Midnight (1) – Ditinggal Sendiri

Nonton Film

Nonton Film

Tara duduk sambil memandangi dua lembar tiket bioskop di tangannya. Tak salah lagi, kali ini dia mendapatkan tempat duduk paling nyaman, yaitu di tengah. Posisi paling pas untuk melihat, mendengar, dan menikmati sajian film berdurasi kurang lebih 120 menit itu. Satu tiket untuk sahabatnya, Isna, dan satu untuk dirinya sendiri.

Isna sedang membeli popcorn di kafetaria. Karena sebentar lagi film yang mereka pilih akan segera diputar, maka ini adalah saat yang tepat untuk membeli cemilan. Tara pikir tak akan pernah enak menikmati film tanpa mengunyah cemilan. Dan berhubung saat ini adalah ulang tahunnya, maka tak ada salahnya kalau dia minta hadiah dari sahabatnya itu.

“Anggap saja kalau ini adalah balasan atas hadiahmu di ulang tahunku kemarin,” ucap Isna sambil memberikan popcorn karamel kepada Tara.

“Thanks ya!” dengan senang hati Tara menerimanya.

Malam ini mereka memutuskan untuk menonton film. Tak ada rencana khusus sebenarnya dan tak ada film yang benar-benar ingin mereka lihat. Mereka hanya ingin merayakan hari pertama mereka bertemu dan menjadi sahabat. Sebenarnya masih ada dua lagi sahabat mereka yang lain. Namun rupanya mereka berdua sedang ada acara lain.

“Sayang sekali Noe dan Maya tidak bisa ikut,” ucap Tara sambil menunjukkan tiket bioskop mereka kepada Isna. Sesaat Isna menampakkan wajah girang karena mereka mendapatkan kursi di tengah, posisi strategis.

“Memangnya yang mau nonton malam nanti sedikit ya? Kok kamu gampang banget dapat di tengah,” tanya Isna seraya mengembalikan tiket itu.

“Iya. Sepi. Padahal kata Noe film ini banyak yang kepingin nonton,” Tara mengingat-ingat percakapannya siang tadi dengan Noe si penikmat film. Katanya, film thriller ini lain dari biasanya. Dan berhubung dirinya dan Isna adalah cewek yang kebal sama film horor, akhirnya mereka setuju saja untuk melihatnya malam ini.

Noe dan Maya memang bukan penikmat thriller layaknya Tara dan Isna. Namun mereka tidak akan pernah menolak ajakan untuk nonton di bioskop. Hanya saja kali ini mereka benar-benar tidak bisa ikut. Noe harus membantu orang tuanya melakukan persiapan untuk resepsi pernikahan kakaknya besok. Sementara Maya sedang dibebani deadline pekerjaan sampingannya sebagai penulis lepas. Alhasil, tinggal Tara dan Isna seorang yang akan merayakan hari jadi persahabatan mereka malam ini.

Waktu menunjukkan pukul 23.30. Tinggal beberapa menit lagi hingga Teater 3 dibuka. Mungkin saat ini para petugas bioskop sedang membersihkan tempat di dalam sana. Tara dan Isna hanya bisa menunggu, sama seperti penonton yang lain.

“Teater 3 sudah dibuka!” suara pengumuman mengundang beberapa orang yang sedang menunggu untuk berdiri dan mengantri di depan pintu Teater 3.

Tara dan Isna langsung lega karena mereka tak perlu lagi melakukan hal membosankan itu, menunggu. Mereka berdua pun memasang badan di barisan paling belakang.

“Eit, tunggu sebentar ya!” tiba-tiba Isna mendapatkan telepon. “Tolong bawain ini, Tara!” ucapnya sambil memberikan popcorn-nya. Isna keluar dari barisan sementara Tara terus melangkah maju seiring diperiksanya tiket para penonton di Teater 3.

Sementara tiket Tara dan Isna akan diterima oleh penjaga Teater 3, Isna masih menerima telepon.

“Tunggu teman saya dulu ya, mbak,” kata Tara kepada gadis penjaga itu. Tak lama kemudian Isna kembali dengan wajah sedikit canggung. Hal ini mengundang rasa penasaran dan kekecewaan Tara. “Ada apa?” Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Ini. Adikku minta jemput di stasiun. Bagaimana ini?” tanya Isna.

Meskipun Tara merasa sayang akan semua waktunya yang telah terbuang untuk menunggu film ini, akhirnya ia hanya bisa mengatakan, “Ya kalau begitu kita batalin saja acara nonton ini.”

“Jangan!” Isna tiba-tiba menyahut. “Kamu lanjut aja!”

“Tapi apa gunanya coba, merayakan hari penting persahabatan kita sendirian? Nggak asyik kan!” Tara tak bisa menyembunyikan kecewanya.

“Ya tapi gimana lagi dong?” Isna juga menyesal. “Kamu lanjut aja! Aku cepet kok. Habis jemput adikku, aku langsung ke sini. Sini tiketku!”

Tara pun menyobek tiketnya dan memberikan bagian Isna. Mereka berdua pun berpisah. Isna berlari secepat kilat menjemput adiknya, karena dia tak mau membuat sahabatnya menunggu. Sementara dengan lesu, Tara kembali membawa tiketnya kepada petugas itu.

“Lho, temannya tadi kemana, mbak?” tanya petugas itu. Bukan dengan nada yang sok akrab, tapi dengan nada yang sangat kehilangan. Nada cemas.

“Mau jemput adiknya,” jawab Tara tak bertenaga. Dia benar-benar tidak suka ditinggal sendirian seperti ini.

“Aduh, gimana dong?” petugas itu seperti sangat menyayangkan kejadian ini. Namun lebih dari itu, dia cemas. Tara mendapati petugas itu bertukar pandang dengan temannya yang lain. Mereka berdua menunjukkan ekspresi yang sama. Cemas.

“Ada apa, mbak?” tanya Tara tidak mengerti. “Nanti teman saya kembali kok.”

Sedikit perasaan lega muncul di kedua petugas itu. Lalu salah satu di antaranya bertanya, “Tapi benar kan mbak? Nanti temannya itu balik lagi?” Pengulangan pertanyaan untuk kepastian.

“Iya,” Tara tersenyum. “Kenapa mbak? Kalau penontonnya kurang dimarahi sama bosnya?” Kedua petugas itu hanya bisa tersenyum sungkan. Tara pun berjalan memasuki Teater 3. Namun ia masih merasakan hawa kecemasan dari kedua petugas itu. Apakah akan terjadi sesuatu pada Isna? Mengapa mereka sangat mengkhawatirkan Isna?

Bagaimana menurut teman-teman akan potongan adegan ini?

Sumber gambar: Nonton film

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s