saat ini kami masih kecil, kami yakin kalau dengan bantuan teman-teman dan para donatur semua, kita bisa membantu lebih banyak anak Indonesia untuk terus bersekolah.

Siapa saja penerima PAS saat ini?

Program PAS ini sudah berjalan selama satu tahun. Hingga saat ini, kami masih memiliki 4 orang penerima beasiswa. Ingin mengenal mereka? Berikut sedikit biodata mereka:

1. Ana Syafitri Rizqiyah

Ana Syafitri R.

Ana Syafitri R.

Ana berasal dari keluarga kecil yang kurang mampu. Ana  tinggal di  rumah nenek bersama  Ibu, Adik dan Pamannya. Ayahnya  sehari-hari  bekerja  membanting  tulang  sebagi  penjual  es  campur  keliling  di  Kota  Surabaya.  Dengan penghasilan  yang  sangat minim  dan  tidak  tentu, Ayah Ana  harus menumpang  tidur  di  sebuah Mesjid  setiap malam. Ibunda Ana sehari-hari  juga harus bekerja membanting  tulang sebagai pembantu  rumah  tangga dengan penghasilan hanya  Rp.  40.000,-  per  minggu.  Walaupun  minimnya  penghasilan  orang  tua,  pendidikan  tetap  menjadi  prioritas walaupun  harus  terlilit  hutang.  Keadaan  serba  kekurangan  tidak  membuat  Ana  rendah  diri,  Ana  sangat  bangga terhadap orang tuanya yang selalu yakin untuk selalu bekerja keras dan berdoa agar menjadi lebih baik.

Selama di sekolah, Ana memiliki prestasi akademik yang bagus dan memiliki motivasi belajar yang sangat  tinggi. Ana juga  siswa  yang  aktif  dan  gemar  berolah  raga. Ana memiliki  keinginan  yang  tinggi  untuk membanggakan  orang  tua dengan menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas, ulet dan berprestasi.

Saat ini Ana sudah diterima di SMA Negeri 1 Sekaran. Ana membutuhkan bantuan biaya sekolah, seragam, serta buku dan perlengkapan sekolah.

2. Dewi Kusumawati

Dewi Kusumawati

Dewi Kusumawati

Dewi berasal dari keluarga kurang mampu di Kab. Pasuruan. Ayahnya yang hanya lulusan SMP bekerja sebagai Juru Kunci  (Penjaga  Makam)  Ki  Ageng  Penanggungan  –  Kejapanan  dengan  penghasilan  per  bulan  Rp.  200.000,-  dan Ibunya  hanya  sebagai  ibu  rumah  tangga. Untuk menambah  penghasilan,  ibunya  kadang  bekerja  sebagai  pengasuh dengan  penghasilan  tidak  tetap. Dengan  penghasilan  pas-pasan,  orang  tua Dewi  tetap memaksakan  diri  agar  anak-anaknya tetap bersekolah.

Karena prestasi yang baik, Dewi beberapa kali mendapatkan beasiswa di SMP dengan dibebaskan SPP per semester. Dewi memiliki keinginan yang kuat untuk lebih meningkatkan prestasinya agar bisa mengangkat kehidupan keluarganya dan menjadi manusia yang berguna.

Saat  ini Dewi  sudah  diterima  di SMK Yapenas Gempol. Dewi membutuhkan bantuan  biaya  sekolah,  seragam,  serta buku dan perlengkapan sekolah.

3. Gus Malik

Gus Malik

Gus Malik

Gus Malik adalah anak kedua dari dua bersaudara yang berasal dari keluarga petani miskin di suatu Dusun terpencil di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.  Ayah Gus Malik adalah seorang buruh tani yang menggarap ladang/sawah orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibu Gus Malik sudah meninggal dunia. Kakak Gus Malik (19 tahun) yang hanya tamatan SMP tidak punya pekerjaan tetap, hanya membantu ayah di ladang/sawah.

Semasa SMP, Gus Malik sangat aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, karena memang hanya kegiatan ini satu-satunya  kegiatan  ekstrakurikuler  di Sekolahnya. Menuju  ke  sekolah, Gus Malik  harus  bersepeda menggunakan sepeda tuanya menempuh jarak 8 kilometer.

Di waktu  luang, Gus Malik membantu orang  tua di  sawah. Selain  itu, Gus Malik  juga menyempatkan diri melakukan hobinya bermain sepak bola bersama teman-teman dan membaca Al Qur’an.

Gus Malik memiliki cita-cita yang besar untuk mencerahkan masa depannya dengan melanjutkan sekolah. Ia tidak ingin keterbatasan ekonomi menjadi penghalang keinginannya bersekolah dan harus putus sekolah seperti kakaknya.

Saat  ini Gus Malik  sudah  terdaftar  di SMK Negeri  1 Pogalan  Trenggalek  yang  berjarak  15 Kilometer  dari  rumahnya tinggal menumpang  di  rumah  salah  satu  gurunya. Gus Malik membutuhkan  biaya  sekolah,  seragam,  buku  tulis  dan perlengkapan sekolah lainnya.

4. Muhammad Jubaidin

M. Jubaidin

M. Jubaidin

Muhammad  Jubaidin  adalah  anak  pertama  dari  dua  bersaudara  yang  berasal  dari  keluarga  petani miskin  di  suatu Dusun  terpencil di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.   Ayah dan  Ibu Jubaidin harus bekerja keras di  ladang/sawah orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Semasa SMP, Jubaidin sangat aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, karena memang hanya kegiatan  ini satu-satunya  kegiatan  ekstrakurikuler  di  Sekolahnya.  Menuju  ke  sekolah,  Jubaidin  harus  bersepeda  menggunakan sepeda tuanya menempuh jarak 8 kilometer.

Di  waktu  luang,  Jubaidin  membantu  orang  tua  di  sawah.  Selain  itu,  Jubaidin  juga  menyempatkan  diri  melakukan hobinya bermain voli di sekolah dan membaca Al Qur’an.

Melanjutkan  SMA  untuk  Jubaidin  adalah  sebuah  mimpi  karena  kondisi  keluarga  yang  sangat  kekurangan.  Tanpa bantuan beasiswa, Jubaidin tidak akan bisa melanjutkan sekolah seperti yang selalu diimpikannya.

Saat ini Muhammad Jubaidin sudah mendaftar di SMK Islam 1 Durenan yang berjarak 10 Kilometer dari rumahnya dan tinggal menumpang di  rumah salah satu gurunya. Saat  ini Jubaidin membutuhkan biaya sekolah, seragam, buku  tulis dan perlengkapan sekolah lainnya.

Siapa saja yang sudah menjadi donatur?

Untuk saat ini yang telah berpartisipasi sebagai donatur sebagian besar adalah individu yang peduli dengan nasib mereka. Mereka ada yang berprofesi sebagai dosen, guru, pengusaha, bahkan mahasiswa sendiri.

Para donatur ini pun ada yang mendonasikan rutin setiap bulan, ada pula yang semampu mereka. Di sini kami sangat terbuka menerima donasi, kami sangat berterima kasih.

Apa keinginan PAS dan rencana ke depan?

Tentunya kami ingin agar penerima beasiswa kami ini dapat terus kami bantu hingga mereka lulus sekolah. Dan tentu saja, kami ingin menambah jumlah penerima beasiswa ini agar semakin banyak yang bisa terbantu. Namun, tanpa peran serta dari para donatur, apalah yang dapat kami lakukan?

Jika teman – teman ingin berdonasi, bagaimana caranya?

Tentunya kami serius melakukan hal ini. Agar teman-teman tidak merasa tertipu, teknis penyaluran donasi dan proposal resmi akan kami sampaikan langsung kepada teman-teman. Bisa menghubungi beberapa nomor di bawah ini:

Dhoni Hartanto – 0856 4865 9005
Misbach Hakiki – 0856 4610 6729
Lambertus Wahyu H. – 081 332 415 033

Atau juga dengan mengirimkan komentar di bawah ini. Saya akan menyampaikan info selengkapnya melalui email. Info selengkapnya juga bisa dilihat melalui websitenya di http://www.pas-indonesia.org

Bagaimana? Mau ikut berpartisipasi? Silahkan sampaikan kesanggupan teman-teman melalui komentar di bawah. Terima kasih saya sampaikan sebelumnya.
Muhammad  Jubaidin  adalah  anak  pertama  dari  dua  bersaudara  yang  berasal  dari  keluarga  petani miskin  di  suatu
Dusun  terpencil di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.   Ayah dan  Ibu Jubaidin harus bekerja keras di  ladang/sawah
orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Semasa SMP, Jubaidin sangat aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, karena memang hanya kegiatan  ini
satu-satunya  kegiatan  ekstrakurikuler  di  Sekolahnya.  Menuju  ke  sekolah,  Jubaidin  harus  bersepeda  menggunakan
sepeda tuanya menempuh jarak 8 kilometer.
Di  waktu  luang,  Jubaidin  membantu  orang  tua  di  sawah.  Selain  itu,  Jubaidin  juga  menyempatkan  diri  melakukan
hobinya bermain voli di sekolah dan membaca Al Qur’an.
Melanjutkan  SMA  untuk  Jubaidin  adalah  sebuah  mimpi  karena  kondisi  keluarga  yang  sangat  kekurangan.  Tanpa
bantuan beasiswa, Jubaidin tidak akan bisa melanjutkan sekolah seperti yang selalu diimpikannya.
Iklan

6 thoughts on “[Recommended] Mau Jadi Donatur?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s