Suatu Hari di Tambal Ban Pinggir Jalan

Tambal Ban

Tambal Ban

Berbeda dengan kemarin, hari ini saya memang tidak terlalu kepikiran dengan “Apa yang harus kutulis hari ini?”. Seperti yang teman-teman ketahui, memasuki masa kuliah ini saya bertekad membuat tulisan minimal satu setiap harinya. Dan meskipun hari ini saya tidak kepikiran, nyatanya ada saja kejadian menarik  di sekitar saya yang bisa menjadi inspirasi untuk menulis.

Seperti yang teman-teman baca, kejadian ini berlatar belakang di tambal ban pinggir jalan. Waktu tepatnya saya lupa karena memang tidak bawa jam, tapi kira-kira siang menjelang sore. Kebetulan kejadian ini berlangsung tepat di depan mata saya, tapi saya bukan pelaku. Saya hanya penonton yang bisa merenungi hal tersebut. Dan menurut saya, hal tersebut juga akan menjadi hal yang baik untuk menjadi bahan perenungan kita semua.

Sebelum masuk ke peristiwa tersebut, saya ingin menceritakan prolognya dulu. Hal yang membawa saya ke tambal ban pinggir jalan siang itu.

Kemarin malam, saya seperti biasa naik sepeda ke kampus. Malam-malam? Iya, sudah biasa. Malam-malam saya ke kampus untuk ketemu teman saya, rencananya sih mau kerja kelompok buat lomba. Awalnya, dari kontrakan saya sudah mendapati ban sepeda depan kempis. Dipompa deh tuh sepeda kesayangan saya yang paling berharga tiada duanya. Perjalanan malam selama lima belas menit itu saya akhiri di parkiran kampus dan saya dapati ban sepeda saya kempis LAGI.

Mati deh! Akhirnya setelah puas melakukan aktivitas malam itu, saya minta tolong teman saya untuk jemput. Dan sepeda kesayangan saya yang paling berharga tiada duanya itu saya tinggalkan sendiri di parkiran yang gelap sunyi dingin dan banyak nyamuk itu. Pikir saya, nggak mungkin ada tambal ban malam-malam.

Besoknya, alias tadi pagi, saya kuliah naik angkutan umum. Orang di sini ada yang bilang mikrolet atau lyn. Itu lho…  yang hurufnya macam-macam. Ada A, B, C, O, S, WB, JMP, P… macam-macam lah! Alhasil saya merogoh saku dan merelakan dua ribu rupiah keluar dari dompet. Jalan sedikit dan sampailah ke kampus.

Kebetulan tidak ada hal yang cukup menarik di kampus, sehingga saya tidak begitu bersemangat menceritakannya di sini. Saya masih merasakan ngantuk di beberapa menit, tapi selepas itu mata saya melek lagi. Lewat dua mata kuliah, saya pun pulang.

Dan mungkin saya memang ditakdirkan untuk menjadi saksi peristiwa tersebut. Agar saya menjadi ingat, agar saya bisa menuliskan pengalaman saya ini kepada teman-teman.

Dengan ban depan sepeda yang kempis, saya menuntunnya melwati sela-sela pagar parkir, mengangkat sedikit melewati trotoar, masuk ke jalan setapak, hingga akhirnya mencapai jalan raya. Saya berjalan sedikit untuk mencapai tambal ban pinggir jalan itu.

“Pak, mau tambal ban,” kata saya. Sebuah kalimat yang lumrah muncul dari mulut seseorang yang melas menuntun sepeda dari kejauhan. Seorang bapak yang tadi sedang duduk pun menyambut sepeda saya. Tidak perlu ditanya lagi ban mana yang mau ditambal, dengan lihainya bapak itu menggulingkan sepeda kesayangan saya yang paling berharga tiada duanya. Saya duduk di tempat bapak itu duduk tadinya. Sementara bapak itu melantai di atas jalan (sepertinya biasanya juga begitu kalau sedang menambal ban) karena tidak ada kursi kecil di tempat itu.

Tambal ban ini bukan sebuah bengkel. Dimana teman-teman menemukan tabung besar yang biasanya buat pompa ban (apa sih namanya? kompresor ya?) dan beberapa ban dalam tersampir, di situlah tambal ban pinggir jalan berada. Bapak itu mungkin lebih tua daripada bapak saya, tapi masih sama kuatnya. Kata lainnya, masih belum seperti kakek-kakek. Yang saya senang, bapak ini komunikatif sekali. Saya diajak ngobrol. Saya pada dasarnya agak sulit kalau menanggapi obrolan dadakan sehingga sebagian besar saya menjadi pendengar dan senyum saja. Tapi bapak itu termasuk kreatif, sehingga ada saat-saat dimana saya pasti menjawab pertanyaannya. Tentunya dengan bahasa Jawa yang saya tahu sedikit-sedikit (parah deh! orang Jawa nggak bisa bahasa Jawa) Saya pun tidak canggung. Bapak itu melanjutkan obrolan sambil terus menggerakkan tangannya yang begitu terampil mengoperasi ban sepeda saya. Saya menikmati aksi tambal ban yang menggunakan bahan seadanya itu.

Kemudian seorang perempuan (kelihatannya mahasiswa atau mbak-mbak yang baru bekerja) datang dengan sepeda motornya. Percakapan pun terjadi.

Mbak: *menghentikan sepeda motornya* Pak, bisa #### (saya tidak bisa mendengarnya karena jalan sedang ramai).
Bapak: Wah, nggak tahu saya! *sambil memandang tajam mata mbaknya* Kalau turun, saya tahu.
Mbak: … *diam, lalu pergi*

Seperginya mbak itu di belokan, bapak itu menoleh ke saya. Saya senyum ke bapak itu sambil manggut-manggut. Bapak itu juga membalas senyuman saya dan sepertinya senang karena saya tahu apa yang dimaksudnya di percakapan tadi. Katanya, “Saya ini kan juga sekolah dulu. Saya juga tahu bagaimana harus bersikap sama orang lain. Apalagi sama yang lebih tua.”

Saya akan gambarkan yang saya lihat tadi. Bapak itu sedang menambal ban sepeda saya. Bapak itu sedang duduk di bawah, sementara mbak itu datang dan masih berada di atas sepeda motornya saat berbicara dengan bapak itu. Yang diharapkan, paling tidak mbak itu turun dulu dari sepeda motornya.

Saat itulah pikiran saya tersengat. Memang tidak salah apa yang diminta oleh bapak tersebut. Inti percakapan tadi jelas, tentang saling menghormati. Ada yang menghormati, ada yang dihormati. Dan sebagai adat ketimuran (atau mungkin di seluruh dunia), orang yang lebih tua adalah yang sepantasnya dihormati. Tidak peduli apapun profesinya. Tidak peduli apakah ada ikatan darah atau tidak.

Pikiran saya jadi melayang ke Mojokerto, kota kelahiran saya, lebih tepatnya pikiran saya terbang ke rumah, ke bapak dan ibu saya. Meskipun saya merasa tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh, akhirnya saya juga penasaran… apakah saya sudah cukup menghormati orang tua saya sendiri? Apakah saya sudah bersikap sebagaimana mestinya sebagai seorang anak yang baik? Dan ujungnya, apakah saya sudah membahagiakan orang tua saya?

Tidak habis pikir saya dengan tingkah laku seorang anak yang lupa pada orang tuanya. Cerita rakyat seperti Malin Kundang dan Batu Menangis, saya tidak mau seperti itu SEDIKIT PUN! Cerita-cerita di sinetron yang lebay, yang anaknya begitu tega menyiksa orang tuanya sendiri… uh!

Saya sendiri tahu, mbak itu tadi sebenarnya juga tidak sengaja. Mungkin dia memang sedang terburu-buru, sehingga tidak sadar waktu berbicara dengan bapak itu. Saya sendiri mungkin kadang juga pernah lupa akan hal ini. Semoga setelah kejadian ini, saya selalu sadar dengan lingkungan saya, dimana saya berada, ada siapa di sekitar saya, dan bagaimana saya harus bersikap.

Teman-teman setuju kan kalau kita harus menghormati orang yang lebih tua? Atau perubahan jaman juga merubah mindset teman-teman?

Sumber gambar: Tambal ban

Iklan

11 thoughts on “Suatu Hari di Tambal Ban Pinggir Jalan

  1. Setuju…..

    tentang saling menghormati, sopan santun, dan sejenisnya… :mrgreen: menurut saya itu menyangkut kebiasaan pribadi masing-masing. seperti percakapan seorang Bapak & Mbak-mbak di atas. sepertinya itu terjadi secara spontan. Jika memang sudah terbiasa menghormati orang lain, apapun keadaannya, mungkin mbak itu akan turun dr kendaraan, dan tanya baik-baik.

    Saya juga pernah dapat pelajaran seperti ini. Ada seseorang yang naik kendaraan, dan tanya suatu alamat/tempat kepada orang di pinggir jalan. Orang yang di tanya malah ngasih jawaban palsu. setelah orang yg bertanya tsb pergi, saya mendengar percakapan, “ngapain harus jujur dengan orang yang ga punya sopan santun. bertanya kok mau turun dari kendaraannya”. sejak saat itu, saya sll mengingatnya, di manapun berada, harus bersikap sopan & saling menghormati…

    Erwin nulis apa sih? kok panjang amat komentarnya 😛

  2. saya juga pengennya begitu, bisa tulis posting setiap hari, walaupun belom kuliah.
    Pergi Sekolah juga pakai sepeda, asyik sih. tapi, harus tahan gengsi.
    Terus, baru kali ini dengar tukang tambal yang beradab (mungkin yang lain2 lupa, padahal ada juga).

  3. di bandung sini pemkot mulai membangun jalur sepeda. asik juga biar bisa ikut mencari inspirasi sambil bersepeda. ehm btw.. halaman titip promosimu di blog ini itu cerdas sekali. mau aku tiru juga!

  4. uuuuuuaaaaaaaa mau juga ada jalur khusus sepeda di surabaya….
    (tapi mungkin nggak terlalu penting untuk saat ini, masih ada prioritas yang lain).

    Tentang halaman itu, sejarahnya memang karena ada satu comment yang isinya bener2 melenceng dari topik, yaitu promosi. Yah akhirnya saya pindah ke situ, daripada ngerusak suasana. Saya sendiri sebenarnya kurang yakin sama efektivitas halaman itu, soalnya jumlah orang yang promosi lewat blog kan nggak banyak2 amat (sejauh yang saya ketahui).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s