Antara Aku dan Dia

Antara aku dan dia

Antara aku dan dia

Mungkin aku sudah berpikiran terlalu jauh. Mungkin aku sudah beranggapan terlalu muluk. Mungkin aku sudah terlalu bermimpi dan sibuk dengan urusan pribadi ini. Mungkin tidak hanya aku, tapi juga dia.

Mungkin aku terlalu akrab dengannya, sehingga aku bingung ada atmosfer apa yang tidak kelihatan dan berputar-putar pada beberapa meter yang memisahkan aku dengan dirinya. Dia tarik ulur, begitu juga aku. Kami terlalu asyik dengan keakraban kami hingga lupa sudah sepekat apa kadar keakraban kami.

Mmm… mungkin aku sudah berangan terlalu dalam. Mungkin aku sudah terlalu sibuk dengan pemikiranku sendiri, sehingga aku lupa bahwa masih ada kemungkinan kalau dia tidak terlalu memikirkan hal ini. Aku lupa kalau mungkin dia tidak terlalu mempedulikan hal ini.

Tapi aku peduli! Aku ingin dia juga peduli akan hal ini, sama sepertiku. Aku ingin dia juga sedang sibuk memutar kepalanya, berkecamuk suara hatinya, karena memikirkan hal ini, sama sepertiku. Aku ingin inginnya sama seperti inginku. Aku terlalu takut akan keberadaan kemungkinan yang sejenak terlupa dari pemikiranku itu.

Ingat dia, ingat tumpukan buku-buku yang berjajar rapi di rak toko buku beberapa hari yang lalu. Hahaha, toko buku… tempat nongkrong yang aneh untuk manusia seusia kami. Saat muda mudi lainnya memilih cafe atau taman atau bioskop untuk menghabiskan waktu, kami lebih merasa nyaman kalau ada di toko buku ini. Entah kenapa.

Dan kali ini hanya kami berdua, tidak ada teman lain. Hanya aku dan dia. Hanya dia dan aku. Ya, tumpukan buku-buku di sana menjadi saksi percakapan biasa yang tak biasa antara kami berdua. Percakapan singkat yang bagiku terasa dingin. Membuatku geram dan sendiri. Membuatku diam dan berpikir.

“Jadinya beli apaan nih?” tanyanya, setelah sekian lama aku berulang kali berpindah tempat untuk sekadar membaca sinopsis di belakang buku yang masih terbungkus rapi.

Mungkin dia sudah lelah karena aku terlalu sibuk memandangi cover buku, melihat bagian belakangnya, merenungi harga, dan mengira-ngira isi bukunya, lalu membanding-bandingkan dengan harganya.

“Pengennya sih semuanya,” jawabku sambil menunjuk semua deretan novel keluaran terbaru.

“Kalau gue mampu, gue beliin semua dah buat lo,” ujarnya yang serta merta membuatku nyaris terlonjak.

“Serius?”

“Ah, tapi lo bukan cewek gue sih. Ngapain juga?” tukasnya. Aku terhenyak dan tenggelam di dalam kalimat yang baru saja diucapkannya.

“Harus pacar ya?” Mungkin ekspresi wajahku langsung berubah saat itu. Satu hal yang sebelumnya tidak ada di dalam daftar hal yang harus kupikirkan, akhirnya berhasil menyelinap dan membuatku termenung.

Namun memang tak ada yang salah dari apa yang diutarakannya. Siapa aku? Aku tidak punya hak. Dia tidak punya kewajiban. Karena uang adalah perkara yang tidak sederhana, jadi untuk apa dia berkorban untuk aku yang bukan apa-apanya ini?

“Pegel nih! Gue nunggu di luar, ya?” ucapnya saat aku masih tenggelam di dalam batinku. Saat aku menutupi kegalauanku dengan kedok masih bingung mencari buku yang tepat untuk kubeli.

“Yaaah, tungguin di sini dong!”

Mungkin aku sudah keterlaluan karena membuatnya menunggu selama satu jam tanpa satu pun kepastian akan membeli buku. Maaf, tapi inilah aku. Membeli buku itu memerlukan banyak pertimbangan, karena sangat penting bagiku mendapatkan buku yang nilai rupiahnya setara dengan nilai kepuasan yang kudapatkan saat membaca nanti.

“Ogah, ah! Lo bukan cewek gue sih!”

Kalimat itu lagi!

“Itu lagi!”

“Kalau lo pacar gue, gue bakal temenin lo selama apapun sampai lo kelar,” jelasnya setelah melihat raut mukaku yang kelihatan sinis saat mendengar perkataannya.

Seketika aku kembali tenggelam di dalam perkataannya. Pacar? Sepenting itukah? Selama ini aku tak pernah memikirkannya karena memang tak ada suatu yang membuatku begitu tertarik karenanya. Aku terlalu menikmati hubungan persahabatanku dengannya hingga tak tahu lagi…

Perasaan apa ini? Ada sesuatu yang begitu sakit di dalam batinku. Ada yang menggigit, atau mencabik-cabik, atau menikam. Ada sesuatu yang membuat seluruh udara di dalam tubuhku mendingin dan membuatku menggigil. Sesuatu yang membuatku bingung dan bertanya-tanya. Mengapa aku di sini hanya bersamanya? Mengapa aku selalu dengannya? Mengapa dia?

“Harus sama pacar ya?”

Dia mengangguk.

“Kalau gitu, anggap aja gue pacar lo!” Tersentak aku oleh kalimat yang serta merta meloncat dari mulutku. Rasanya seperti menampar pipiku sendiri. Batinku mulai bersuara tak terkendali. Semenjak aku tenggelam dengan kalimat itu, batinku seperti memiliki kekuatan tambahan yang akan menguasai alam sadarku.

Dan dia geleng-geleng kepala. “Mana bisa?” katanya sambil tertawa.

Wajahku memanas. Aku gugup. Kupalingkan wajahku ke tumpukan novel yang sedari tadi kutimbang-timbang. Kuambil salah satu dan kubawa lari ke kasir. Sementara dia mengikuti langkah kikukku sambil tertawa-tawa sendiri.

Buku ini, ya buku ini. Buku yang sedang kupandangi ini adalah saksi bisu perubahan perasaanku padanya. Buku inilah yang menjadi saksi betapa lemahnya diriku dalam menghadapi permasalahan hati seperti ini. Buku ini pula yang menjadi saksi betapa aku begitu bingung dengan posisiku saat ini baginya, pun posisinya saat ini bagiku.

“Hei,” sapanya tiba-tiba sudah berada di depanku. Aku menahan nafas. “Sendirian aja,” katanya sambil duduk di sebelahku.

“Dosennya belum dateng kok,” jawabku berdasarkan fakta apa adanya. Ya, aku lebih suka menghabiskan waktuku di tempat duduk yang agak sepi ini kalau kelas belum dimulai.

“Gue pengen tahu, kenapa lo suka pakai rok? Alasannya apa?” tanyanya tiba-tiba. Dia sedang memandangi rok yang sedang kupakai hari ini. Sebuah rok panjang yang warnanya kukira cukup pantas untuk baju dan jilbab yang kukenakan.

“Tumben lo tanya beginian? Ada apa nih?”

“Ga ada alasan apa-apa, jadi kenapa?”

“Kenapa ya?” Aku memikirkan alasan yang tepat. “Karena gue lebih suka aja pakai rok, daripada pakai celana panjang. Menurut gue, cewek udah kodratnya make rok. Celana panjang biar cowok yang make,” jawabku.

“Lah terus, kenapa lo pernah pakai celana panjang?” tanyanya. Nadanya terdengar polos.

“Kalau koleksi rok gue banyak, bakal gue pakai setiap hari dah,” jawabku sambil sedikit tertawa.

Yah, beginilah hubungan kami saat ini. Mungkin memang seperti inilah hubungan yang ditakdirkan kepada kami. Mungkin Tuhan memiliki tujuan dan jalan yang lebih baik atas hubungan kami ini. Saat-saat dimana aku selalu merasa nyaman dengannya dan saat-saat dimana dia selalu merasa nyaman denganku. Mungkin beginilah yang terbaik bagi kami berdua. Mungkin beginilah seharusnya.

“Hmmm… gitu ya…?” katanya. “O ya, tadi lo tanya kan, kenapa gue tanya ini? Jawabnya, karena gue suka kalau lo pake rok.”

Dia pergi. Aku tertegun. Dan sebelum wajahnya berpaling, kulihat ada raut tak biasa di wajahnya. Raut yang mungkin kutunjukkan di toko buku waktu itu.

Beuh, sial banget saya bikin cerpen yang terinspirasi dari orang ini. Saya merasa iri, teman-teman! Inspirasi ini saya dapatkan dari postingnya yang ini dan ini.

Bagaimana menurut teman-teman dengan cerpen saya yang satu ini?

Sumber gambar: Antara aku dan dia

Iklan

22 thoughts on “Antara Aku dan Dia

  1. wah bagus bagus.. enak di baca cerpennya, membaca dari awal sampai akhir seperti merasakan perasaan si cewek itu, saya pikir semua orang pernah ya ngalamin kayak gitu hehe.. dan lagi saya juga suka banget tuh nongkrong di gramedia, bisa baca gratis karena setiap judul buku pasti ada yg udah kebuka segelnya 😳

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s