Malam Ini

Ini cerpen yang saya kirimkan untuk LMCR tahun lalu (LMCR 4). Walaupun tidak berhasil, tapi beginilah cerpen saya. Selamat membaca.

Membaca Surat

Membaca Surat

“Aku kecewa! Percuma persahabatan kita selama ini!”

Suaranya jelas lantang terdengar. Detik jam dinding yang sedari tadi merajai ketenangan di ruang tamu, tiba-tiba lenyap tenggelam oleh pekikan amarah yang datang tak diundang. Nada tinggi bercampur dengan suara serak-serak basahnya meyakinkanku akan seseorang yang bisa-bisanya membuat malam ini menjadi bangun dari kesunyiannya.

Tanpa beralih dari ruangan ini, tanpa beranjak dari sofa yang sudah cukup panas karena kududuki ini, aku hanya memalingkan kepalaku dari surat ke anak tangga yang menghubungkan ruang santai di sebelah dengan lantai dua yang berisi dua kamar. Bunyi tapak kaki yang sedikit berdecit saat bersinggungan dengan lantai keramik, terdengar semakin dekat dengan terburu-burunya. Tak hanya itu, tiap langkahnya kurasakan begitu kuat menghentak bumi. Sebuah visualisasi suasana hati yang tak begitu mendapatkan kepuasan akan kenyataan begitu jelas teraba pada atmosfer di sekitar anak tangga itu.

“Tunggu! Janganlah…!”

Kali ini suara yang lain muncul menanggapi suasana itu. Suaranya bergetar seperti seseorang yang sedang bertahan bergelantungan di atap gedung agar tidak jatuh. Dia seperti terancam akan sesuatu. Dan oleh karenanya, dia mengiba.

Tak lama kemudian kudengar dua langkah kaki yang bersahut-sahutan, tanpa tempo yang jelas dan membuat malam ini tidak memiliki ketenangan seperti malam-malam yang kulalui sebelumnya. Tidak habis pikir, apa yang membuat mereka berdua menciptakan fenomena tak biasa yang berhasil membuat konsentrasiku ini pecah. Suratku masih terbuka. Aku memegangnya, tapi aku mengacuhkannya.

Dua sosok pria yang tadi bersuara itu pun akhirnya memasuki area pandangku. Mereka turun dengan gusar. Yang depan ingin segera pergi, sementara yang belakang berusaha menahannya dan meminta untuk mempertimbangkan sesuatu. Yang depan berekspresi seperti ingin menyulut kekacauan, sedangkan yang belakang justru ingin meredamnya.

Jujur, aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan dan apa yang mereka inginkan. Masalah apa yang kiranya begitu mengganggu mereka sehingga harus diperdebatkan di malam-malam seperti ini. Bahkan, segawat apakah hal yang menjadi pembicaraan mereka saat ini sehingga mereka lupa bahwa ini sudah MALAM!

“Muak aku! Dan aku benar-benar tidak suka pada seorang PENGKHIANAT!”

Pria ini bernama Alvin. Dari segi fisik, siapa saja akan mengatakan kalau dia adalah pria yang ideal. Tinggi badannya sekitar 180 cm, membuatnya pantas masuk tim basket di kampus kami. Berat badannya pun proporsional jika berdasarkan tinggi badannya yang seperti itu. Dia termasuk orang yang disiplin terhadap segala hal, terlebih lagi dalam menjaga kesehatan. Gaya bicaranya tegas dan lebih mengutamakan logika dalam alur berpikirnya. Sejauh yang kuketahui tentang dirinya, di kampus dia termasuk orang yang cukup berkontribusi dalam hal organisasi. Wataknya yang keras dan kuat dalam berprinsip membuatnya menjadi orang yang begitu disegani, bahkan dihormati.

“Maaf, siapa yang kamu maksud pengkhianat itu?”

Sementara pria yang satu ini bernama Iman. Dibandingkan dengan pria yang pertama, bisa dibilang keadaan fisik seseorang yang satu ini tidak terlalu menarik perhatian. Tinggi badan standar dan beratnya… kurang. Dia pernah tertawa setelah menimbang berat badannya minggu lalu. Sambil tersipu dia mengatakan, “Empat tiga.” Tak ada yang istimewa jika menelusuri kepribadiannya melalui keadaan yang tampak mata. Namun siapa sangka kalau dia adalah seseorang yang memiliki hak cipta akan sebuah novel best seller tahun ini? Siapa sangka kalau novel itu adalah novel kelimanya yang mencapai predikat paling membanggakan sebagai seorang penulis? Siapa sangka kalau dia memiliki website dengan traffic paling ramai? Siapa sangka kalau dia memiliki banyak teman yang tersebar di berbagai penjuru dunia dalam hubungan bisnis? Dan apa aku perlu mengatakan berapa dolar yang masuk rekeningnya tiap hari?

Secara tidak sengaja aku menemukan kedua sosok ajaib ini pada hari pertamaku menjalani kehidupan kampus. Ketika itu kami sedang melakukan daftar ulang mahasiswa baru di Biro Administrasi Kemahasiswaan. Sambil menunggu giliran, kami pun duduk sambil mengisi formulir yang diberikan oleh pihak kampus. Kami bersebelahan dan kami belum saling mengenal.

Namun aku masih bisa mengingat seperti apakah keadaan kami waktu itu. Alvin dengan gaya anak kotanya, memakai kemeja bergaris warna cerah dan celana jeans. Rambutnya disisir rapi dan sedikit ada sisa pewarnaan di ujung rambut jambulnya. Aku melihat gambaran seorang anak SMA yang merasa bebas. Lepas dari orang tua, lepas dari rutinitas dan peraturan sekolah, terlebih lagi lepas dari SERAGAM SEKOLAH.

Sementara Iman, berbeda seratus delapan puluh derajat. Aku mengatakan keadaannya ‘berbeda seratus delapan puluh derajat’ tidak hanya berdasarkan sosok Alvin waktu itu, tapi juga terhadap sosok Iman yang saat ini. Dulu siapa saja yang melihatnya pasti ingin tertawa. Tapi demi ketenangan, mereka menahannya (termasuk aku). Suasana pedesaan benar-benar terasa begitu berada di dekat Iman. Dia memakai baju dan celana berbahan kain yang sama, warnanya pun coklat sama. Memakai sandal sebagai alas kaki dan bawaan yang penuh, bahkan sampai ada yang berada di luar tasnya seperti beberapa batang petai dan tas kecil khusus ayam (jelas aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, di dalamnya benar-benar ada ayam dan hidup). Aku sampai tidak bisa berkonsentrasi mengisi formulir waktu itu.

Namun kami tidak bisa begitu saja akrab jika tidak ada trigger yang membuat kami berinteraksi satu sama lain. Siapa saja pasti tahu harus seperti apa dan bagaimana jika berada di lingkungan kampus, terutama di tempat yang resmi seperti ini. Derap langkah seseorang bersepatu vantofel tiba-tiba mengusik ketenangan kami dan berhenti… tepat di depan Iman. Semua mata pun tertuju padanya. Inilah trigger itu. Satuan Keamanan Kampus (SKK) mendapati kostum Iman yang memang tak sepantasnya dikenakan di tempat seperti ini.

“Maaf! Dilarang memakai kaos dan sandal di sini,” ucap SKK itu dengan tegasnya. Tubuhnya yang tegap dan cara bicaranya yang tegas membuat Iman langsung menciut.

Iman hanya bisa menghentikan aktivitas menulisnya dan mengalihkan fokus pada apa yang ia kenakan saat itu. Mungkin pikirnya, aku ini kan cuma orang desa dan tidak tahu apa-apa. Seketika kecemasan muncul di wajahnya disertai keringat dingin yang menjadi bulir-bulir di dahinya.

“T-tapi, Pak… Saya baru sampai di kota ini dan langsung ke kampus ini. Lha, j-jadi belum sempat ganti baju dan… b-belum punya kos-kosan toh.”

Nah, logat medhok yang kental semakin meyakinkanku bahwa dia dari wilayah Jawa Tengah atau Jawa Timur, aku tak yakin. Dan sebagai seorang pendatang yang benar-benar baru pertama kali menginjakkan kaki di ibukota, pengalaman seperti ini pasti seperti sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Aku sendiri tidak bisa mengacuhkannya begitu saja, terlebih lagi aku bersebelahan dengannya. Sambil berlagak sebagai seorang pahlawan, aku pun menghadapi SKK itu, tapi masih di tempat dudukku. Ya, aku membantu Iman mendapatkan haknya untuk mendaftar di kampus ini.

“Maaf, Pak. Kalau dia ganti baju yang pantas sekarang, boleh kan?”

“Tentu saja!” jawab SKK itu mantap.

Sekarang aku ganti menatap Iman. Tentu dia mengerti maksud tatapanku. Hanya saja aku masih belum mengerti mengapa ia enggan mengobrak-abrik tasnya dan mencari baju yang sesuai di sini. Baju berkerah dan sepatu. Dengan ragu Iman bangkit dari kursinya dan berjongkok di depan tasnya yang masih tertutup rapat. Sejenak aku yakin kalau masalah sudah selesai. Tas bawaan Iman waktu itu tidak bisa dikatakan kecil. Aku yakin waktu itu isinya penuh akan kebutuhan sehari-hari Iman selama merantau di negeri orang ini, termasuk pakaian dan sepatu.

Namun aku benar-benar tertipu. Aku terperanjat tatkala Iman membuka risleting tasnya dan menunjukkan isinya padaku, tentunya sambil menyembunyikannnya dari mata SKK. Aku memelototinya, meminta penjelasan. Untuk apa dia jauh-jauh ke sini jika isinya hanya beberapa pakaian yang tidak ada bedanya dengan yang dikenakannya sekarang? Dan apa yang membuat tasnya terlihat penuh (dan sangat menipuku mentah-mentah) adalah panci dan sayur-mayur. Iman tak bisa membalas tatapan mataku dengan jawaban yang kuharapkan. Dia hanya menaikkan pundak.

“Ada apa?” tanya SKK saat kami berdua terdiam seribu bahasa.

Pandangan mataku pun berubah seolah mengatakan, “Maaf, aku angkat tangan.”

“Aku pinjamkan kamu baju dan sepatuku. Aku bawa banyak kok!” sebuah bantuan muncul dari suara yang membawakan sebuah pencerahan untuk Iman. Kami berdua menoleh ke arahnya. Ya, dia adalah Alvin. Semula aku kira dia adalah orang yang cuek dengan keadaan di sekitarnya. Namun ternyata aku memang terlalu mudah menilai seseorang dari penampilannya saja. Sejak saat itu aku berusaha untuk bersikap bijak dalam menilai seseorang.

Dengan kostumnya yang baru, ternyata Iman tidak terlalu kelihatan kalau berasal dari keluarga yang bergolongan ekonomi lemah. Dia tersenyum ke arahku dan Alvin, dan bersyukur sudah bertemu dengan kami saat itu. Seketika itu juga suasana pendaftaran ulang yang kaku di antara kami bertiga pun pecah, berganti dengan percakapan hangat dan menyenangkan.

“Sebentar ya,” ijinku saat ponsel tiba-tiba bergetar di saku celanaku. Percakapan kami tentang kota asal Iman pun terpaksa kutinggalkan. Saat itu yang aku tahu adalah Iman berasal dari Madiun, salah satu kota di Jawa Timur. “Ada apa, Mbak?”

Selagi Alvin dan Iman menghabiskan waktu, aku memfokuskan diri pada seseorang yang menghubungiku via telepon. Dia kakakku dan sedang membantuku mencari tempat kos. Seingatku, kakakku berencana berputar-putar ke seluruh wilayah sekitar kampus untuk mencari harga termurah bersama ‘sopir ojek’ pribadinya.

“Terus yang mana, Mbak?”

Yaaa kalau mau sih yang tiga ratus lima puluh ribu perbulan itu,” kakakku terdengar sedikit menyesal karena kos mahasiswa sekarang lebih mahal dan di luar dugaannya.

“Yang lain lah, Mbak,” jelas aku menolak. Kakakku pun mengerti. Ibu dan bapak sudah berpesan kepada kami untuk mencari tempat kos yang tidak lebih mahal dari dua ratus ribu perbulan. Selain itu, orang tua kami hanya menghendaki pembayaran perbulan atau persemester, tidak untuk pertahun. Ya, aku masih ingat akan hal itu. Maklum, kekuatan ekonomi keluarga kami pun pas-pasan.

Sebenarnya ada sih kontrakan yang murah. Seandainya dibagi orang tiga pun perbulannya kira-kira cuma dua ratus ribu. Tapi mana kamu punya teman di sini?

“Ada, Mbak! Ada!” tiba-tiba aku berteriak. Aku tidak sadar sudah melakukannya dan membuat semua yang ada di sekitar kami terdiam, termasuk Iman dan Alvin yang tadi sedang tertawa cekikikan. Sepertinya kakakku pun terkejut bukan kepalang. Mungkin sedikit menjauhkan speaker dari telinganya.

Namun tak lama kemudian dia mengakhiri teleponnya, “Kalau begitu biar Mbak yang ngomong ke bapak ibu. Moga-moga nanti bisa ambil kontrakan itu. OK!

Dan akhirnya, kontrakan ini sudah menjadi saksi persahabatan kami selama tiga tahun. Untuk ukuran bangunan di ibukota yang bertingkat dua dan berlantai keramik, sudah pasti kontrakan ini sangat murah. Bahkan oleh pemilik kontrakan itu, kami bisa terus bertahan hingga tiga tahun ini. Meskipun kami tahu kalau biaya sewa harus dinaikkan tiap tahunnya, kami tetap berdiam di bawah atapnya. Lingkungan di sekitar kontrakan ini cukup baik dan tenang. Meskipun sedikit pinggiran, tapi dengan adanya kendaraan berupa motor 4 tak yang siap membawa kami kemana saja, tak ada yang perlu kami khawatirkan.

Hmm, saksi persahabatan kami selama tiga tahun… Lamunanku buyar tatkala Alvin dan Iman mulai mengarahkan pandangannya ke arahku. Apa lagi mau mereka sekarang? Sorot mata yang muncul dari keduanya jelas menyiratkan harapan kepadaku yang sedang tak tenggelam dalam konflik. Aku sebagai seorang yang netral. Aku sebagai seorang yang bisa dimintai pendapat tanpa memihak. Aku sebagai seorang yang selalu dituakan dan dianggap mampu memecahkan permasalahan yang melanda hati mereka.

Akhirnya aku harus rela melipat surat yang tadi sempat mencuri perhatianku. Alvin dan Iman melangkah mantap dan duduk di ruangan ini tanpa banyak berucap. Agaknya keduanya sudah cukup lelah menghabiskan waktu yang tengah mengantuk, semengantuk mataku.

Sempat kurenungi beberapa saat yang lalu, sesungguhnya Alvin dan Iman, kedua sahabatku ini adalah dua sosok yang mirip namun terbungkus dalam pribadi yang berbeda. Secara kasat mata keduanya sangat bertolak belakang, langit dan bumi, air dan api, pagi dan malam. Akan tetapi, keduanya jelas memiliki satu hal yang sama yang mungkin belum pernah mereka sadari hingga saat ini. Keduanya memiliki pendirian yang kuat yang tak seorang pun mampu menggoyahkannya. Dan karena suasana hatiku sedang tidak cukup baik, aku akan menyebut hal itu sebagai ‘keras kepala’.

Ini adalah untuk yang kesekian kalinya Alvin dan Iman menghadapku. Inilah yang selalu dilakukan ketika keduanya sudah menyerah pada masalah yang mereka buat sendiri. Pernah mereka mengadukan kepadaku perselisihan mereka dalam hal pemikiran orang desa dan kota. Iman merasa tersinggung ketika Alvin memukulnya dengan pernyataan orang desa terlalu tradisional dan tidak melihat perkembangan jaman. Sementara Iman menjegal Alvin dengan pendapat bahwa orang kota terlalu cuek dengan keadaan di sekelilingnya.

“Itu tidak benar,” kataku. Sebenarnya aku enggan ikut campur tentang hal saling membandingkan ini. Pikirku, apa tujuan sebenarnya melakukan hal yang justru bisa membuat perselisihan di antara mereka berdua. Aku sedikit perlu berhati-hati ketika semua pendapatku ini berkaitan dengan masing-masing pribadi mereka.

Mungkin masalah ini tersulut oleh sedikit salah kata di antara mereka berdua. Dan rupanya begitulah kenyataannya. Aku cukup meyakinkan keduanya agar lebih terbuka dan mau introspeksi diri. Aku cukup mengatakan bahwa siapa saja bisa salah, termasuk aku sendiri. Dan masalah pun selesai untuk saat itu.

“Aku masih belum mengerti dengan kelakuan kalian berdua,” ucapku cukup lantang akhirnya, setelah Alvin maupun Iman berdiam-diaman menghabiskan waktu dan membuatku salah tingkah. Emosiku meluap. Pikiranku sedang kacau, tidak tenang seperti biasa. Aku sadar, sesungguhnya akulah yang paling berbeda di antara kami bertiga. Dibandingkan Alvin dan Iman yang sangat mudah menyampaikan suka dan tidak, dibandingkan mereka yang sangat terbuka dalam hal penyampaian perasaan, aku lebih memilih untuk memendamnya sebelum mendapatkan momen yang tepat untuk mengungkapkan. Dan sepertinya pertengkaran malam ini menjadi momen tepat untuk kekesalanku.

Alvin menyandarkan punggungnya sambil berlipat siku. Pandangannya mengarah ke atas meja. Sementara Iman tampak cemberut sambil bergantian memandangi Alvin dan aku. Mungkin perasaanku sedang tidak sesuai untuk menengahi mereka berdua kali ini.

“Aku mau minta maaf,” kata Iman lirih.

“Aku mau keluar dari kontrakan ini,” serta merta Alvin berdiri dan meninggalkan kami berdua.

“Alvin!” aku dan Iman nyaris bersamaan menyahutinya.

Ya, Tuhan! Mengapa perasaanku begitu tidak nyaman kali ini? Belum-belum bulu kudukku berdiri. Aku belum mengetahui masalah apa yang membuat keduanya seperti ini. Berbeda dari yang sudah-sudah, sepertinya kali ini lebih parah dan mengancam persahabatan. Aku merasa permasalahan kali ini harus ditanggapi dengan menggunakan kepala dan hati yang lebih dingin. Mengapa harus muncul permasalahan saat aku sedang tidak seperti biasanya?

Alvin kembali ke kamarnya tanpa banyak kata. Hanya ada debaman pintu yang cukup keras dan mengawali kesunyian di rumah ini kembali. Iman semakin beringsut di tempat duduknya. Dia bersikap seperti sudah melakukan kesalahan besar.

Aku sedang tidak bisa berpikir. Aku butuh penjelasan dari Iman yang seolah mengetahui seluk beluk permasalahan kali ini. Sekarang ganti aku yang menyandarkan punggung dan berlipat siku. Kunantikan kata-kata apa yang akan diutarakannya kepadaku. Kenyataan apa yang akan diakuinya untuk menyibak kabut yang menyelimuti malam ini.

“Seperti kataku tadi, aku mau minta maaf,” ucap Iman akhirnya.

Tunggu dulu! Jadi masalah kali ini tidak hanya antara Iman dan Alvin? Untuk apa dia minta maaf padaku?

“Aku masih belum mengerti, Iman. Mengapa Alvin bisa semarah itu? Bukankah biasanya dia lebih banyak mengeluarkan uneg-unegnya untuk mengungkapkan kekesalan?”

Aku pun teringat akan kejadian setahun yang lalu ketika Alvin menyita satu jam berhargaku untuk mengadu akan kekesalannya pada dosen pengajarnya. Yang pilih kasih lah, yang tidak profesional lah, yang berpikiran sempit lah, hingga ungkapan-ungkapan lain yang tak cukup nyaman untuk didengarkan. Dengan semua yang dilakukannya itu, Alvin bisa merasa lebih ringan karena telah menumpahkan semua emosinya.

“Aku merasa berdosa. Aku keceplosan. Aku…”

“Keceplosan?!” sontak kuteriakkan kata itu begitu kusadari ke arah mana pembicaraan Iman ini. Iman langsung terdiam begitu aku berteriak. Dia melihat ekspresi wajahku yang campur aduk antara terkejut, kecewa, dan bingung. Akhirnya sampai juga posisiku menjadi seorang yang bersalah kali ini. Ya, titik permasalahan ini bukan pada Alvin dan Iman, melainkan aku sendiri.

“Maafkan aku!” Iman tampak sangat menyesal. Aku hanya bisa diam dan berusaha berpikir apa yang harus kulakukan selanjutnya. Mataku berpaling ke surat terlipat yang kuletakkan tepat di hadapanku. Rasanya aku benar-benar jatuh kali ini.

“Kamu tidur saja, Man. Sudah malam. Besok kamu kuliah pagi, kan?” kataku, masih dengan mata yang tak lepas dari surat terlipat itu.

“Sungguh, maafkan aku!” katanya. Aku tak menyahut. Iman pun meninggalkanku sendiri dengan enggan. Mungkin aku terlihat seperti seseorang yang kalah, seseorang yang jatuh. Sangat jatuh!

Tubuhku terasa makin lemas. Untuk beberapa saat, aku menghabiskan kediaman dalam lamunan kosong. Entah berapa lama aku mematung dengan posisi seperti ini. Seketika sekujur tubuhku mati rasa. Yang kurasakan hanya rasa sakit yang jauh dan dalam. Aku ingin menangis. Namun agaknya aku lupa caranya menangis gara-gara terbongkarnya semua rahasia yang selama ini kupendam dengan rapi.

Sambil membawa surat terlipat itu, aku bangkit dan melangkah perlahan ke lantai dua, tempat dimana kamar Alvin dan Iman bersebelahan. Kamarku sendiri berada di bawah, menjauhi keakraban yang terjalin di antara mereka berdua.

“Maaf merepotkanmu. Kami jadi ikut menumpang di sini,” ucap Alvin penuh dengan semangat. Saat itu kami baru saja memasuki rumah ini dan berniat untuk bermalam kali pertama. Kakakku dan pacarnya membantu proses pindahan kami bertiga ke rumah tempat kami tumbuh untuk beberapa tahun ke depan.

Iman berputar-putar dengan mata berbinar. Mungkin ini terasa seperti mimpi baginya. Aku tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang Iman jalani dulu.

Matur suwun sanget! Simbok pasti senang,” ucap Iman sambil berlari ke lantai dua. “Aku tidur di sini ya!” Iman menemukan kamarnya. Alvin pun mengikuti langkah Iman dan mengambil kamar di sebelahnya.

“OK. Kalau begitu aku ambil kamar yang bawah ya!” seruku.

Akhirnya sampai juga aku di depan pintu kamar Alvin. Di sana terpasang poster bergambar Presiden pertama Indonesia, seorang yang dikagumi Alvin. Lampu tidak menyala di dalam. Mungkin Alvin sedang berusaha untuk tidur dan melupakan sakit hatinya.

“Alvin, aku tahu kamu marah. Yang seharusnya minta maaf bukan Iman, tapi aku,” aku menarik nafas sebelum melanjutkan permohonan maafku. Tak kudengar suara apa pun dari dalam. “Maaf kalau ternyata orang yang selalu kau curigai itu adalah aku. Mungkin aku sudah lancang menyayangi apa yang sudah menjadi milikmu. Tapi tenang saja…” Aku meremas surat terlipat di tanganku. “Aku tidak akan mengganggumu lagi. Kau tidak perlu pergi dari rumah ini karena… akulah yang harus pergi dari sini.”

Tidak ada jawaban dari dalam. Mungkin Alvin memang sudah tidur, meskipun aku berharap dia masih mendengarkan pengakuanku. Aku berharap dia mengijinkanku masuk, meskipun rasanya hal itu mustahil.

Sambil menahan rasa sakit ini, aku mengeluarkan ponsel dan menekan beberapa tombol sebelum menghubungi seseorang yang pasti sangat mengharapkan kabar dariku.

“Halo, Budhe. Maaf malam teleponnya,” kataku.

Bagaimana suratnya? Sudah sampai?

“Sudah, Budhe. Tapi…” Bibirku bergetar. Seketika mataku penuh dengan air yang entah muncul dari mana. “Apa benar semuanya habis, Budhe? Budhe yakin bapak ibu sama mbak… juga di situ?”

Makanya Budhe kirim surat. Budhe kan juga nggak bisa cerita kalau…” rasanya Budhe juga menangis di sana.

“Ya, sudah. Budhe, besok saya langsung ke sana. Hari ini saya baru dapat pinjaman uang untuk pulang. Tapi saya juga tidak bisa lama-lama soalnya harus mengurus surat perguruan tinggi dulu.”

Apa harus berhenti kuliah?

“Lalu uangnya dari mana, Budhe?” hatiku semakin sakit.

Maaf, Budhe nggak bisa bantu banyak.

“Ini salah dari dulunya, Budhe. Harusnya saya bisa lebih mandiri dan tidak menggantungkan diri pada bapak.”

Budhe tak bisa menyahuti lagi. Aku hanya mendengar beberapa isakan di sana. Tanganku semakin kuat meremas surat itu. Aku juga tak bisa berkata apa-apa lagi.

* * *

Sebuah kebakaran menghabiskan satu kampung di pinggiran kota. Kampung yang terdiri dari 5 RW dan 14 RT itu ludes dilalap si jago merah mulai sekitar pukul 23.15 WIB dan baru bisa dipadamkan oleh tim pemadam kebakaran pada pukul 02.00 WIB. Diperkirakan kebakaran disebabkan oleh arus pendek listrik salah satu rumah warga. Kebakaran membesar karena angin dan adanya ledakan susulan dari pusat tabung elpiji 3 kg yang juga terbakar. Kebakaran tersebut memakan korban jiwa sebanyak 23 orang, puluhan lainnya korban luka, dan diperkirakan kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Bagaimana menurut teman-teman akan cerpen saya ini?

 

Sumber gambar: Membaca Surat

Iklan

14 thoughts on “Malam Ini

  1. Hmmm great… 😆
    Moral of the story yang saya tangkap dari cerita di atas adalah “Dont Judge A Book By Its Cover”…
    Bener gak ya?hehehe… 🙂
    Bro, ketidakberhasilan sekarang pasti akan dibayar dengan kesuksesan yang besar di masa depan jika terus berusaha, berdoa, dan berpikir positif 🙂
    Just do the process, hehehe :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s