Midnight (2) – Hilang

Mereka menghilang

Mereka menghilang

Lampu di dalam Teater 3 sudah dimatikan. Sebuah cuplikan trailer film ‘coming soon’ sedang diputar. Tara berjalan sambil meraba-raba kegelapan di matanya. Dari posisinya sekarang, Tara perlu naik beberapa tingkat untuk sampai ke kursinya. Dia pun naik sambil membawa dua kantong popcorn rasa karamel.

Dan kursi empuk itu segera membuatnya nyaman. Namun alangkah lebih baik seandainya semua sahabatnya itu berkumpul di sini. Semua akan terasa lebih menyenangkan jika bersama dengan mereka yang satu pemikiran. Tara sangat menyayangkan harinya ini.

Mengenai kecemasan petugas tadi, mungkin memang benar berhubungan dengan jumlah penonton midnight ini. Tara berusaha menembuskan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Penonton di sini sedikit sekali, kurang dari 15 orang. Tara baru tahu kalau jumlah penonton ini akan menjadi beban bagi para pegawai bioskop. Jumlah sedikit sama dengan kemarahan bos. Tara geleng-geleng kepala sendiri.

“Ah buat apa dipikirkan,” batin Tara.

Tak lama kemudian muncul serombongan penonton lainnya. Hal ini mencuri perhatian Tara. Akhirnya para pegawai itu akan lebih tenang karena jumlah penonton malam ini sudah lebih banyak. Tapi… tunggu dulu! Mereka semua kan pegawai bioskop ini sendiri!

Mereka semua berpencar ke seluruh penjuru Teater dan duduk mendampingi masing-masing penonton. Tara sendiri didampingi oleh petugas yang menerima tiket masuknya tadi. Wajah cemas masih ada padanya. Dan petugas itu tak pernah lepas memandanginya. Tara jadi tidak bisa menikmati nontonnya kali ini. Dia merasa risih.

“Ini ada apa, mbak? Kok semua pegawainya nonton juga?” tanya Tara pada akhirnya.

“Teman mbak tadi mana? Sampai jam berapa keluarnya?” petugas itu malah balik bertanya. Dan dia menanyakan keberadaan Isna.

Tara sendiri tidak bisa menjawabnya. Kediamannya membuat wajah cemas petugas teater itu semakin jelas terlihat, meskipun dalam kegelapan.

Kecemasan ini membuat Tara semakin penasaran. Memangnya apa yang mereka ketahui dan mereka cemaskan dengan sahabatnya itu? Mengapa mereka begitu menantikannya?

“Memangnya ada apa dengan teman saya, mbak? Apakah akan terjadi sesuatu pada dia?” Tara jadi ikut-ikutan panik. Isna adalah sahabat akrabnya, lebih daripada Noe dan Maya. Tentunya Tara tidak mau hal buruk terjadi pada dirinya.

“Bukan mbak,” jawab petugas itu. “Tidak ada hal buruk yang akan menimpanya.”

“Lalu?” tanya Tara lagi. Dia ingin mengorek lebih dalam sumber kecemasan petugas itu. Dia membuat Tara tak mengerti. Petugas teater itu membuatnya penasaran. Tara tidak suka dengan hal ini.

“Maaf. Saya tidak bisa memberitahu,” katanya sambil memalingkan muka. Mulutnya langsung tertutup rapat. Dia sudah menularkan kecemasan itu pada Tara dan dia tidak mau bertanggung jawab. Kalau seperti ini keadaannya, Tara merasa harus mencari tahu jawabannya sendiri.

Dia pun berdiri dari tempat duduk dan melangkahi petugas teater itu. Namun lengan Tara dipegang erat olehnya. “Jangan pergi!” kata petugas teater. Dia mendorong Tara kembali ke tempat duduk.

“Lalu kenapa? Aku cemas dengan sahabatku. Apa aku tidak boleh tahu apa yang akan terjadi padanya?” Tara nyaris memekik.

Seketika itu juga seluruh penonton merasa terganggu karenanya. Tara pun terdiam dan kembali ke tempat duduk. Kali ini ganti Tara yang memegangi lengan petugas teater itu. Dia minta penjelasan atas semua yang tersirat di wajah cemas itu.

Petugas teater itu tampak memikirkan banyak hal. Dia seperti berada dalam keadaan ingin dan tidak ingin memberitahukan alasannya kepada Tara. Alasan atas kecemasannya. Dan akhirnya yang ia ucapkan, “Mbak hanya bisa menunggu teman mbak ke sini. Tak ada yang lain.”

Tak cukup memuaskan. Tara sudah lelah mendengarkannya.

“Tiga belas,” kata seorang penonton di depan Tara secara tiba-tiba. Perhatian Tara langsung mengarah padanya. “Jumlah yang pas!” katanya lagi.

Tiba-tiba lampu mati. Layar mati. Seluruh Teater 3 ditelan kegelapan yang membuat para gadis menjerit. Tara terhenyak dengan kejadian mengejutkan ini. Dan seketika itu juga muncul perasaan kacau dan tidak mengenakkan di sekelilingnya.

“Kok mati lampu sih?”

“Ah, sial!”

“Eh ada apa ini?”

Tara tak bisa beranjak dari tempat duduknya selagi tak ada cahaya yang tertangkap oleh matanya. Hawa ngeri yang mencekam serta merta meraba tengkuk Tara. Suasana di dalam bioskop ini menjadi dingin. Bukan karena dinginnya AC, tapi karena hal lain yang tidak biasa. Sesuatu yang membuat tidak nyaman dan membuat Tara ingin lekas pulang.

TAP! Lampu menyala. Dan mata Tara menangkap sesuatu yang ganjil di ruangan ini. Semua pegawai bioskop yang mendampingi penonton tadi menghilang, termasuk petugas teater di sebelah Tara. Di ruangan itu tinggal para penonton yang juga merasakan keterkejutan yang sama seperti Tara.

“Semuanya sudah dimulai,” kata orang di depan Tara tadi.

Bagaimana menurut teman-teman akan potongan adegan ini?

Sumber gambar: Mereka menghilang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s