SISTEM PENDIDIKAN GILA – don’t try this at home

Tulisan ini diambil dari Notes di Facebook. Diperkirakan tulisan asli berasal dari Kaskus.us : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4962080 dan http://www.kaskus.us/showpost.php?p=260086944&postcount=32 dengan penulis asli seorang kaskus maniac bernama Tom. Saya sangat suka dengan tulisan ini. Bagaimana menurut Anda?

Pendidikan Indonesia

Pendidikan Indonesia

okey, sesuai judul,
ane pengen bahas nyang namanya SISTEM PENDIDIKAN.
khususnya yang ada di indonesia.

pertama, ane pengen tanya,
sebenernya tujuan pendidikan itu apa c?
apa,,, dapet kerja?
apa,,, punya ilmu?
apa,,, biar lebih beradab?

owkey, yang tadi itu bener semua,,,
pendidikan memang efeknya seperti itu,,
tapi hey hey hey,,, 😀
apakah itu tujuan pendidikan?
kalau iya,
see

dapet kerjaan jadi tujuan pendidikan,,
ketika menempuh pendidikan, sudah mendapat pekerjaan?
lalu berarti pendidikannya sudah berhasil kan?
so buat apa sekolah lanjutin lagi, toh udah dapet kerja?

punya ilmu jadi tujuan pendidikan,,
ketika sudah punya ilmu,,
ya sudah, selesai kan?
aku pinter lho,, nilainya 9 semua,, 😀
nih aku punya medali emas olimpiade internasional,,
klo dah gitu? udah. ya udah..

biar lebih beradab jadi tujuan pendidikan,
ketika sudah lebih beradab,
dengan tuturkata yang intelek dan njlimet.
dengan pakaian yang necis,,
beradab kan? ga primitif.. udah? udah..

ya udah,, sistem pendidikan sukses kan?
itu maksudnya? enggak kan?
lalu apa sebenarnya tujuan orang sekolah?
bukankan orang sekolah itu biar bisa
melakukan sesuatu,, berperan dalam pembangunan,
memberikan manfaat untuk kehidupan.
iya kan? orang sekolah itu supaya bisa bermanfaat.

tapi coba dicek lagi,,
apa iya pendidikan indonesia mementingkan manfaat?
kayaknya enggak deh…
bukannya yang penting buat anak sekolah tuh nilai?
ya kan?
klo nilainya ga bagus bisa2 ga naik kelas,,
klo nilainya ga bagus ntar bisa ga lulus,,,
berarti tujuan pendidikan indonesia itu nilai. ya ga?

Nilai

Nilai

maksudnya nilai itu apa c?

penguasaan ilmu?
yang menguasai banyak, nilainya bagus,, yg menguasai sedikit nilainya jelek.
trus memangnya yang menguasai ilmu itu bisa memanfaatkan ilmunya?
ilmunya bisa bermanfaat? ga juga tuh,,,
orang pada pinter-pinter, tapi pinternya buat korupsi.
bermanfaat?
berarti nilai memang sebanding dengan penguasaan ilmu,
tapi nilai ga sebanding dengan pemanfaatan ilmu.

sebagai tolak ukur kepandaian?
tolak ukur kepandaian atau diskriminasi pendidikan?
yang nilainya bagus disanjung-sanjung,
yang jelek dihina-hina,
yang nilainya bagus dihormati,
yang nilainya jelek dianggap sampah.
lalu maksudnya nilai itu untuk apa?
tolak ukur apa?
mengukur apakah ilmu yang diberikan apakah diserap dengan baik?
lalu apakah kalau ada yang tidak menyerap dengan baik
terus diajarin lagi berkali-kali biar terserap dengan baik?
enggak, paling2 remidi, belajar sendiri.
trus apa gunanya tolak ukur itu?

nilai itu betul-betul meracuni para intelektual
yang sebetulnya kalau dikelola dengan “gila”
pasti mereka bisa lebih hebat dari yang ada sekarang.

coba bayangkan kalau tidak ada NILAI.
apa masalahnya?

MENENTUKAN LULUSNYA BAGAIMANA?
gampang, anak yang mau lulus harus bisa menunjukkan/ menciptakan/ melakukan segala hal
apapun itu yang ada manfaatnya untuk masyarakat sekitar.

anak ipa, dengan ilmu ipa-nya harus bisa membuat masyarakat sekitarnya
bisa makan cabe tanpa beli mahal-mahal 50rb/ kilo
anak ips, bisa bikin masyarakat sekitarnya ga ada yang nganggur karena bisa bikin warung sendiri
anak seni, bisa bikin pertunjukan seni berkualitas meski itu dijalanan.
anak komunikasi, bisa bikin jaringan untuk informasi bencana ke hp penduduk minimal se-kabupaten,

atau apapun itu pokoknya yang bermanfaat, meski manfaatnya itu kecil.
kriteria manfaat itu bisa dibahas nanti,

yang jelas orang sekolah bukan dimotivasi untuk mengejar nilai.
tapi untuk mengejar manfaat, bisa apa dia dengan ilmunya.
mau lulus, harus menghasilkan manfaat nyata.

LALU BAGAIMANA MENENTUKAN MANFAAT APA YANG NANTI AKAN DIBERIKAN.
nah, ini,,,
bukti pendidikan indonesia bukan melatih untuk kreatif, mencari akal,
tapi hanya meniru, meniru ucapan guru, meniru tulisan di buku.
ingat, sebaik apapun kita meniru, paling banter kita sama dengan yang ditiru.
ga mungkin bisa lebih baik, yang ada malah lebih jelek.
makanya cobalah,, jangan apa-apa niru,,

cobalah kreatif, responsif,,,
keluar rumah,, jalan-jalan ke pasar,,, liat ibu-ibu lagi pada ngrumpi,,,
anak-naka kecil pada main di jalan,,,
pasti mereka punya kebutuhan, keinginan,
itulah objek dari “mau bisa apa saya untuk mereka?”
mau melakukan apa,,,

klo masih blum ada bayangan, sudahlah,,
coba bermimpi, kaya dulu waktu masih kecil..
pasti akan muncul sebuah keinginan, ya coba lakukan.
buat itu menjadi nyata dengan cara belajar caranya di sekolah.

TERUS KALAU GA ADA NILAI? SEKOLAH NGAPAIN DONK?
sekolah ya biar lulus,,,
caranya lulus? ya bikin/ ciptakan/ lakukan sesuatu yang bermanfaat,
yang memenuhi kriteria untuk lulus.

BISA SANTAI DONK SEKOLAHNYA.
ya sekolah harusnya santai donk,, klo tegang bukan sekolah, latihan militer,,,
apalagi klo ditambah bentakan, pukulan, caci maki, wah,, persis dah latihan jadi hansip. wkwkw

MASA SEKOLAH GA ADA TANTANGAN?
ya tantangannya itu, bisa ga bermanfaat?
selama ga bisa memberikan manfaat, ya ga usah dilulusin,,
masa orang sekolah ga berguna?
itu tantangannya, masih kurang tertantang?
udah punya bayangan belum, pengen bisa bermanfaat apa untuk negeri ini? 😀

TRUS KLO GA ADA NILAI, GA TAU DONK MANA YANG PINTER MANA YANG BODO?
halah,, buat apa membedakan mana yang pinter mana yang bodo?
biar aja guru memperhatikan semua murid dengan seimbang
menuntun proses kita untuk jadi manusia yang bisa berguna bagi masyarakat.

WAH, KLO GITU GA ADA UJIAN DONK?
ga ada, ujiannya ya ketika menyajikan sesuatu yang bermanfaat,
hasil penelitian selama sekolah.
makanya ga ada lagi rumusnya sistem kebut semalam,
karena ga ada penelitian yang bisa selesai dalam semalam.
ya, penelitian itu butuh proses panjang dan berkesinambungan.

so, proses disini betul-betul menjadi perhatian. bukan hasil.

see,
kalau ga ada nilai, kalau manfaat menjadi kriteria kelulusan,
ga akan ada yang belajar cuma klo mo ujian, karena penelitian bukanlah hasil kerja semalam.
ga akan ada yang ngejar kisi-kisi, karena mau cari kisi-kisi tentang apa? soalnya ga ada, soalnya ada di masyarakat.
ga akan ada yang nyontek, karena mau nyontek apa? ide penelitian? ya silahkan klo memang bisa melakukan penelitiannya.
ga akan ada pembedaan mana pinter mana bodo, karena yg penting memang bukan pinter bodonya, tapi bermanfaat atau tidaknya dia.

lalu kalau itu semua sudah berjalan,
apa iya masih ada korupsi di negeri ini?
waktu di sekolah ga ada nilai koq, apa yg mo dikorupsi anak sekolah klo bukan nilai?
korupsi kan muncul karena sejak sekolah udah dibiasakan korupsi,
ulangan nyontek, nilai di tinggi-tinggikan, yang jawaban salah dianggap bener,
itu budaya korupsi yang muncul sejak di sekolah dan diteruskan ke gedung miring 7′.

apa iya masih ada rakyat susah?
semua anak sekolahan udah bisa koq, memberikan solusi untuk mereka.
kan kelulusannya harus bisa bermanfaat,makanya bisa memberikan solusi,,,
klo sekarang kan lulusnya karena nilai,,,
peduli amat ma masyarakat, yang penting lulus.
trus yang mau peduli siapa??
siapa klo bukan orang-orang berpendidikan yang sekolah? ha?

apa iya negeri ini kurang kreatif?
kan klo mo lulus harus tau mau bermanfaat apa..
jadi kan semua anak dilatih kreatif dan responsif
atas kebutuhan masyarakat, kebutuhan negeri ini.
supaya bisa jadi objek ujian kelulusannya.
klo sekarang kan yang penting persis sama buku, ga perlu kreatif apalagi responsif
contoh kasus di buku aja sering pake tahun 1990-an, gmn bisa responsif ma jaman sekarang?
yang penting apal pelajarannya, habis ujian lupa ga papa.
trus sekolah buat apa? buang-buang waktu buat ngapalin trus dilupain?
apa ga ada kegiatan yang lebih bermanfaat? ha?

trus kalau udah ga ada korupsi, rakyat makmur, penuh kreatifitas,
apa negeri ini masih miskin? masih susah? masih najis untuk dicintai? dibanggakan?

lalu untuk apa pergi ke luar negeri yang tidak lebih baik dari negeri sendiri?
apa masih bangga pendidikan di luar negeri?
pendidikan luar negeri yang menghadapi utang macet aja krisis,
dibanding pendidikan dalam negeri yang melahirkan peneliri-peneliti cilik,
ilmuwan bermanfaat yang karyanya inovatif dan tepat sasaran.
negeri yang dengan pendidikannya mengerahkan semua kaum berpendidikan
turun ke jalan melakukan kegiatan yang solutif dalam mengentaskan kemiskinan.

Memberikan manfaat untuk masyarakat

Memberikan manfaat untuk masyarakat

yang ada malah orang luar negeri pada sekolah di Indonesia,
guru-guru pada di ekspor ke luar negeri untuk ngajar disana.
ya, kaya dulu jaman dahulu kala. waktu malaysia masih lebih mlarat dari indonesia.

ya, klo dipikir lagi, sistem pendidikan ini memang gila.
tapi sepertinya klo diterapkan juga ga ada salahnya,
toh sistem yang sekarang juga udah salah, ga ada hasilnya,
eh siapa tau gagal, kan kembali lagi seperti sekarang,
kalau berhasil ya,,, jangan angkat saya jadi mendiknas ya.
angkat saya jadi presiden, biar bisa menghasilkan sistem gila yang lain
untuk bidang selain pendidikan. wakakakakaka
just kidding gan,,,, ane jadi orang gila aja ah,, wkwkwkw

dan satu lagi, kelihatannya ini memang mustahil,
tapi bisa saja terjadi.
sama halnya ketika dulu belum ada pesawat luar angkasa,
apakah berjalan di bulan itu bukan hal mustahil?

Teman-teman setuju dengan hal ini?

Sumber gambar: Pendidikan Indonesia, Nilai, Memberikan manfaat untuk masyarakat

Iklan

4 thoughts on “SISTEM PENDIDIKAN GILA – don’t try this at home

    • Amin. Kita semua berdoa untuk itu. Dan juga berusaha bersama-sama untuk mewujudkannya.

      Tanya kenapa? Ketidakberhasilan sistem itu dikarenakan masalah kurangnya kesadaran… Saya yakin saat ini sudah lebih banyak generasi bangsa yang perhatian di bidang ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s