Sebuah Pertanda

Sobat Blog, ini cerpen baru yang saya buat setelah blog ini. Kalau cerpen yang sebelum-sebelumnya saya buat sebelum blog ini. Semua cerpen saya bisa dilihat di kategori Fiction. Setelah membaca ini, tolong ditanggapi ya. Terima kasih.

Sebuah Pertanda

Sebuah Pertanda

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Saya memang bukan orang yang pandai bicara. Pun untuk bercanda, saya bukanlah seorang yang ahli. Namun bersama itu saya menjadi seorang yang tak pandai untuk berbohong. Saya tak bisa berkata sesuatu yang bukan kenyataan. Lidah saya sudah diciptakan untuk mengatakan kenyataan-kenyataan yang nyata. Bukan untuk berdusta, bukan untuk bersaksi palsu.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Bahasa tubuh saya lebih menguasai keadaan daripada mulut saya yang sangat kaku. Jika si mulut terkunci, tentunya kau akan dengan mudah melihat apa keinginan hati saya lewat sikap tubuh saya. Bisa dari kaki, pundak, tangan, atau seluruh tubuh saya. Kawan, mungkin telingamu tidak mendengar, tapi matamu pasti jelas melihatnya. Karena seluruh tubuh saya pun tak bisa berbohong. Mereka semua tercipta sama seperti mulut saya, hanya saja mereka lebih pandai mengekspresikan diri.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Di atas mereka semua, mata dan wajah saya ini jelas lebih jujur dalam segala hal. Perhatianmu lebih kepada mereka. Oleh karenanya mereka berdua berperan lebih banyak dalam kejujuran. Ini adalah cara mereka bersaksi untuk sesuatu yang nyata di hidup ini. Pernah suatu hari saya menyesal memiliki mata dan wajah yang jujur. Namun sikap mereka lebih membawa saya ke dalam kebaikan. Salah satunya untuk menghadapimu.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Saya duduk di sini. Mulut saya terkatup rapat. Seluruh tubuh saya pun kaku, tertular oleh penyakit lama si mulut. Mereka memaksa saya untuk diam di sini, dengan segenap harapan dan kejujuran untuk diam menanti. Kau tahu bagaimana perasaan saya saat ini? Wajah dan mata saya sekali lagi sudah jujur menunjukkannya.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Saya memang diam. Tapi pikiran saya sedang terbang dan melayang-layang. Untuk apa? Mencarimu. Mencari kemana saja. Mungkin saat ini dia tersesat karena sudah lama tidak menyusuri jalan-jalan sempit yang dulu pernah kau tunjukkan. Oleh karenanya dia pasti tidak tahu bagaimana kondisi saya saat ini, yang diam dan menunggumu. Bahkan jika kau sedang berdiri di depan saya saat ini pun, mungkin dia masih belum tahu dan masih terus mencari jejakmu.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Atau mungkin saya sendiri pun harus ikut berpikir. Jika seluruh tubuh saya selalu jujur, harusnya semua ini bisa lebih mudah. Seperti yang sudah-sudah, kejadian-kejadian besar itu terselesaikan dengan kejujuran. Ingatkah kau saat saya mengaku kepada kakakmu bahwa saya tidak memiliki ketrampilan khusus di bidang komputer? Saya tidak mengada-ada. Tapi kemudian saya belajar banyak dari dia yang tahu saya ke sini dengan tangan benar-benar kosong.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Kejadian lain yang masih membekas di benak saya, bahkan membekas di tubuh saya. Kau baru tahu saat saya sudah terbaring di rumah sakit dengan beberapa jahitan. Itu karena saya jujur tidak suka dengan sikap seseorang. Saya rasa tidak perlu diceritakan. Terserah apakah dia mau mendengarkan atau tidak. Saya harap setelah kejadian itu dia berpikir kalau yang dilakukannya itu salah.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Saya merasa terjebak dalam situasi ini. Saya kesulitan. Kalau saat ini kau melihat saya, kalau saat ini kau bersembunyi di suatu tempat yang saya tidak tahu, tolong, ketahuilah kejujuran saya ini. Tolong, bacalah setiap kata yang muncul dari sikap saya di sini. Datanglah dan berikan saya jawaban akan kesulitan yang menyiksa hati saya ini.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Mungkin kau tak ingat kapan pertama kali kita bertemu. Mungkin kau tak ingat kapan kedua mata kita saling beradu untuk yang pertama kali. Di kampus. Saat itu saya datang terlambat dan kau duduk di kursi depan sedang berdiskusi dengan dosen. Kedatangan saya menyambut perhatian seluruh kelas, termasuk dirimu. Saya memang jarang di kampus dan saat itu baru menyadari bahwa kau ada. Kau tahu? Sejak saat itu saya punya satu keahlian baru selain kejujuran. Keahlian itu bernama menyembunyikan perasaan.

. . .

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Saya memang bukan orang yang pandai bicara. Dan saya semakin tak pandai bicara jika di depanmu. Pun untuk bercanda, saya bukanlah seorang yang ahli. Karena kau suka humor, dan saya tak cukup lihai dalam mengundang gelak tawa.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Bersama itu saya menjadi seorang yang tak pandai untuk berbohong. Atau lebih tepatnya saya tidak pandai berbohong pada orang lain. Namun saya berbohong pada diri sendiri. Keahlian baru itu bertolak belakang dengan kejujuran yang selama ini sangat saya banggakan. Hingga perasaan itu menggerogoti saya.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Saya tak bisa berkata sesuatu yang bukan kenyataan. Lidah saya sudah diciptakan untuk mengatakan kenyataan-kenyataan yang nyata. Bukan untuk berdusta, bukan untuk bersaksi palsu. Namun jika itu tentang perasaan kepadamu, dia akan bungkam. Mulut saya akan senantiasa tertutup rapat, menahan gemuruh kata-kata kilau mutiara dan harum bunga yang menggelegak dari dasar hati yang paling dalam.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Bahasa tubuh saya lebih menguasai keadaan daripada mulut saya yang sangat kaku. Jika si mulut terkunci, tentunya kau akan dengan mudah melihat apa keinginan hati saya lewat sikap tubuh saya. Namun agaknya jika berhubungan dengan pernyataan sikap kepadamu, mereka sepakat bekerja sama dengan mulut saya yang terkunci rapat. Mereka diam. Bisa dari kaki, pundak, tangan, atau seluruh tubuh saya.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Mungkin telingamu tidak mendengar, tapi matamu pasti jelas melihatnya. Ya, melihat kebodohan saya yang selalu diam saat kau lewat. Namun tolonglah, tidakkah kau melihat sebuah pertanda di balik sikap tubuh yang melawan suara hatinya ini?

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Seluruh tubuh saya tak bisa berbohong. Mereka semua tercipta sama seperti mulut saya, hanya saja mereka lebih pandai mengekspresikan diri. Atau lebih tepatnya lebih pandai menyembunyikan diri. Mereka mengambil sikap seolah kau adalah kau yang sama seperti yang lain.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Di atas mereka semua, mata dan wajah saya ini jelas lebih jujur dalam segala hal. Hingga saat ini saya masih belum tahu apakah mereka berdua juga bersekongkol dengan yang lain. Gara-gara keahlian baru saya, mungkin mereka berusaha keras mengelabui perhatianmu. Karena perhatianmu lebih kepada mereka. Oleh karenanya mereka berdua berperan lebih banyak dalam menyembunyikan perasaan.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Ini adalah cara mereka bersaksi untuk ungkapan yang nyata di dalam perasaan ini. Ya, semua kejujuran itu berbalik jika semua itu berhubungan dengan perasaan saya kepadamu. Seluruh tubuh saya melawan keinginan saya, melawan diri saya sendiri. Inilah reaksi mereka… Mereka cemburu sehingga tidak mengijinkan saya untuk membocorkan seluruh rahasia yang saya tumbuhkan sejak pertama kali mata kita beradu.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Sesungguhnya saya merasa terkekang di dalam tubuh yang suka melawan ini. Mereka tidak kooperatif. Mereka tidak bekerja sama. Perasaan saya sudah berteriak-teriak, namun mereka meredam suaranya. Mulut yang tertutup berhasil menutupi semua kejujuran tentang saya dan kamu. Jantung saya yang merasa kasihan dengan perasaan saya, selalu berusaha mendobrak rongga dada saya. Ingin membuat lubang baru sehingga perasaan saya bisa bebas mencurahkan semua rahasia yang saat ini terasa memenuhi seluruh ruangnya. Hingga sesak, tak ada ruang untuk bergerak. Sungguh ironis. Keahlian baru itu, menyembunyikan perasaan, telah meracuni seluruh tubuh saya.

. . .

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Tidakkah kau melihat saya saat ini diam di sini? Saat semua mencarimu, saat kabar bahwa kau menghilang itu menyebar ke seluruh penjuru udara, tidakkah kau melihat bahwa saya sengaja berada di sini karena tahu kau akan ke sini? Tahukah kau bahwa saat ini saya sangat panik? Kepanikan ini menyadarkan seluruh tubuh saya bahwa keahlian baru itu tidak membuat hidup saya lebih baik. Mereka kembali berpihak pada kejujuran saya yang dulu. Dan kejujuran itu membawa seluruh tubuh saya ke sini. Diam menanti di sini.

Jika menurutmu ini adalah sebuah pertanda, coba pikirkan lagi. Saya masih ingat ketika kau membawa saya ke sini. Sendirian. Kita berdua. Katamu tempat ini adalah tempat paling nyaman yang membuatmu merasa damai. Oleh karenanya kau sering ke sini jika sedang ingin sendiri. Saat kau ingin lari dari kejamnya dunia, kau temukan duniamu di sini. Saat saya tanya apakah ada orang lain yang mengetahui tempat ini. Kau jawab, tidak ada satupun. Itu artinya hanya saya.

. . .

Maaf, mungkin seharusnya saya yang melihat pertanda ini.

Bagaimana menurut teman-teman cerpen saya ini?

Sumber gambar: Sebuah Pertanda

Iklan

6 thoughts on “Sebuah Pertanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s