Anak Mojokerto dan Pemikiran Tentang Kehidupannya (bagian 2)

I Love Writing

I Love Writing

Salam,

Akhirnya setelah sekian lama saya tenggelam di dalam lagu-lagu, kembali saya menuliskan notes dengan judul di atas (Anak Mojokerto dan Pemikiran Tentang Kehidupannya). Isi notes ini adalah sesuatu yang terjadi baik di lingkungan saya maupun di dalam diri saya. Pada notes bagian 1, mungkin saya sempat terbawa untuk menjanjikan sesuatu di tulisan kedua. Namun maaf, mungkin itu bukan alasan saya untuk menulis sejak awal. Di sini saya hanya ingin mengutarakan apa yang menjadi buah pikiran saya. Sebuah kebanggaan.

Jadi apa yang akan saya tuliskan di bagian kedua ini? Sebuah Pengakuan.

RIWAYAT MENULISKU: Dari Masa ke Masa

Pernahkah Anda menyadari bahwa apa yang telah Anda tuliskan di dunia ini akan menjadi sesuatu yang Anda rindukan? Pernahkah Anda menyadari bahwa tulisan Anda tersebut akan menjadi hiburan paling menenangkan hati yang pernah Anda dapatkan?

Saya merasa beruntung terlahir sebagai seorang yang sangat menikmati tulisan. Mungkin saya bukanlah seorang yang cukup luas wawasannya, saya juga bukan orang yang mudah mencerna bacaan, tapi saya adalah orang yang sangat menikmati proses visualisasi pemikiran ke dalam sebuah tulisan.

Saat SD, tulisan tangan saya tidak cukup rapi, karena kalau menulis tangan saya selalu menekan dan berkeringat. Dan saat itu alat tulis yang diperkenankan untuk anak seumuran saya adalah pensil. Pulpen hanya diperbolehkan untuk mereka yang sudah cukup besar, katakanlah kelas 5 SD.

Otak saya sudah dipenuhi dengan berbagai cerita fiksi anak-anak saat itu. Saya tidak ingat apakah setiap tidur malam saya selalu didongengi. Tapi yang saya ingat adalah majalah anak-anak yang dibelikan oleh orang tua saya setiap minggunya (jika sedang ada uang), terkadang juga berlangganan. Saat itu yang terkenal adalah Mentari dan Bobo.

Selain bacaan, saya juga sangat terpukau dengan video game. Gambar yang bergerak di layar tv sangat membuat hati saya menjadi ceria. Acara di televisi saat itu juga mendukung imajinasi saya. Satu acara yang sangat saya rindukan adalah Si Komo. Bahkan saat ini saya masih ingat teman2nya yang lain seperti Dompu, Belu, Piko, dan Ulil.

KERTAS
Akhirnya mulailah kegiatan iseng-iseng saya untuk menulis. Dimulai kelas 3 SD. Saya dikenal oleh orang tua saya sebagai anak yang suka menghabiskan buku. Tangan saya gatal untuk mengambili bagian tengah buku. Untuk apa? Untuk membuat “buku” yang memiliki 4 halaman. Ada yang saya isi cerpen, komik, cergam, atau humor2 pendek yang sempat saya ingat dari majalah.

Adapun hal ini saya lakukan secara sembunyi-sembunyi. Saya takut dimarahi. Saya sering mencuri-curi waktu untuk menulis. Kadang saya sembunyikan kertas dan pensil di balik bantal. Saat ibu sudah tidur, pelan-pelan saya keluarkan “senjata” itu dan mulai menulis sambil tengkurap. Alhasil, ibu saya bangun karena bunyi gesekan pensil saya. Waktu paling leluasa untuk menulis di rumah adalah saat semua orang pergi keluar.

Di sekolah, saya merasa waktu untuk menulis lebih banyak. Saya menulis kalau sedang malas main di luar. Dan satu pengalaman yang tidak bisa dilupakan, saya menulis saat pelajaran Agama Islam berlangsung. Eit, bukan anak nakal ini. Kebetulan di kelas saya waktu itu, saya sendiri yang non-muslim. Jadi daripada saya bengong di luar, guru agama saya waktu itu mengijinkan saya untuk duduk di dalam. Toh saya tidak mengganggu. Saat itulah saya menghabiskan waktu dengan menulis dan mengacuhkan sekitar saya. Karena hal ini berlangsung selama enam tahun, akhirnya saya sedikit mengerti bacaan seperti surat Al-Fatihah walaupun tidak tahu artinya. 😛 Jadi jangan kaget atau canggung kalau keceplosan Asalamualaikum sama saya. Saya akan menjawab Waalaikumsalam dengan fasih. Namun hal ini juga yang membuat saya tidak canggung berada di lingkungan saya dan saya bisa lebih menghargai dan menghormati mereka.

BUKU
Kebiasaan menulis dari kertas ini berkembang. Saya tidak lagi menyobeki buku, tapi diam-diam saya mencari buku kosong untuk “dinodai” dengan tinta. Jadi kini buku saya tidak hanya 4 halaman. Tulisan saya semakin beragam. Ada yang saya ceritakan kembali, ada yang saya karang sendiri. Teman-teman saya juga memberikan reaksi positif. Dengan senang hati mereka membaca tulisan saya dan secara jujur menantikan kelanjutannya. Kalau saya minta pendapat, mereka juga kooperatif. Bahkan mereka sampai meminjamnya untuk dibaca di rumah. Saat itu perasaan saya adalah bangga (karena tulisan saya dibaca) dan sebal (karena saya harus menunggu dikembalikannya buku itu untuk saya lanjutkan lagi tulisannya).

Memasuki SMP, tulisan saya semakin realistis ke arah buku. Saya menambahkan daftar isi di setiap tulisan saya saat itu. Namun tetap, dunia saya adalah dunia fiksi. Saya sudah menulis cerpen, novel (karena satu buku tebal), dan cerpen petualangan dimana pembaca dapat memilih sendiri jalan ceritanya (seperti di serial Goosebumps). Pelajaran Agama Islam, itu artinya saya harus ke perpustakaan. Saat itulah saya menulis.

Di rumah, saya masih menulis sembunyi-sembunyi. Karena sepenangkapan saya atas sikap yang dapatkan selama ini, tulisan saya ini adalah tulisan fiksi. Saya bermain imajinasi. Bau-baunya pun tak jauh seperti film-film kartun yang ada di televisi. Dan hal itu dianggap kekanak-kanakan.

Novel yang saya buat saat itu bercerita tentang petualangan 5 ninja yang balas dendam akan kehancuran yang terjadi di perguruan ninjanya. Saya memulainya di kelas 1 SMP dan selesai di kelas 3 SMP. Selepas saya menuliskan kata TAMAT pada novel itu. Tiba-tiba saya merasa imajinasi saya mandeg! Berhenti! Terdiam! Saya merasa tidak kreatif! Akhirnya saya berpikir akan tulisan-tulisan pendek yang bisa memancing kreasi saya. Bukan berupa paragraf, tapi bait. Ya, saat akhir kelas 3 SMP itulah saya banting stir menjadi penulis puisi.

PENGAKUAN
Pada buku puisi saya yang pertama, sebagian besar adalah saya tujukan untuk teman-teman sekelas saya. Saya sangat menyayangi mereka dan saya benci harus berpisah. Ada saat dimana saya minta mereka juga ikut menuliskan puisi di buku saya itu sebagai kenang-kenangan. Karena saya tahu bahwa saya adalah seorang yang akan mempunyai tujuan SMA yang berbeda dibanding yang lain. Saya akan sangat merindukan mereka.

Ketagihan. Akhirnya saya terpancing untuk membuat buku-buku puisi berikutnya. Di SMA saya lebih dikenal sebagai penulis puisi. Kalau tidak salah sudah memasuki jilid kesepuluh. Adapun buku puisi itu adalah sebesar buku tulis sinar dunia, beberapa seukuran big boss. Kebiasaan menulis di perpustakaan juga masih berlanjut. Dan memasuki masa SMA ini saya sudah lebih berani untuk mengeluarkan buku saya itu. Dimana ada saat yang membosankan (menunggu pelajaran dimulai misalnya), saat itulah saya tenggelam dalam buku dan pulpen (oh ya, sudah bukan pensil lagi sejak masuk SMP).

Saya sangat beruntung masuk ke SMA saya, SMAN 3 Mojokerto, karena di sinilah saya mendapatkan pengakuan atas karya-karya saya. Tidak hanya teman-teman, tapi juga guru. Di ekstrakurikuler, TEATER MOEDA, teman-teman dan pembimbing sangat mengapreasi puisi saya. Saya tersipu malu saat pertama kali rahasia saya ini dibocorkan oleh sahabat saya kepada pembimbing. Syukurlah hal positif yang saya rasakan. Hal yang paling membuat saya terharu adalah saat saya ulang tahun. Teman-teman dan pembimbing saya tersebut bergantian berpuisi dengan menggunakan semua tulisan puisi yang pernah saya buat.

Guru Bahasa Indonesia saya juga sangat baik. Berkat beliau saya mulai memiliki keberanian untuk mengikutsertakan tulisan saya dalam lomba. Saat itu saya mengikuti lomba cerpen yang diadakan oleh salah satu universitas di Surabaya. Dan berhasil, saya sangat bahagia. Sejak saat itu semangat cerpen saya kembali muncul. Saya bersama teman satu geng di kelas pun membuat novel kolaborasi. Saat itu cerita dengan genre thriller sedang memenuhi otak kami.

Hal tak terlupakan lainnya adalah keterlibatan saya di majalah sekolah kami, KRIDA. Atas apa yang sudah saya lakukan, saya diberikan tanggung jawab di rubrik Sastra. Saya juga semakin memahami dunia jurnalistik. Selain itu, atas peran sahabat saya yang telah memperkenalkan saya kepada jaringannya di luar, saya pun mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Majalah Pelajar Mojokerto, PEACE MAGAZINE. Saya diamanahi di bagian Cerpen dan Puisi, penyeleksi kiriman yang masuk untuk dimuat di majalah. Saya pun mendapatkan pengalaman dari pendiri sekaligus pemilik majalah tersebut. Beliau sangat luar biasa.

BLOG. BUKAN KARYA TULIS
Memasuki bangku kuliah, saya pun berubah menjadi bukan siapa-siapa. Entah apa yang terjadi pada diri saya, saya merasa tidak seeksis dulu dalam hal menulis. Memang banyak kesempatan untuk menulis, namun semua itu untuk menulis tugas pendahuluan dan laporan. Semuanya tak lepas dari mata kuliah. Adapun media menulis saya sudah bukan lagi terutama pada kertas. Teman saya saat ini adalah komputer. Seharusnya teknologi ini memudahkan saya, namun siapa sangka kalau godaan komputer ini lebih besar. Apalagi kalau tersambung dengan internet, wah tidak selesai-selesai!

Ajang bergengsi di tingkat universitas adalah Karya Tulis atau Karya Ilmiah. Untuk hal ini, saya merasa kesulitan. Ini karena saya tidak terbiasa dan dulu saya tidak tahu akan hal ini. Seandainya saya tahu, tentunya ekstrakurikuler KIR di SMA dulu akan sangat bermanfaat. Namun karena memang sudah pada dasarnya saya tenggelam di fiksi, saya pun masih harus belajar banyak untuk karya tulis. Saya mulai belajar untuk lebih objektif dan mengeluarkan pendapat dalam tulisan saya. Saya berusaha menunjukkan melalui tulisan bahwa saya sudah dewasa.

Akhirnya saya menemukan bahwa media menulis saya yang potensial adalah blog. Hal ini menjawab rasa ingin saya untuk mempublikasikan tulisan tanpa repot-repot. Saya tidak perlu mengirim surat ke majalah atau koran, tidak perlu menunggu untuk dimuat. Kemunculan fenomena jejaring sosial juga mengingatkan saya untuk tidak berhenti menulis dan segera bangkit dari keterpurukan. Dan inilah diri saya saat ini.

SAYA SAAT INI
Saya sadar bahwa bentuk karya yang telah saya buat ini masih jauh dari kasta sastra. Saya masih berusaha untuk mencapai hal tersebut. Dulu saya berusaha memahami gaya penulisan dan arti dari puisi-puisi seperti karya W.S.Rendra ataupun Sutardji Calzoum Bachri. Saya berusaha membuat cerpen seperti yang terbit di Majalah Sastra, bukan Aneka. Saya berusaha keras pada diri saya untuk tetap menggunakan kata-kata baku, tanda baca yang benar, dan pemilihan kata yang tepat.

Namun kali ini saya juga belajar untuk lebih perhatian dengan lingkungan sekitar, membuka pikiran. Karena melulu fiksi adalah berkecimpung di dunia sendiri. Hal itu membuat saya miskin akan wawasan jika saya menggunakan imajinasi sebagai senjata utama. Saya berusaha menyampaikan pendapat saya, mengambil sudut pandang dari banyak sisi, dan tentunya dengan menggunakan pilihan kata yang tepat. Saya mulai bermain dengan pemikiran dan gagasan.

Akhirnya dengan menuliskan Notes ini, saya menyadari bahwa telah terjadi evolusi dalam diri saya. Saya menyadari bahwa waktu ini berputar, dunia ini dinamis. Mulai dari media kertas, buku, hingga komputer. Dari menulis untuk diri saya sendiri hingga untuk masyarakat luas. Dari hobi hingga menjadi pekerjaan. Semua ini saya nikmati dan saya sangat bersyukur akan hal itu.

Sekarang saya sedang berusaha untuk mencapai hal-hal lainnya. Saya ingin mempublikasikan tulisan saya ke media cetak. Meskipun saya dengan mudah mempublikasikannya melalui blog, tapi saya masih belum mengakui hal itu sebagai sesuatu yang hebat. Dipublikasikannya tulisan di media cetak adalah suatu perjuangan dan hal itu adalah hal yang luar biasa bagi saya.

Saya juga ingin membuat buku saya sendiri, mengirimkannya ke penerbit. Saya iri dengan senior yang sukses menerbitkan buku, saya iri dengan dosen saya yang mengeluarkan buku, saya iri dengan para penulis yang bukunya berjajar di toko buku. Rasa iri ini memotivasi saya.

Kelak jika saya bekerja, saya ingin sekali bekerja di tempat yang tidak jauh dari kertas, buku, jurnalis, percetakan, dan lain sebagainya. Meskipun saya saat ini menempuh kuliah di Sistem Informasi ITS, namun saya yakin hal ini masih mendukung impian saya tersebut.

Dan akhirnya, kini saya merasa rindu dengan tulisan-tulisan masa kecil saya. Saya ingin menunjukkannya kepada dunia betapa saya sangat mencintai dunia ini. Saya ingin semangat ini juga dimiliki oleh sahabat-sahabat saya yang sangat menyayangi kehidupannya. Karena kehidupan seseorang bisa memotivasi kehidupan orang lain. Dan hal itu bisa terwujud melalui tulisan yang dituliskan dengan jujur.

Apakah teman-teman mempunyai cerita yang sama?

Sumber gambar: I Love Writing

Iklan

2 thoughts on “Anak Mojokerto dan Pemikiran Tentang Kehidupannya (bagian 2)

  1. Oi2… baiklah!! mari kita semangat untuk terus menulis!! mohon bantuannya… *ternyata beberapa penggalan kehidupan awal kita ada yang membentuk irisan, hahah, ada beberapa yg mirip..*

    termasuk tumpukan kertas hasil tulisan saya yang sampai sekarang masihkusimpanrapi tapi entahkuletakkandimana, ingin rasanya kubongkar lagi dan menunjukkan pada dunia: Aku penulis BESAR!! *sambil menuliskan kata ‘BESAR’ di papan tulis, hahahahaha* 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s