Tragedi Tunjungan Plaza Surabaya (3) – Di Bawah Sana

Di Bawah

Di Bawah Sana

Suara panik pengunjung dan alarm yang tak henti-hentinya berbunyi semakin meredam pendengaran Gagas akan suara Vina. Dia melawan arus manusia-manusia yang tengah berlari menyelamatkan diri. Sebentar saja, Gagas langsung tergulingkan oleh seseorang berbadan besar. Perutnya tergebuk kepalan tangannya secara tidak sengaja, dan pria itu seolah tak merasakan apa-apa.

Merasa terancam bahaya jika berada di tengah, Gagas langsung melepaskan dirinya untuk beralih ke pinggiran. Nyaris tak bisa bernafas, Gagas memegangi perutnya yang terasa sakit melilit hingga ke ulu hati. Sambil memandangi kepanikan beratus-ratus manusia di bibir lantai, tiba-tiba Gagas mendapati puluhan orang jatuh dari lantai di atasnya, tepat di atas kepalanya. Rupanya pagar pembatas bibir lantai patah karena tidak kuat menahan desakan begitu banyak manusia.

Gagas tertegun. Tubuh-tubuh itu terjun bebas dan kepalanya pecah tatkala menghantam lantai yang begitu keras berporselain. Teriakan-teriakan mereka teredam bunyi alarm. Dan lebih menyesakkan lagi, Gagas mendapati tubuh Vina sudah tergeletak di bawah. Sejak kapan Vina jatuh?

“VINA!” teriaknya penuh dengan keterkejutan.

Tapi gadis itu belum mati. Gagas masih mendapati dia menggeliat tertahan karena merasakan rasa sakit yang menjalari sekujur tubuhnya. Beruntung Vina jatuh di atas matras, namun pasti tetap terasa sakit.

Mendengar teriakan Gagas yang cukup keras, Vina pun mengarahkan wajah kesakitannya. Dengan tatapan mata semacam itu, Gagas tahu apa yang ingin dikatakan oleh kekasihnya itu, “Tolong aku, Gas!”

“Aku segera ke situ!” sahut Gagas.

PYAR!

Namun belum sempat dia beranjak dari tempatnya, pagar pembatas  lainnya di  lantai bawah Gagas pecah. Kali ini tidak hanya manusia yang jatuh, sebuah meja etalase tampak berguling bersama beberapa jiwa yang berteriak histeris menghadapi kematian. Mendapati peristiwa itu berada dalam satu garis lurus dengan posisi tergeletaknya Vina, Gagas hanya bisa tertegun dan merasakan sakit yang tengah mengiris kalbunya. Sakit yang tak tertahankan.

Bagaimana menurut teman-teman akan potongan adegan ini?

Sumber gambar: Di bawah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s