Hubungan Indonesia Malaysia: Apa yang Bisa Kita Lakukan Untuk Memperbaikinya?

Indonesia Malaysia

Indonesia Malaysia

Uh… lumayan capek hari ini. Seharian ini saya di kampus. Begitu pulang, mandi, makan, dan langsung deh setrika baju yang sudah menumpuk. Hari ini semua acara merapikan dan membersihkan harus sudah selesai. Pasalnya, besok saya mau PULANG ke Mojokerto.

Dan dengan teman-teman membaca tulisan ini, itu artinya semua tugas saya hari ini sudah selesai. Makanya saya bisa nulis lagi. Tentang apa yang ingin saya tulis, saya ingin mengeluarkan pendapat saja mengenai hubungan yang sedang tidak sehat antara Indonesia dan Malaysia, yang akhir-akhir ini begitu santer pemberitaannya di televisi.

Mengingat masalah ini, pikiran saya kembali tertuju pada pidato Presidenย  RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono beberapa hari yang lalu. “Presiden menghimbau rakyat untuk bertindak rasional”. Walah, saya jadi ingat lagi tulisan saya yang kemarin.

Pada tulisan saya ini saya tidak akan mencari siapa yang salah. Di luar sana sudah begitu banyak pendapat yang sangat panas dan pedas. Ada yang bilang kalau Malaysia kurang ajar. Ada yang bilang kalau Indonesia kurang tegas. Waduh, saya sudah kapok sama yang panas dan pedas, soalnya lagi sariawan. :mrgreen: Dan akhirnya kembali ke judul tulisan ini, “Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki hubungan Indonesia – Malaysia?”

Daripada mencari siapa yang salah, lebih baik mencari solusinya. Akan tetapi, sejauh ini yang saya dengar dari para masyarakat yang cinta tanah air adalah PERANG. Nah sampai di sini, saya sudah kehabisan kata-kata. Karena menurut saya ini bukan solusi, tapi bibit dari masalah baru.

Saya secara pribadi sangat setuju dengan pidato presiden saat itu. Bukan berarti tidak tegas, tapi masih ada cara cerdas menyampaikan kekesalan daripada berdemo di jalan (menurut saya). Apalagi sekarang sedang puasa.

Kemarin saya membaca status YM salah satu sahabat. Dia pasang link ini http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5165166. Teman-teman bisa menanggapi hal yang menurut saya cerdas ini. Tidak main kekerasan, tapi main kecerdasan.

OK. Saya sesungguhnya juga lumayan geram dengan negara tetangga kita yang satu ini. Namun ada beberapa hal yang masih mengganjal pikiran saya. Apakah semua hal buruk itu dilakukan atas dasar ingin menyerang Indonesia? Apakah hal buruk itu dilakukan oleh perseorangan pribadi atau memang semuanya sepakat melakukannya? Apakah semua penduduk di negara itu berpikiran untuk merusak hubungan? Apakah mereka berencana untuk merusak negaranya sendiri dengan memutuskan hubungan kerjasama?

Soalnya batin saya menolak untuk men-generalisasi semua hal negatif itu ke semua penduduk yang ada di sana. Sesungguhnya saya ingin sekali mendengar pendapat dari masyarakat asli di sana. Apakah mereka memang berencana untuk memutus kerjasama yang selama ini terjalin dengan baik? Karena dengan tidak adanya kerjasama tersebut akan membuat kedua negara harus kembali kerepotan karena harus memenuhi kebutuhan secara mandiri. Nah, apalagi kalau kerjasama ini menyangkut masalah ekonomi.

Saya ingin sekali mengetahui pendapat masyarakat asli di Malaysia akan fenomena pertikaian yang selama ini terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Mereka tentu juga mempunyai pendapat yang harus didengarkan. Kalau mereka bilang ini salah negara mereka sendiri, berarti paling tidak mereka bisa membantu Indonesia untuk meyakinkan para pemerintah di negara mereka untuk segera mengakhiri pertikaian ini. Kalau mereka bilang ini salah negara kita, berarti paling tidak kita bisa tahu dari mereka hal apa yang kurang dari negara kita. Bisa jadi kita melakukan kesalahan yang tidak kita sadari. Siapa sih yang nggak mau damai? Saya yakin penduduk Malaysia juga sudah lelah dengar sindiran-sindiran dari Indonesia.

Saya dulu (tahun lalu) juga menuliskan masalah antara Indonesia-Malaysia, lebih tepatnya curahan hati saya akan kekesalan pada negara tersebut. Namun tahun ini saya berusaha untuk lebih obyektif melihat permasalahan ini. Karena kalau saya terlalu emosi menyikapi hal ini, apa bedanya saya dengan mereka yang demo anarkis?

OK. Hidup ini penuh dengan pilihan, begitu juga dengan bagaimana kita menyikapi hal ini. Kita butuh efek jangka pendek atau jangka panjang? Nah, ayo kita telusuri cara-cara perdamaian yang bisa diusahakan Indonesia ini (menurut saya).

Efek jangka pendek

Ada wacana kalau sebaiknya kita perang saja dengan Malaysia. Coba bayangkan kalau teman-teman adalah penduduk negara tetangga kita tersebut. Mau nggak teman-teman?

Akhirnya kita memaksa perang, jadinya kayak jaman dulu deh. Ngomong-ngomong, diterima nggak hal ini sama PBB? Jangan-jangan nanti negara yang berperang dapat penalti dari PBB. Dan apa pengaruhnya ke negara kita? Tentu akan sangat banyak tidak untungnya.

Selain itu, perang memberikan dua probabilitas, yaitu menang dan kalah. Terus, kalau kita menang dengan meluluhlantakkan negara tersebut, kita mau apa? Kok menurut saya malah balik kita yang menjajah negara lain (ini bisa jadi kesan buruk di mata negara lain lho). Nah, kalau kita yang kalah? Wah, malu dua kali dong!

Terus, selanjutnya apa yang terjadi kalau semua perang itu sudah selesai? Saya kok merasa kebencian semakin dalam di hati negara yang kalah nantinya. Saya yakin akan ada saat untuk serang balik, meskipun itu sangat lama.

Efek jangka panjang

Kalau kita mengharapkan efek ini, berarti kita mulai dari memperbaiki diri kita sendiri. Nah, menurut teman-teman apa yang membuat Malaysia sampai berani “main-main” sama kita? Menurut saya itu karena kita sebagai masyarakat Indonesia kurang mencintai negeri kita sendiri. Hal ini membuat mereka menemukan celah untuk mencobai kita.

Mungkin ada kebijakan baru dari pemerintah untuk meningkatkan nasionalisme masyarakat Indonesia. Kalau saya sih lebih baik melakukan hal-hal ini:

Saya nggak peduli mereka mau bilang apa di negara mereka tentang Indonesia. Saya tidak akan terfokus untuk memarahi mereka, tapi saya akan fokus mengumpulkan seluruh kemampuan untuk memperbaiki negeri ini. Saya percaya kalau pemerintah bisa mengatasi percekcokan saat ini. Lalu siapa yang akan mengatasi percekcokan ke depannya jika terus terjadi? Tentunya kita sendiri. Makanya kita perlu mempersiapkan amunisi-amunisi berupa kebanggaan menjadi Indonesia, prestasi-prestasi Indonesia, memunculkan kembali kesan nggak rugi ada di Indonesia (sehingga nggak perlu cari kerja di negara lain. kalau bisa negara lain yang cari kerja di sini).

Aduh.. pikiran saya terlalu berjubel nih… sampai bingung mau pakai kata-kata apa. Yang jelas, saya nggak setuju kalau kita perang.

Bagaimana menurut teman-teman akan masalah ini? Nah, kalau kebetulan teman-teman yang membaca ini dari Malaysia, kasih pendapat juga dong, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan pertikaian ini?

Sumber gambar: Indonesia Malaysia

Iklan

16 thoughts on “Hubungan Indonesia Malaysia: Apa yang Bisa Kita Lakukan Untuk Memperbaikinya?

  1. Wah, persenjataan kita punya apa? Rasanya kalo perang pasukan kita ga ada apa2nya dibandingin dengan Malaysia… ๐Ÿ˜ฆ Nasionalisme yang kuat tidak bisa menyelamatkan kita di peperangan yang berat sebelah. ๐Ÿ˜

  2. Setuju banget ni, belum tentu masyarakat malaysia benci dengan kita. Lagian ini hanya masalah salah paham aja, seperti yang disering di katakan, tapal batas Indonesia dan Malaysia itu sampai sekarang belum jelas. jadi sering timbul salah pengertin. Buat apa perang kalau masih bisa damai, lagian Kalau perang apakah Indonesia sangup kalau hanya dengan berbekal senjata Tempo Doeloe..
    bagus banget ni Artikel..

  3. kebetulan saya punya banyak sobat OL dari malaysia..dan kami semua tetap saling menghargai walopun situasi politik kedua negara lagi bentrok (*tapi ada kabar intelegen kalo ternyata Indonesia-Malaysia itu diadudomba sama negara kecil tetangga kita juga, parahnya: dalangnya si amrik sama si israel. well, moga2 aja gak betul ah. Alahua’alam)

    kalo pendapat saya soal masalah ini:
    karena saya muslim fulltime..so saya pake sandaran dalam berpendapat.ini dia:
    Al-Maโ€™idah (5) : 8
    ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ูƒููˆู†ููˆุงู’ ู‚ูŽูˆูŽู‘ุงู…ููŠู†ูŽ ู„ูู„ู‘ู‡ู ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุก ุจูุงู„ู’ู‚ูุณู’ุทู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฌู’ุฑูู…ูŽู†ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุดูŽู†ูŽุขู†ู ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู„ุงูŽู‘ ุชูŽุนู’ุฏูู„ููˆุงู’ ุงุนู’ุฏูู„ููˆุงู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุจู ู„ูู„ุชูŽู‘ู‚ู’ูˆูŽู‰ ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุงู’ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ

    โ€œDan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.โ€

    ketika terjadi konflik atas “perampokan” tari pendet, reog, dll., prinsip saya adalah:
    TIDAK SEMUA ORANG INDONESIA ITU BAIK, DAN TIDAK SEMUA ORANG MALAYSIA ITU BURUK.”
    prinsip ini pada suatu hari pernah membuat saya dan sahabat dekat saya, berdebat sengit…
    saya tidak setuju dengan aksi ‘sweeping’ warga negara malaysia yang ada di indonesia..gak ada gunanya dan gak dewasa dan gak fair dan gak tepat sasaran
    dia bilang saya tidak nasionalis,
    kujawab, agama adalah yang utama, sesama muslim adalah bersaudara.. reog, tari pendet, nasionalitas, dll gak akan ditanya di akhirat…tetapi tanggung jawab atas sesama muslim akan ditanyakan..

    • so objektive… itulah yang seharusnya dilakukan oleh kebanyakan orang… melihat dari kedua sisi karena sesungguhnya itulah yang membuat manusia bisa berpikir rasional dan tidak gegabah… saya sangat setuju dengan pendapat MUXLIMO… berhubung saya tidak tahu dari sisi orang malaysianya, saya biasanya menekankan ke orang Indonesianya sendiri… sudahkah mereka berpikir… sejauh mana mereka mencintai negerinya sendiri… jangan sampai mereka maki-maki negara lain sementara mereka sendiri nggak sinkron antara omongan dan perilaku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s