Titik Panas Saat Mudik dengan Kereta Ekonomi

KA Sri Tanjung

KA Sri Tanjung

Yuhu! Saya sempat-sempatkan nulis nih. Saat ini saya sedang ada di rumah kakek di Jember. Cuaca di sini masih seperti biasanya, dingin dan tampak mendung. Tidak panas menyengat seperti di Surabaya. Ya, Jember ini adalah kota kelahiran ibu dan mbak. Setiap tahun kalau lebaran kami selalu berusaha untuk berkumpul di sini. Baru setelah itu kami merayakan di Mojokerto, yang tak lain adalah tempat kelahiran saya dan bapak. OK, inilah keluarga saya yang bahagia, Mojokerto – Jember. Namun kali ini saya ingin menceritakan tentang perjalanan saya kemarin bersama ibu dan mbak, sementara bapak menyusul nanti karena masih harus dinas.

Perjalanan Mojokerto – Jember ini kami lalui dengan menggunakan kereta Sri Tanjung. Kami memilih kereta api karena ini adalah alat transportasi yang memang biasa kami gunakan untuk perjalanan jauh. Lagi pula, mengapa harus memenuhi jalanan dengan kendaraan pribadi? (lha wong kami ga punya mobil…hihihi). Kami membawa barang-barang seperlunya karena kami tahu selalu ada kemungkinan kalau keretanya akan penuh. Dan benar saja, kereta ini penuh walaupun tidak sepenuh yang ada di perkiraan kami.

Adapun waktu yang tertera di tiket kereta mengenai kedatangan kereta ekonomi Sri Tanjung ini adalah 12.50. Namun kedatangannya tertunda sehingga baru sampai stasiun Mojokerto pukul 13.50. Maklumlah, kalau masa-masa mudik memang seperti ini. Jadi tidak perlu menggerutu.

Sebelumnya, kami membayangkan kalau kereta sangat penuh bahkan sampai ada penumpang yang nekat duduk di atas kereta. Namun nyatanya kali ini tidak. Kami bisa masuk walaupun tidak langsung dapat tempat duduk. Perjalanan kereta, yang dimulai dari Jogjakarta dan berakhir di Banyuwangi ini, mungkin tadinya penuh lalu berangsur-angsur berkurang saat menuju Surabaya. Ya, kami baru bisa duduk pas banyak penumpang yang turun di stasiun Gubeng. Di situ kereta kembali penuh sesak dan kembali berangsur berkurang begitu mendekati tujuan terakhirnya. Kami pun sampai di stasiun pukul 20.30-an.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

OK! Saya tidak sedang ingin menjadi reporter perjalanan arus mudik karena sudah cukup banyak mbak dan mas yang melakukan hal itu, dan tentunya mereka lebih profesional. Saat ini saya sedang ingin menyoroti apa yang terjadi di dalam kereta ekonomi saat arus mudik. Bisa jadi teman-teman juga melihat hal ini. Bisa jadi teman-teman juga melihat yang lebih dari ini.

Keadaan yang panas di sini adalah ujian tersendiri bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa. Panas di sini bisa bermakna denotasi dan konotasi. Panas secara fisik maupun panas secara batin. Saya sendiri merasa sungkan kalau cemal-cemil di sini dan lagi keadaan yang berdesak-desakan membuat saya malas buat bergerak. Bawaannya pingin memejamkan mata dan tidur-tiduran aja sambil berdoa, “Ya Tuhan, keluarkan saya segera dari siksa dunia ini!”

Kita mulai cerita kita dari pintu kereta. Jalan sempit yang hanya bisa dilewati oleh dua orang kurus sekaligus ini menjadi titik panas pertama. Dinding kereta menjadi saksi bisu orang-orang yang sangat merindukan kampung halaman sekaligus kekesalan mereka akan perjalanan ini. Dua sisi, dua kepentingan. Satu sisi, orang yang berdiri di stasiun, ingin segera masuk kereta. Sisi lainnya, orang yang berdiri di kereta, ingin segera turun ke stasiun. Tepat sekali pikiran teman-teman. Aksi saling dorong terjadi di sini, di setiap stasiun pemberhentian, dan mengakibatkan keterlambatan yang terus terakumulasi. Berkali-kali diingatkan kepada mereka untuk mendahulukan penumpang yang akan keluar. Namun agaknya hal itu sulit. Kenapa? Karena mereka diliputi perasaan takut. Takut tidak dapat tempat duduk, takut berdesak-desakan, takut kecopetan, dan takut ketinggalan kereta. Biasanya tempat ini sudah dipenuhi oleh mereka yang tidak kebagian tempat duduk, mereka yang kegerahan di dalam, dan mereka yang pengen kencing. Nah, biasanya kan dekat toilet juga nih. Baunya minta ampun!

Cerita berikutnya ada di tempat duduk. Bisa dipastikan, tempat duduk adalah titik panas berikutnya. Di kereta yang saya naiki ini ada dua sisi tempat duduk, kanan dan kiri. Ada yang satu kursi untuk tiga orang, ada yang dua orang. Nah, mengingat penuhnya penumpang, situasi, dan jarak perjalanan yang jauh. Semua pasti kepingin dapat tempat duduk. Kursi tiga orang bisa jadi empat orang, yang dua orang bisa jadi tiga orang (kecuali kalo yang duduk punya pa***t besar… hihihi). Mereka yang berdiri pasti ingin mengisi ruang kosong di tempat duduk. Alasannya, biar nggak menghalangi orang yang mau lewat. Sementara mereka yang sudah duduk pasti ingin tetap di tempatnya. Alasannya, taat peraturan. Yang dua orang ya untuk dua orang, yang untuk tiga orang ya untuk tiga orang. Tapi kalau di masa mudik seperti ini, semuanya harus rela berbagi dong. Toh, semuanya sudah bayar tiket.

Sempat di singgung, cerita selanjutnya ya di jalan tengahnya, yang memisahkan sisi kanan dan kiri. Ini adalah titik panas ketiga. Sesungguhnya ini adalah jalan, tapi beralih fungsi ketika jumlah penumpang melebihi kapasitas kursi di dalam gerbong kereta. Jalan kecil ini pun dipenuhi mereka yang berdiri sambil berpegangan seadanya, dipenuhi lutut-lutut yang terjuntai, dan dipenuhi barang-barang yang tidak cukup ditaruh di tempatnya (di atas), bahkan jadi tempat orang yang duduk di atas barang itu tadi (yang bisa sampai tiduran di situ). Alhasil, fungsi utama agak terganggu. Orang yang ingin berjalan harus mengecilkan perut, jalan miring, bahkan melangkahi orang. Belum lagi kalau harus bawa barang yang tidak sedikit. Orang yang biasa berjualan dan pengamen pun sulit lewat (jangankan lewat, masuk saja sudah sulit).

Mana lagi ya? Oh ya, mungkin stasiun juga termasuk titik panas. Jadwal keberangkatan kereta yang sering terlambat pastinya akan membuat orang yang sudah lelah menunggu lama ini menggerutu. Tidak hanya dalam menit, keterlambatan bisa sampai ukuran jam lho. Keterlambatan bisa karena banyak hal. Bisa karena banyaknya penumpang yang ingin naik (seperti yang saya jelaskan sebelumnya), bisa karena kres dengan kereta lain sehingga harus menunggu, bisa karena masalah teknis lainnya baik di keretanya, stasiunnya, atau relnya. Tapi menurut saya, keterlambatan ini bisa berarti buruk dan baik. Buruk bagi orang yang menunggu lama, dan baik bagi orang yang datangnya mepet-mepet gitu.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Yang jelas, pengalaman mudik ini menjadi satu momen ujian tersendiri bagi kita semua. Untuk apa? Tentu saja untuk melatih kesabaran kita. Seperti yang kita tahu, untuk mencapai sesuatu hal yang membahagiakan (pulang ke kampung halaman) pasti ada ujiannya dulu dong. :mrgreen: Akhirnya saya ingin menyampaikan selamat mudik kepada semuanya yang mudik dan hati-hati di jalan.

Bagaimana dengan pengalaman mudik teman-teman?

Sumber gambar: KA Sri Tanjung

Iklan

6 thoughts on “Titik Panas Saat Mudik dengan Kereta Ekonomi

  1. Hauduh-haduh, sabar ya pak ๐Ÿ˜‰
    Kenapa gak coba kereta ekonomi AC yang buat mudik yang baru diluncurkan itu, pastinya rasanya seperti ada “angin surga” :mrgreen:
    Walaupun terlambat yang penting selamat pak heheh ๐Ÿ˜› …

  2. Saya juga pernah mengalami keadaan seperti itu di kereta. Waktu perjalananku dari Jakarta ke Madiun. Orang yang mau keluar & masuk saling mendahului. Siapa cepat, dia dapat. itu mungkin semboyannya. Kalo malam, jalan ditengah itu buat tidur.
    yaahhh… itulah negri kita.. Indonesia Tercinta…
    masih jauh bila di bandingkan dengan negri lainnya, yang tidak disuruhpun, sdh terbiasa hidup tertib, tidak disuruhpun, sdh terbiasa untuk antri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s